Syarat Bisnis Agen Perjalanan Wisata Bisa Bertahan Lama

Refund perjalanan menjadi salah satu isu yang paling banyak dibicarakan di sektor pariwisata tahun ini.

oleh Septian DenyDiterbitkan 10 Oktober 2025, 17:40 WIB
Wisatawan mengunjungi objek wisata Pantai Kelan dengan latar belakang pesawat yang mendarat di Tuban, Badung, Denpasar, Kamis (5/5/20222). Kunjungan wisatawan domestik (Wisdom) ke Pulau Bali, saat libur Lebaran Idul Fitri tahun 2022 terus meningkat. Per hari kedatangan wisdom rata-rata 40 ribu. (merdeka.com/Arie Basuki)

 

Liputan6.com, Jakarta Refund perjalanan menjadi salah satu isu yang paling banyak dibicarakan di sektor pariwisata tahun ini, terutama di tengah dorongan menuju ekosistem travel transparan dan akuntabel. Pemerintah menilai digitalisasi merupakan kunci membangun kembali kepercayaan publik terhadap industri perjalanan pasca pandemi.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Pauline Suharno mengatakan, transparansi merupakan fondasi utama dalam industri perjalanan. Data Kemenparekraf menunjukkan, indeks kepercayaan terhadap sektor pariwisata Indonesia meningkat hingga 76,19 persen pada 2024, menandakan optimisme publik terhadap industri yang lebih terbuka dan bertanggung jawab.

“Kepercayaan pelanggan adalah modal utama industri travel. Tanpa transparansi, bisnis ini tidak bisa bertahan jangka panjang,” ujarnya, Jumat (10/10/2025).

Menjawab hal tersebut, PT Traventour Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu agen wisata Indonesia yang adaptif dan terpercaya, dengan melakukan pembenahan sistem refund dan transformasi digital secara menyeluruh.Langkah ini bukan sekadar upaya penyelesaian administratif, melainkan bagian dari visi jangka panjang untuk menciptakan layanan perjalanan yang transparan, terukur, dan berkelanjutan.

Proses perbaikan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan verifikasi data pelanggan dan nilai dana yang akan dikembalikan. Setelah seluruh data tervalidasi, refund diselesaikan sesuai antrean yang telah dijadwalkan.

Pada tahap berikutnya, Traventour meluncurkan sistem refund digital terintegrasi yang memungkinkan pelanggan memantau status pengembalian dana secara real time, sistem ini kini menjadi standar baru di internal perusahaan.

“Dalam proses transformasi ini, kami menjaga prinsip keadilan dan keterbukaan. Kami ingin pelanggan melihat bahwa setiap pengajuan ditangani dengan profesional, transparan, dan konsisten,” ujar CEO PT Traventour Indonesia Nurul Kamariah.

 

Bentuk Tim Khusus

Wisatawan antre naik ke kapal boat menuju kawasan wisata Nusa penida dan Nusa lembongan di Pelabuhan Sanur, Denpasar, Bali, Senin (2/5/20222). Libur panjang lebaran tahun ini berdampak positif kepada jumlah keberangkatan wisatawan menuju Nusa Penida ataupun Nusa Lembongan. (merdeka.com/Arie Basuki)

Untuk memastikan percepatan, Traventour membentuk tim khusus refund yang bekerja lintas divisi dan langsung terhubung dengan sistem digital internal. Pendekatan ini membuat waktu proses dan validasi semakin efisien dibandingkan sistem manual sebelumnya.

Selain fokus pada sistem dan layanan, Traventour juga memperluas destinasi unggulan ke Asia Tengah—meliputi Uzbekistan, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Keempat negara ini mulai diminati wisatawan Indonesia karena menawarkan kombinasi budaya Islam, sejarah Jalur Sutra, dan panorama alam autentik.

Selain memperkenalkan rute baru, Traventour mempertahankan paket populer ke Jepang, Korea, Hong Kong, Singapore, Malaysia, Thailand , dan Labuan Bajo. Perusahaan juga memperkuat kemitraan global dan menghadirkan layanan pelanggan berbasis digital sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun ekosistem travel transparan dan berstandar internasional.

 

1,5 Juta Turis Asing Serbu Indonesia di September 2025

Wisatawan mancanegara (wisman) asal China tiba di bandara internasional Ngurah Rai di Bali, Minggu (22/1/2023). Penerbangan langsung turis China mendarat di pulau Bali untuk pertama kalinya pada hari Minggu dalam hampir tiga tahun setelah ditutupnya rute penerbangan lantaran kebijakan nol Covid-19. (AP Photo/Firdia Lisnawati)

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat wisatawan mancanegara (Wisman) mencapai 1,50 juta kunjungan pada September 2025.

“Pada Agustus 2025 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) melalui pintu masuk utama sebanyak 1.335.096 kunjungan,” kata Deputi Bidang Statistik BPS, M. Habibullah, dalam konferensi pers BPS, Rabu (1/10/2025).

Sementara wisman yang masuk pintu masuk perbatasan sebanyak 170.124 kunjungan. Secara total, jumlah kunjungan wisman sebanyak 1.505.220 kunjungan atau naik sebesar 1,61 persen secara bulanan dan naik 12,33 persen secara tahunan.

“Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2025 total kunjungan wisman tercatat 10,04 juta kunjungan atau meningkat sebesar 10,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” ujarnya.

Adapun kunjungan wisman menurut kebangsaan, yang paling banyak dilakukan wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 15,3 persen, lalu wisman asal Australia sebanyak 10,3 persen, wisman Tiongkok 9,3 persen, Singapura 8,6 persen, dan Wisman Timur Leste 5,9 persen.

 

 

 

Wisatawan Nusantara

Rombongan pertama wisatawan asing tiba di Bandara Internasional Taoyuan di Taoyuan, Taiwan Utara, Kamis (13/10/2022). Sebelum pandemi, Taiwan adalah tujuan wisata populer bagi sebagian besar pengunjung Asia, dengan Jepang, Korea Selatan, dan Asia Tenggara sebagai pasar terpenting. (AP Photo/Chiang Ying-ying)

 Adapun BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2025 tercatat sebanyak 93,56 juta. 

Angka ini menurun 6,62 persen dibandingkan Juli 2025. Meski demikian, jika melihat data tahunan, jumlah tersebut melonjak 23,31 persen dibandingkan Agustus 2024.

“Pada Agustus 2025 jumlah perjalanan yang dilakukan wisatawan nusantara mencapai 93,56 juta perjalanan atau turun sebesar 6,62 persen secara month to month. Jika dibandingkan Agustus 2024 perjalanan wisnus mengalami peningkatan sebesar 23,31 persen secara year on year,” ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya