Kecerdasan Buatan di Jepang Diklaim Membantu Tingkatkan Mutu Pendidikan Anak

Apakah AI di Jepang dapat mempermudah kehidupan atau menimbulkan gangguan?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 22 Oktober 2025, 20:30 WIB
Ilustrasi Artificial Intelligence. (Dok. tungnguyen0905/Pixabay)

Liputan6.com, Tokyo - Kecanggihan kecerdasan buatan masa kini benar-benar memudahkan pekerjaan manusia yang menggunakan beragam teknologi.

Di Jepang, AI menjadi guru pendamping untuk memberikan pembelajaran kepada siswa yang berisiko bolos sekaligus melestarikan kisah sejarah penting lainnya.

Pada tahun 2023, Jepang meluncurkan program percontohan untuk menguji Artificial Intelligence (AI).

Program ini bertujuan untuk memprediksi siswa yang berisiko membolos, dan memberikan dukungan pencegahan sejak dini di Kota Toda, Prefektur Saitama, dekat Tokyo, dilansir dari Japan Today, Rabu (22/10/2025).

Inisiatif ini dimulai dengan melatih AI menggunakan berbagai data seperti riwayat ketidakhadiran, catatan pemeriksaan kesehatan, dan hasil survei mengenai akademik siswa.

Tidak hanya itu, pemerintah Kota Toda juga mengeluarkan pedoman etika yang melarang segala bentuk diskriminasi atau perlakuan tidak adil berdasarkan hasil analisis AI.

Cara Kerja AI Mendeteksi Siswa yang Berisiko Membolos

Nama-nama siswa yang ada di dalam layar akan memiliki warnanya masing-masing, menunjukkan tingkat siapa saja siswa yang berisiko membolos. Tandanya dapat berwarna merah, merah muda, oranye, atau kuning.

Untuk menentukan tingkat risiko tersebut, AI akan menganalisis beragam informasi pribadi mereka terlebih dahulu.

Isinya dapat berupa kehadiran, keterlambatan, hasil survei akademik, catatan pemeriksaan kesehatan, kunjungan ke ruang perawat, hingga catatan perundungan.

Uji coba ini juga telah melewati sistem yang mempelajari pola dari siswa yang sebelumnya tidak hadir.

Kemudian menggunakannya untuk membuat prediksi baru dan menandai 1.193 siswa sebagai berisiko.

Dari jumlah tersebut, sekolah memprioritaskan dukungan bagi 265 siswa yang dinilai memiliki risiko yang tinggi.

Sehingga AI mengidentifikasi 10 siswa yang membutuhkan bantuan tambahan di salah satu sekolah dasar setelah sistem peringatan diterapkan.

Pro dan Kontra Penggunaan AI

Meskipun AI dapat melakukan analisa secara cepat, Profesor Makiko Nakamuro dari Universitas Keio, anggota dewan penasihat pendidikan Kota Toda, mengingatkan untuk tidak terlalu bergantung pada teknologi.

Para ahli menekankan bahwa AI harus dilengkapi dengan penilaian manusia, dan harus melalui penjelasan yang jelas kepada setiap pengguna.

Namun, berbeda dengan Yoichi Matsuyama, CEO Equmenopolis dan peneliti tamu di Universitas Waseda, yang mengatakan bahwa sistem ini memecahkan tantangan yang dihadapi guru.

"Sulit bagi seorang guru yang hanyalah manusia biasa untuk berbicara dengan setiap siswa. Sehingga AI memungkinkan siswa berlatih sesuai dengan tingkat kemampuan mereka masing-masing," jelasnya.

Bagi mereka yang mendukung ini merasa jika kelemahan siswa Jepang adalah kepercayaan untuk berbicara dalam bahasa Inggris.

Sehingga penggunaan AI dapat membantu mereka melatih pengucapan dan menambah kosakata dari berbagai cerita.

Hal ini akhirnya menarik perhatian pemerintah Prefektur Kanagawa untuk membantu pelestarian ingatan, yang melakukan uji coba pada "Sistem Pendongeng AI" di Aula Peringatan Perdamaian Kanagawa di Yokohama.

Pelestarian Sejarah Melalui AI

Sistem Pendongeng yang dibuat AI memungkinkan pengunjung untuk mengajukan pertanyaan dan mendengarkan rekaman tanggapan dari penyintas bom atom.

Kesaksian Hiroshi Nishioka, penyintas Nagasaki (93), yang memiliki 130 topik mendapat jawaban yang paling relevan oleh AI.

Dalam sebuah demonstrasi, siswa sekolah dasar bertanya, "Bukankah itu menakutkan? Bagaimana kehidupan selama perang?"

Lalu AI menjawab dengan kata-kata dan klip video Nishioka sendiri. seorang peserta (11) mengatakan bahwa dirinya terkejut saat mendengar rekaman tersebut, seolah ia sedang berbicara dengan orang sungguhan.

Dengan demikian, penggunaan AI di Jepang tidak hanya menerapkannya pada pendidikan formal, tetapi juga dapat digunakan untuk melestarikan sejarah dan pengalaman para penyintas.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya