Self-Care vs Achievement: Ini Alasan CEO Frustrasi Tak Bisa Rekrut Beda Generasi

Studi terbaru mengungkap jurang besar antara nilai yang dijunjung Gen Z, seperti self-care, keaslian, dan kepedulian sosial—dengan harapan perekrut yang mengutamakan pencapaian, kerja keras, dan pembelajaran.

oleh Satria Aji SaputraDiterbitkan 17 Oktober 2025, 06:00 WIB
5 Hal Penting yang Harus Dilakukan sebelum Interview

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi dari Becoming You Labs mengungkap perbedaan mencolok antara nilai hidup Generasi Z dan nilai yang dicari manajer perekrutan. Dengan menggunakan alat penilaian The Values Bridge terhadap lebih dari 77.000 responden dan survei terhadap 2.100 perekrut lintas industri, ditemukan bahwa kedua kelompok hampir tidak memiliki kesamaan pandangan.

Gen Z menjunjung tinggi perawatan diri, keaslian, dan kepedulian terhadap sesama, sementara para perekrut lebih menghargai pencapaian, pembelajaran, dan etos kerja tinggi. Hanya 2 persen Gen Z yang memiliki prioritas serupa dengan manajer mereka.

Ketimpangan ini menciptakan frustrasi di dua sisi. Para eksekutif mengeluhkan sulitnya merekrut talenta muda yang “kurang mau bekerja keras”, sedangkan Gen Z merasa sistem kerja lama tidak lagi relevan.

“Kenapa kami harus hidup dengan nilai Boomer kalau nilai-nilai mereka merusak dunia?” ujar seorang lulusan baru di TikTok, dikutip dari CNBC, Jumat (17/10/2025).

Penulis studi menilai benturan ini sudah lama terjadi dan kini diperparah oleh ancaman AI yang mulai mengambil alih pekerjaan level awal. Gen Z dihadapkan pada dilema: mempertahankan nilai-nilai pribadi atau menyesuaikan diri demi bertahan di dunia kerja. Tantangannya  adalah menemukan titik tengah — bekerja dengan makna tanpa mengorbankan keseimbangan hidup yang mereka anggap esensial.

Berikut saran bagi mayoritas Gen Z yang merasa berada di posisi sulit:

1. Berdamai dengan nilai terhadap kekayaan

Jarang ada orang yang jujur pada dirinya sendiri tentang hubungannya dengan uang karena ada stigma terhadap keinginan menjadi kaya.. Foto: Gemini

Saat mengajar mata kuliah “Becoming You” di NYU Stern School of Business, pengajar tidak membiarkan mahasiswa melaporkan sendiri keinginan mereka terhadap kekayaan. Alasannya sederhana: jarang ada orang yang jujur pada dirinya sendiri tentang hubungannya dengan uang karena ada stigma terhadap keinginan menjadi kaya.

Namun, keputusan karier tidak akan bertahan lama jika tidak jujur soal angka dalam pikiran — jumlah uang yang dianggap “cukup.” Bisa saja seperti kata seorang mahasiswa, “satu liburan bagus setahun,” atau seperti pengakuan lainnya, “satu helikopter pribadi per anak.”

Menurut riset menunjukkan, Gen Z terbagi sebagai berikut:

  • 42 persen Gen Z menempatkan kemakmuran sebagai lima nilai teratas
  • 35 persen menganggapnya sebagai nilai sedang
  • 23 persen menaruhnya di lima terbawah.

Jika sudah tahu posisi kekayaan dalam nilai diri, mereka bisa memutuskan lebih bijak apakah perlu menyesuaikan diri ke kelompok 2 persen atau tidak. Sebab, meskipun self-care jadi nilai utama, jika kekayaan ada tak jauh di bawahnya, salah satu harus dikompromikan. Sebaliknya, jika kekayaan ada di peringkat 10 atau bahkan 16, pilihan dunia kerja akan jauh lebih terbuka.

2. Bergabung atau bangun perusahaan yang selaras dengan nilai pribadi

Ilustrasi bekerja, bercanda bersama teman di kantor. (Photo by Brooke Cagle on Unsplash)

 

Jika tidak ingin menekan nilai diri, strategi terbaik adalah mencari perusahaan yang mendukung nilai yang dimiliki.

Perhatikan daftar-daftar perusahaan yang dikabarkan mendukung kesejahteraan karyawan, keaslian, dan kontribusi sosial. Namun, perusahaan-perusahaan ini biasanya menjadi magnet pelamar. Bila melamar ke sana, pastikan surat lamaran dan CV dibuat dengan sangat baik.

Alternatifnya adalah kewirausahaan. Sebagai pendiri perusahaan dua kali, penulis mengakui betapa melelahkannya membangun usaha. Tapi jika punya ide tepat dengan pasar yang sesuai dan stamina kuat, menciptakan budaya kerja sendiri adalah cara paling pasti untuk hidup selaras dengan nilai pribadi.

 

 

3. Buat kesepakatan jangka panjang dengan diri sendiri

Jarang disarankan untuk mencoba mengubah nilai diri. Sama seperti mengubah kepribadian — biasanya tidak bertahan. Namun, jika mendapatkan pekerjaan adalah prioritas mendesak dan kekayaan adalah tujuan jangka panjang, seseorang bisa memilih menekan keinginan akan kesejahteraan, keseimbangan, dan ekspresi diri untuk sementara waktu, dan menggantinya dengan pencapaian serta etos kerja.

Artinya, tiru gaya Boomer dan ucapkan selamat datang pada penundaan kepuasan.

Namun, jika mengambil strategi ini, jangan setengah-setengah atau terus mengubah pikiran setiap hari. Sebaliknya, komitmenlah. Dan komitmen cukup lama untuk melihat hasilnya. Penulis menyarankan satu dekade penuh. Kesuksesan instan adalah mitos, bahkan bagi mereka yang berada di 2 persen.

Seberapa jauh seseorang hidup sesuai dengan nilainya adalah salah satu pilihan paling pribadi dan berdampak besar dalam hidup. Pilihan ini bisa membentuk pendapatan, rasa tujuan, dan arah karier. Hadapilah bukan dengan panik atau pasrah, tetapi dengan kebijaksanaan dari masa lalu dan masa depan yang panjang.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya