Jalur Pendakian Ditutup, Sampah Plastik Menggunung di Gunung Gede Pangarango

Banyak pendaki meninggalkan sampah plastik di sejumlah titik jalur pendakian Gunung Gede Pangrango.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 13 Oktober 2025, 13:57 WIB
Sampah tampak menumpuk di Gunung Gede Pangrango usai long weekend Maulid Nabi 2025. (dok. tangkapan layar video TikTok @febriherawati4/https://www.tiktok.com/@febriherawati4/video/7548015326231825665)

Liputan6.com, Sukabumi - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) berhasil mengangkut 115,5 kilogram sampah, mayoritas anorganik, dari kawasan konservasi dalam kegiatan Operasi Bersih (Opsih) dan Penertiban Pendakian Ilegal pada 11-12 Oktober 2025. Opsih ini dilaksanakan di sepanjang Jalur Pendakian Selabintana hingga Alun-Alun Suryakencana.

Humas BBTNGGP, Agus Deni menjelaskan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.

"Tujuan utama Opsih ini adalah menjaga kelestarian ekosistem dan kebersihan kawasan. Selain menekan timbulan sampah, kami juga meningkatkan pengawasan untuk mencegah aktivitas pendakian ilegal," ujar Agus Deni, di Sukabumi, Senin (13/10/2025). 

Operasi pembersihan dan penertiban ini melibatkan 43 personel dari multipihak, termasuk Petugas Balai Besar TNGGP, TNI/Polri, komunitas pencinta alam, volunteer lingkungan, mahasiswa, hingga masyarakat sekitar.

Tim Opsih dibagi menjadi empat kelompok dan ditempatkan di titik-titik strategis, di antaranya Pos Cigeuber, Pos Cileutik, Pos Simpang Gemuruh, dan Alun-alun Suryakencana. Di Pos Cigeuber, tim juga fokus pada penghadangan pendakian ilegal.

"Dari seluruh rangkaian kegiatan, total 15 karung sampah berhasil diturunkan dengan berat mencapai 115,5 kg," katanya.

Sampah di Gunung Gede yang ditemukan didominasi oleh sampah anorganik, seperti plastik kemasan makanan, botol minuman, dan perlengkapan pendakian yang ditinggalkan oleh pengunjung.

Melalui kegiatan ini, BBTNGGP menegaskan komitmennya untuk menjaga kebersihan dan ketertiban. Opsih juga dijadikan sarana edukasi bagi masyarakat dan komunitas pendaki.

"Kami mengimbau seluruh pengunjung dan komunitas pendaki untuk mematuhi prosedur resmi, tidak meninggalkan sampah, serta bertanggung jawab menjaga kelestarian TNGGP," katanya.

Pihaknya berharap kolaborasi lintas sektor ini dapat terus berlanjut demi pengelolaan taman nasional yang bersih, aman, dan berkelanjutan.

 

Jalur Pendakian Ditutup

Pihak balai besar juga telah menutup jalur pendakian sementara dari semua pintu masuk mulai tanggal 13 Oktober 2025 sampai aksi bersih-bersih sampah, evaluasi, dan perbaikan tata kelola pendakian, selesai dilakukan.

"Kegiatan pendakian dibuka kembali setelah seluruh tahapan perbaikan selesai dilaksanakan dan akan diumumkan secara resmi melalui situs web serta kanal media sosial Balai Besar TNGGP," kata Kepala BB TNGGP Arief Mahmud.

Dia menjelaskan TNGGP merupakan taman nasional dengan ekosistem hutan hujan tropis pegunungan yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan dalam dan luar negeri, Gunung Gede dan Pangrango menjadi tujuan utama bagi para pencinta alam karena berbagai keindahannya.

Tingginya antusiasme pendaki menyisakan tantangan pengelolaan sampah dan daya dukung jalur pendakian, permasalahan sampah pendakian terus berulang kali menjadi perhatian publik dan media karena dampaknya terhadap kenyamanan dan kelestarian ekosistem TNGGP.

"Kami sebagai pengelolaan pendakian melaksanakan penutupan sementara kegiatan pendakian di seluruh pintu masuk, mulai dari Cibodas, Gunung Putri, dan Selabintana, mulai tanggal 13 Oktober sampai seluruh aksi bersih-bersih, evaluasi dan perbaikan tata kelola tuntas dilakukan," katanya.

Penutupan sementara menjadi momentum perbaikan menyeluruh tata kelola pendakian guna mewujudkan Zero Waste Wisata Pendakian dengan rangkaian kegiatan penyelesaian permasalahan sampah Pendakian, melalui aksi bersama mitra, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha.

Perbaikan tata kelola pendakian meliputi peninjauan prosedur perizinan dan pendaftaran, penataan basecamp pendakian, peningkatan sarana dan prasarana dasar serta penyempurnaan mekanisme pengawasan lapangan terintegrasi melalui sistem Siap Gepang.

"Termasuk revitalisasi sistem pelayanan pendakian, termasuk penyempurnaan basis data pendaki, penguatan kapasitas pemandu dan petugas, serta pengembangan edukasi pendaki cerdas yang berorientasi pada peduli alam dan peduli sampah," kata Arief Mahmud.

Pihaknya juga mengimbau masyarakat dan semua pemangku kepentingan untuk mendukung upaya bersama dalam mewujudkan pendakian gunung yang bertanggung jawab, bersih, dan berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya