Cerita Sukses Petani Muda Sukabumi Raup Untung Besar dari Budidaya Edamame

Pemuda di Sukabumi membuktikan menjadi petani bisa sukses. Indra Risandi merintis budidaya edamame sejak tahun 2021.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 14 Oktober 2025, 17:40 WIB
Petani edamame di Sukabumi

Liputan6.com, Jakarta Tren cemilan sehat seperti kacang edamame telah membuka peluang ladang cuan baru bagi para petani, termasuk dari kalangan milenial.

Rasanya yang gurih dan manis, juga menjadikan edamame pilihan menu populer di restoran dan kafe.

Di Kabupaten Sukabumi, budidaya edamame telah berkembang di beberapa lokasi. Salah satu contoh sukses terletak di Desa Undrus Binangun, Kecamatan Kadudampit, yang dikelola oleh Kelompok Tani Langit Firdaus.

Indra Risandi (27), perwakilan dari kelompok tani tersebut, menjelaskan bahwa mereka melihat peluang pasar yang besar dan belum tergarap maksimal sebagai pemicu untuk memulai budidaya edamame. Inisiatif ini dimulai sejak tahun 2021.

Mulanya, hanya 10 kilogram bibit yang didistribusikan kepada sesama petani. Seiring waktu dan proses panjang, budidaya bibit pun membuahkan hasil.

"Kami berupaya agar hanya perlu membeli bibit sekali saja. Hingga tahun 2025 ini, kami berhasil membudidayakan bibit secara mandiri dari sebagian hasil panen yang sudah matang," terang Indra, Selasa (14/10/2025).

Lahan seluas tiga hektare dialokasikan untuk edamame dan berbagai jenis sayuran. Dengan mengaplikasikan sistem tanam klaster, kelompok tani ini mampu melakukan panen edamame setiap dua minggu sekali. Rata-rata hasil panen per periode berkisar antara 200 hingga 700 kilogram.

Indra menambahkan, meskipun waktu panen normalnya adalah tiga bulan sekali, sistem klaster memungkinkan penanaman dan pemanenan dilakukan secara bergantian, sehingga frekuensi panen bisa ditingkatkan. Target mereka selanjutnya adalah mencapai panen mingguan.

Edamame yang ditanam di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut ini diklaim memiliki kualitas unggul, baik dari segi bobot maupun rasa.

"Ada perbedaan kualitas, bobotnya lebih besar, dan rasanya lebih manis. Kami berasumsi bahwa semakin baik kualitas tanah di dataran tinggi, semakin optimal pertumbuhan edamamenya," ungkapnya.

Menurut Indra, budidaya edamame relatif mudah, sama seperti menanam tanaman lainnya.

Mereka berkomitmen penuh pada metode pertanian organik, tidak menggunakan pestisida maupun pupuk kimia.

"Semua proses budidaya, dari awal hingga akhir, menggunakan prosedur organik. Kami membuat kompos, POC (Pupuk Organik Cair), bahkan pengusir hama pun kami racik dari bahan-bahan organik," kata dia.

Melihat permintaan pasar yang tinggi namun pasokan yang masih minim, Indra turut mengajak generasi muda (Gen Z) untuk terlibat dalam proses panen.

Tujuannya adalah agar mereka dapat menghargai perjalanan komoditas, dari tanah hingga tersaji di meja makan.

"Ternyata, ketika kita mampu mengolah, mengemas dengan baik, dan menjual sendiri, dampaknya secara ekonomi sangat positif. Generasi muda kini mulai menyadari potensi ini, apalagi dengan memanfaatkan media sosial untuk memperluas akses pasar," ungkap Indra.

Ekspansi Produk dan Keuntungan

petani edamame di Sukabumi

Pasar edamame dinilai masih sangat terbuka. Komoditas ini tidak hanya diminati untuk program diet atau kesehatan, tetapi juga bisa diolah menjadi berbagai produk lain.

"Edamame bisa diolah menjadi berbagai macam varian, bukan sekadar direbus. Misalnya, dibuat garlic chili oil. Varian baru ini laris di pasaran, menjadikannya pilihan camilan yang populer," katanya.

Saat ini, harga jual edamame panen mereka dipatok stabil di angka Rp 30.000,00 per kilogram. Penjualan mereka mencakup Sukabumi dan kota-kota lain, seperti Bogor.

Berkat pengaturan rantai pasok yang baik, harga ini tidak rentan terhadap inflasi. Secara kotor, Kelompok Tani Langit Firdaus mampu meraup omzet rata-rata bulanan hingga Rp 15 juta dari budidaya edamame.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya