Kewalahan mengamankan aksi menolak kenaikan harga BBM di Ternate, Maluku Utara, polisi melibatkan masyarakat adat Kesultanan Ternate untuk menghadapi para mahasiswa. Akibatnya 5 mahasiswa mengalami luka-luka, termasuk 2 wanita yang diamuk masyarakat adat.
Dalam tayangan Liputan 6 SCTV, Jumat dinihari (21/6/2013), beberapa mahasiswa yang lari tungganglanggang keluar dari kampus langsung diserbu masyarakat adat Ternate. Seorang mahasiswa nyaris pingsan setelah dipukuli. Bahkan seorang wanita histeris ketakutan karena diserbu masyarakat adat Ternate yang dibekali berbagai senjata.
Advertisement
Masyarakat adat Ternate ini mengaku dilibatkan polisi dalam menghadapi pedemo. Karena itu, mereka pun leluasa memporak-porandakan kampus Universitas Khairun.
Mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan dan tidak ikut berdemo, tak luput jadi sasaran amuk masyarakat adat. Bahkan seorang mahasiswa nyaris ditusuk lantaran tak kuat berlari menghindar dari amuk massa.
Entah apa maksud polisi membenturkan sesama warga sipil dalam menyikapi unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM tersebut. Terlebih saat bentrokan berlangsung, tak ada satu pun polisi terlihat di lokasi.
Padahal sejumlah mahasiswa sudah menjadi korban penembakan polisi saat berdemo pada Selasa 18 Juni lalu. Bahkan seorang korban penembakan bernama Mirsal Salim harus dirujuk ke Jakarta untuk menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di pinggulnya.
Mirsal dirujuk ke Jakarta lantaran pihak RSUD Chasan Busori, Ternate belum memilki peralatan lengkap untuk mengobati dirinya.
Sedangkan 5 korban penembakan lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit yang sama. Kondisi mereka sudah mulai stabil setelah menjalani operasi pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di kaki mereka. (Ali/Frd)