Jurnalis Palestina Saleh Aljafarawi Tewas Diduga Ditembak Kelompok Pro Israel

Meski gencatan senjata baru-baru ini berhasil disepakati, otoritas lokal berulang kali memperingatkan bahwa situasi keamanan di Gaza masih sangat rapuh dan berpotensi memburuk kapan saja.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 Oktober 2025, 10:29 WIB
Puluhan ribu pengungsi Palestina mulai kembali, baik ke utara maupun selatan, ke Jalur Gaza. Kembalinya pengungsi Palestina ke Gaza terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan kelompok pejuang Palestina Hamas resmi diberlakukan pada Jumat 10 Oktober 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Liputan6.com, Gaza - Jurnalis Palestina Saleh Aljafarawi tewas dalam bentrokan di Kota Gaza, hanya beberapa hari setelah Israel dan Hamas mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Sumber-sumber Palestina mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa jurnalis berusia 28 tahun itu — yang dikenal luas lewat video-video liputannya tentang perang — ditembak mati oleh anggota milisi bersenjata saat sedang meliput bentrokan di kawasan Sabra, Kota Gaza.

Lembaga verifikasi Al Jazeera, Sanad, mengonfirmasi kebenaran rekaman yang diunggah oleh sejumlah jurnalis dan aktivis. Dalam video tersebut tampak jasad Aljafarawi, mengenakan rompi bertuliskan "press", terbaring di bagian belakang sebuah truk. Dia dilaporkan hilang sejak Minggu pagi (12/10/2025).

Sumber-sumber di Gaza menyebutkan bahwa bentrokan itu terjadi antara pasukan keamanan Hamas dan kelompok bersenjata dari klan Doghmush di lingkungan Sabra. Namun, hingga kini, otoritas setempat belum memberikan konfirmasi resmi.

Seorang pejabat senior Gaza mengatakan kepada Al Jazeera Arabic bahwa bentrokan di Kota Gaza melibatkan milisi bersenjata yang berafiliasi dengan Israel.

Pejabat yang sama menambahkan bahwa para anggota milisi juga menembak hingga tewas sejumlah pengungsi yang sedang dalam perjalanan kembali dari wilayah selatan Gaza menuju Kota Gaza.

 

Hidup dalam Ketakutan

Untuk diketahui, tahap pertama rencana perdamaian meliputi penghentian penuh pertempuran, penarikan pasukan Israel dari Gaza, akses masuk bantuan kemanusiaan serta pertukaran tahanan dan sandera. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada bulan Januari, beberapa hari sebelum dimulainya gencatan senjata sementara pada saat itu, Aljafarawi menceritakan pengalamannya saat mengungsi dari Gaza Utara.

"Semua pemandangan dan situasi yang saya alami selama 467 hari ini tidak akan pernah terhapus dari ingatan. Semua yang kami hadapi — kami tidak akan pernah bisa melupakannya," kata Aljafarawi.

Jurnalis itu menuturkan bahwa dia telah menerima banyak ancaman dari Israel akibat pekerjaannya.

"Sejujurnya, saya hidup dalam ketakutan setiap detik, terutama setelah mendengar apa yang dikatakan pihak pendudukan Israel. Saya menjalani hidup detik demi detik, tanpa tahu apa yang akan terjadi di detik berikutnya," ujarnya.

KTT Gaza

Kepulangan pengungsi ini terjadi beberapa jam setelah pemerintah Israel memberikan persetujuan akhir terhadap kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Lebih dari 270 pekerja media telah tewas di Gaza sejak dimulainya perang pada 7 Oktober 2023.

Kematian Aljafarawi terjadi ketika gencatan senjata yang sedang berlangsung di Gaza memasuki hari ketiga, menjelang pertukaran tawanan dan tahanan yang diharapkan segera dilakukan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan berkumpul bersama para pemimpin dunia lainnya pada hari Senin (13/10) di resor Laut Merah Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk menghadiri KTT Gaza yang dipandu bersama oleh Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi.

Menurut pernyataan dari kantor kepresidenan Mesir, pertemuan itu bertujuan mengakhiri perang di Gaza, memperkuat upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, serta membuka era baru keamanan dan stabilitas regional.

Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan pada hari Minggu bahwa sebuah dokumen untuk mengakhiri perang di Gaza dijadwalkan akan ditandatangani dalam pertemuan itu. Namun, baik Israel maupun Hamas dipastikan tidak akan mengirimkan perwakilan untuk menghadirinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya