Liputan6.com, Jakarta: Rumah di Jalan Bangka I/7B Pela Mampang, Jakarta Selatan, itu tak pernah sepi. Beberapa perempuan duduk dan tekun memegang jarum dan kain. Sejumlah baju dengan hiasan kerut terpajang rapi. Begitulah pemandangan yang biasa dilihat di hunian yang menjadi ruang pamer kerajinan smocking dan embroidery.
Adalah Hesty Djatmiko yang mengelola bisnis rumahan itu. Memang tak banyak yang menekuni kerajinan tangan asal Inggris ini. Keahlian menjahit dan menyulam itu diterima perempuan berjilbab ini dari ibunya. Namun, baru tujuh tahun terakhir dia memberanikan diri untuk terjun total di bisnis yang belum banyak disentuh.
Mula-mula Hesty mempromosikan produk buatan tangannya melalui sejumlah pameran dan bazar. Umumnya dagangannya dilirik kaum ekspatriat atau warga asing yang bekerja di Indonesia. Dari merekalah pesanan berdatangan. Order dapat dilakukan langsung di pameran atau bertandang ke ruang pamernya. Bisa juga memesan lewat telepon 021-7179024 dan 0818128312. Belakangan, selain memasok pesanan untuk pelanggan lokal, Hesty juga telah mengekspor produknya ke Singapura, Malaysia, Brunai, dan Jepang.
Dalam sebulan, kata Hesty, pegawainya menghasilkan sekitar 1.000 potong. "Karena lama ngerjainnya," ujar Hesty. Pembuatan smocking dan embroidery makan waktu tak singkat. Sebab, harus dibuat dengan teliti dan dengan tangan pula. Karena itu, dia cuma memiliki beberapa pegawai tetap. "Hanya tukang potong dan tukang jahit," kata Hesty. Jika banyak pekerjaan, Hesty merekrut para perempuan di sekitar rumahnya. "Jika ramai kita panggil 30, 40 orang begitu. Kalau lagi sepi ya, sepi," ucap Hesty.
Usaha ini memang membuka lapangan bagi para remaja putri dan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Sebab, kerajinan ini memang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang umumnya dimiliki para perempuan. Dengan terlibat dalam usaha Hesty, para pegawainya otomatis menerima keahlian sekaligus mendapat uang tambahan.(TNA/Tim Usaha Anda)
Adalah Hesty Djatmiko yang mengelola bisnis rumahan itu. Memang tak banyak yang menekuni kerajinan tangan asal Inggris ini. Keahlian menjahit dan menyulam itu diterima perempuan berjilbab ini dari ibunya. Namun, baru tujuh tahun terakhir dia memberanikan diri untuk terjun total di bisnis yang belum banyak disentuh.
Mula-mula Hesty mempromosikan produk buatan tangannya melalui sejumlah pameran dan bazar. Umumnya dagangannya dilirik kaum ekspatriat atau warga asing yang bekerja di Indonesia. Dari merekalah pesanan berdatangan. Order dapat dilakukan langsung di pameran atau bertandang ke ruang pamernya. Bisa juga memesan lewat telepon 021-7179024 dan 0818128312. Belakangan, selain memasok pesanan untuk pelanggan lokal, Hesty juga telah mengekspor produknya ke Singapura, Malaysia, Brunai, dan Jepang.
Dalam sebulan, kata Hesty, pegawainya menghasilkan sekitar 1.000 potong. "Karena lama ngerjainnya," ujar Hesty. Pembuatan smocking dan embroidery makan waktu tak singkat. Sebab, harus dibuat dengan teliti dan dengan tangan pula. Karena itu, dia cuma memiliki beberapa pegawai tetap. "Hanya tukang potong dan tukang jahit," kata Hesty. Jika banyak pekerjaan, Hesty merekrut para perempuan di sekitar rumahnya. "Jika ramai kita panggil 30, 40 orang begitu. Kalau lagi sepi ya, sepi," ucap Hesty.
Usaha ini memang membuka lapangan bagi para remaja putri dan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya. Sebab, kerajinan ini memang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang umumnya dimiliki para perempuan. Dengan terlibat dalam usaha Hesty, para pegawainya otomatis menerima keahlian sekaligus mendapat uang tambahan.(TNA/Tim Usaha Anda)