Akhir Polemik di SMA 1 Cimarga: Kepala Sekolah Dinonaktifkan, Siswa Merokok Diberi Sanksi

Konflik antara Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga, DP dengan murid berinisial ILP (17) akhirnya berakhir. Kepsek SMAN 1 Cimarga dan siswa tersebut sama-sama disanksi.

oleh Yandhi DeslatamaDiterbitkan 15 Oktober 2025, 15:02 WIB
Foto Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga. (Sumber foto: laman SMAN 1 Cimarga).

Liputan6.com, Jakarta - Kepala sekolah (Kepsek) SMAN 1 Cimarga, Lebak, Banten berinisial DP dinonaktifkan usai diduga menampar siswa dengan murid berinisial ILP (17) karena ketahuan merokok. Sementara, siswa merokok hanya diberi sanksi teguran oleh guru Bimbingan Konseling (BK).

Orang tua murid yang merokok di lingkungan sekolah juga dipanggil dan diberi penjelasan oleh Guru BK SMAN 1 Cimarga mengenai pelanggaran yang dibuat sang anak.

"Untuk siswa tetap ada sanksi, yaitu teguran. Guru BK sudah menangani dan orang tua juga sudah menerima. Jadi siswa tetap diberi pembinaan karena kesalahannya merokok," kata Kabid SMA Disdikbud Banten Adang Abdurrahman, Rabu (15/10/2025).

Adang sudah bertemu dengan murid dan orang tuanya. Mereka mengakui kesalahan yang diperbuat sang anak. Namun di sisi lain, keduanya tidak terima ada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Kepsek SMAN 1 Cimarga.

"Siswa yang bersangkutan tetap diberikan sanksi. Saya sudah bertemu dengan siswa dan orang tuanya. Mereka menyadari bahwa perbuatannya yaitu merokok di sekolah adalah pelanggaran," terangnya.

Kasus Kepsek Ditangani Dinas Pendidikan

Di sisi lain, kasus Kepsek SMAN 1 Cimarga ditangani terpisah oleh Disdikbud Banten. Pemerintah beralasan tidak ada pembenaran kekerasan terjadi di lingkungan sekolah.

Menurut Adang, siswa beserta orang tuanya yang melanggar peraturan seperti merokok sekolah harus dipanggil dulu ke ruangan BK kemudian diberi penjelasan kesalahan setelah itu diberi hukuman.

Pemprov Banten mencontohkan, ada sekolah yang menerapkan poin bagi siswa yang melakukan kesalahan. Jika sudah mendapat nilai tertentu, baru diberi hukuman.

"Cara yang baik adalah dengan memanggil siswa ke ruang khusus, memberikan penjelasan, dan bila perlu memanggil orang tua. Di beberapa sekolah juga diterapkan sistem poin. Jika poin sudah terkumpul banyak, baru ada sanksi yang lebih berat," jelasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya