Liputan6.com, Jakarta Bursa saham Asia-Pasifik dibuka lebih tinggi pada hari ini Senin 20 Oktober 2025 karena investor menunggu serangkaian data ekonomi yang keluar dari Tiongkok.
Dikutip dari CNBC, Senin (20/10/2025), analis memperkirakan ekonomi China melambat pada kuartal ketiga, meramalkan produk domestik bruto tumbuh 4,8% pada periode Juli hingga September dari tahun lalu, melambat dari 5,2% pada kuartal sebelumnya .
Advertisement
Indeks saham Nikkei 225 Jepang naik 1,6%, sementara saham Topix naik 1,43% saat pembukaan. Kospi Korea Selatan naik 0,36% setelah mencapai rekor tertinggi untuk hari ketiga berturut-turut Jumat lalu, sedangkan Kosdaq berkapitalisasi kecil naik 1,13%.
Indeks Hang Seng Hong KongHarga berjangka berada pada 25.863, lebih tinggi dibandingkan penutupan HSI pada hari Jumat yang sebesar 25.247,1.
S&P/ASX 200 Australia mengawali hari dengan 0,1% lebih rendah.
Pada Jumat pekan lalu di AS, tiga indeks utama ditutup lebih tinggi.
Dow Jones Industrial Average naik pada hari Jumat karena para pedagang mencerna nada melunak AS dalam pembicaraan perdagangannya dengan China dan mencoba melupakan kekhawatiran kredit yang memicu aksi jual besar-besaran di bank-bank regional pada hari Kamis di Amerika Serikat.
Dow Jones ditutup menguat 238,37 poin, atau 0,52%, ke level 46.190,61. S&P 500 ditutup menguat 0,53% ke level 6.664,01, sementara Nasdaq Composite menguat 0,52% ke level 22.679,98.
Alarm Wall Street: Kredit Macet Bank Regional Picu Kekhawatiran Baru
Sebelumnya, Wall Street sedang dilanda kecemasan. Kesehatan bank-bank regional di Amerika Serikat (AS) dipertanyakan setelah beberapa di antaranya mencatatkan penghapusan kredit macet dari pinjaman komersial dalam dua minggu terakhir.
Kejadian ini sontak membuat para investor bertanya-tanya: mungkinkah ada kabar buruk lain yang mengintai?
Bank seperti Zions Bank, Western Alliance Bank, dan bahkan bank investasi Jefferies mengejutkan pasar dengan mengungkapkan berbagai investasi buruk dalam pembukuan mereka. Akibatnya, saham mereka anjlok tajam pada minggu itu.
Kekhawatiran ini semakin diperparah oleh pernyataan CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, yang memperingatkan bahwa masih banyak masalah yang mungkin akan muncul pada bank-bank dengan potensi kredit bermasalah.
"Ketika Anda melihat satu kecoak, kemungkinan besar ada lebih banyak lagi," ujar Dimon kepada investor dan wartawan pada hari Selasa, saat JPMorgan melaporkan hasil keuangannya, dikutip dari ABC News, Minggu (19/10/2025).
Sebagai cerminan kegelisahan ini, Indeks KBW Bank—sebuah tolok ukur bank yang diikuti investor—telah turun 7% pada bulan itu.
Sinyal-Sinyal Bahaya Lain
Ada juga tanda-tanda tekanan lain. Data dari Federal Reserve menunjukkan bahwa bank-bank telah menggunakan fasilitas overnight "repo" bank sentral selama dua malam berturut-turut. Ini adalah tindakan yang tidak perlu dilakukan oleh bank sejak pandemi COVID-19.
Fasilitas repo ini memungkinkan bank menukar sekuritas yang sangat likuid (seperti obligasi hipotek dan treasuries) dengan uang tunai untuk menutupi kekurangan kas jangka pendek.
Anjloknya saham bank-bank tersebut memiliki alasan spesifik:
- Saham Zions Bancorp tenggelam setelah bank itu menghapus kerugian $50 juta dari pinjaman komersial dan industri.
- Western Alliance mengalami penurunan setelah bank tersebut diduga menjadi korban penipuan oleh entitas yang dikenal sebagai Cantor Group V LLC.
- Sementara itu, Jefferies mengumumkan bahwa mereka memegang $5,9 miliar utang dari perusahaan suku cadang mobil yang bangkrut, First Brands.
Meskipun saham ketiga bank ini sedikit pulih menjelang akhir pekan, kerugian telah terungkap.
Bahkan bank yang lebih besar tidak luput. Beberapa bank Wall Street juga mengungkapkan kerugian dari kebangkrutan Tricolor, perusahaan dealer mobil subprime yang kolaps bulan lalu.
Fifth Third Bank, bank regional yang lebih besar, mencatat kerugian USD 178 juta dari kebangkrutan Tricolor.