Cerita Kain-Kain Indah dari Pameran Wastra Nusantara di Cikini 82

Cikini 82 merupakan bekas kediaman Menteri Luar Negeri pertama Indonesia Ahmad Subarjo yang kini difungsikan sebagai function hall yang bisa disewa untuk berbagai acara, termasuk pameran wastra nusantara karya kolektor.

oleh Rafa Dahayu AmandyaDiterbitkan 20 Oktober 2025, 07:00 WIB
Ruang pameran di sebelah kanan gedung, menampilkan dua kain bermotif bunga. (dok. Liputan6.com/Rafa Dahayu Amandya)

Liputan6.com, Jakarta - Bangunan bergaya kolonial yang merupakan bekas kediaman Menteri Luar Negeri pertama Indonesia, Ahmad Soebardjo, di Jalan Cikini 82, Jakarta Pusat, kembali dibuka untuk umum. Kali ini, sebuah pameran wastra nusantara bertajuk Rangkaian Bunga dan Budaya pada Wastra Nusantara' digelar secara terbatas, pada 11--17 Oktober 2025.

Total ada 50 kain-kain indah yang dipajang, seluruhnya milik Quoriena Ginting, seorang kolektor sekaligus penulis buku Nusawastra Silang Budaya. Lifestyle Liputan6.com berkesempatan melihat langsung koleksinya yang meliputi batik pesisir, selendang sulam, songket, hingga tenun ikat.

Sesuai tema pameran, motif bunga menjadi benang merah dari setiap kain yang dipajang. Tema itu dipilih sebagai simbol keindahan, kesuburan, dan kehidupan masyarakat di Nusantara.

Dari puluhan wastra yang dipamerkan, kain grinsing -tenun ikat khas Karangasem, Bali- lah yang menurut sang kolektor paling berbekas di hati.  Dibandingkan kain lainnya, gringsing merupakan kain paling kecil dari segi ukuran karena mesin tenun aslinya juga kecil.

"Ini (gringsing) adalah kain adat yang hanya dipakai ketika mereka melakukan upacara adat. Jadi mereka benar-benar menenunnya ini untuk mereka pakai, bukan untuk dijual. Jadi nggak pasti susah keluar. Maksudnya keluar dari daerah desa adatnya itu," tutur Quoriena dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, (15/10/2025).

 

Konsisten Gelar Pameran Wastra

Quoriena Ginting, kolektor kain dan penyelenggara pameran wastra bertajuk "Rangkaian Bunga dan Budaya pada Wastra Nusantara". (dok. Liputan6.com/Rafa Dahayu Amandya)

Pameran tersebut merupakan pameran tahunan ke-10 yang digelar Quoriena. Tujuannya masih sama, yakni membagikan keindahan dan kekayaan Nusantara serta menginspirasi kolektor di Indonesia untuk aktif berbagi pengetahuan dan koleksi mereka kepada masyarakat luas.

"Memang tujuan awal saya adalah men-sharing. Saya nggak mau kesenangan saya, kecintaan saya, pengetahuan saya, kebahagiaan saya hanya untuk diri saya sendiri, apalah artinya ya," katanya. 

Hanya saja, dibandingkan pameran sebelumnya yang digelar di 75 Gallery, Jakarta Selatan, jumlah koleksi yang dihadirkan jauh lebih sedikit. Saat itu, ia menampilan 180 kain koleksinya kepada publik. Kali ini, dengan koleksi yang lebih sedikit, ia ingin pengunjung bisa menikmati setiap detail kain dan memahami konteks budaya di baliknya. 

Pengalaman dibuat paripurna dengan menempatkan bunga-bunga yang harus sejak dari pintu masuk pameran. Wewangian itu membuat saya merasa lebih tenang saat mendengarkan penjelasan soal kain.

2 Dekade Dedikasi untuk Wastra Nusantara

Quoriena Ginting, kolektor kain dan penyelenggara pameran wastra bertajuk "Rangkaian Bunga dan Budaya pada Wastra Nusantara". (dok. Liputan6.com/Rafa Dahayu Amandya)

Selama 20 tahun Quoriena menekuni dunia wastra. Kecintaannya terhadap kain-kain Nusantara berawal dari membeli kain 'kompeni' dengan harga terjangkau. Dari situ, ia mulai belajar secara otodidak—membaca buku tekstil, berkunjung ke museum, dan mengulik kain langsung di berbagai daerah.

Bersama sang suami, Daniel Ginting, ia berkeliling Indonesia dan bertemu para seniman kain seperti Heni Agli dari Padang, Siti Maemona dari Madura, Dudung Alie Syahbana dari Pekalongan, hingga Tati Srihata dari Solo. Setiap pertemuan memberi Quoriena pemahaman baru tentang makna kain sebagai cermin budaya dan perjalanan hidup masyarakat.

Dalam perjalanannya, Quoriena menemukan bahwa wastra Indonesia merupakan warisan tekstil yang kaya akan narasi sejarah dan teknik pembuatan yang rumit. Kesadarannya ini juga didorong oleh kepunahan wastra terbaik di Indonesia, seperti kain Kapal Lampung atau kain ikat Iban 

 

Museum Berjalan Untuk Generasi Mendatang

Suasana ruang depan gedung Cikini 82 pada pameran "Rangkaian Bunga dan Budaya pada Wastra Nusantara". (dok. Liputan6.com/Rafa Dahayu Amandya)

Perjalanannya mengoleksi kain kemudian dituangkan lewat buku Nusawastra Silang Budaya yang diterbitkan pada 2016. Buku itu memuat cerita 245 kain dari koleksinya juga ditulis dengan gaya storytelling, bukan bahasa teoritis. Ini dilakukan agar pembaca awam pun dapat menikmati dan memahami filosofi kain Indonesia.

"Bedanya buku ini dengan buku-buku tekstil yang lain adalah, saya melihat buku lain itu bahasanya teoritis sekali. Orang-orang yang baca akan bosan itu. Nah, di sini saya tulis dengan gaya bahasa seperti bercerita agar mudah dibaca," jelas Quoriena.

Sembilan tahun berlalu, ia berharap koleksi kainnya tidak hanya menjadi benda mati tanpa arti. Pameran pun digelar sebagai bentuk 'tanggung jawab moralnya' sebagai seorang kolektor wastra pusaka.

"Buku dan tiap pameran dapat menjadi ‘museum berjalan’ jika secara konsisten dilakukan untuk mengedukasi generasi penerus tentang seni wastra dan budaya Nusantara. Ini juga sebagai panggilan bagi para pelaku kesenian untuk menjadi pelestari aktif, bukan sekadar pemilik," ujarnya.

Infografis Jenis-Jenis Wastra Indonesia.  (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya