Waspadai Trombositemia, Kondisi Trombosit Tinggi yang Bisa Jadi Indikator Penyakit Serius

Seseorang yang mengalami trombositemia rentan mengalami gangguan aliran darah. Hal ini meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke dan serangan jantung

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 09 Oktober 2025, 19:00 WIB
trombosit adalah ©Ilustrasi dibuat Stable Diffusion

Liputan6.com, Jakarta Trombositemia adalah kondisi ketika jumlah trombosit melebihi 450 ribu per ml darah. Ketika seseorang mengalami hal tersebut rentan mengalami gangguan aliran darah, terutama di arteri seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi onkologi Prof DR dr Aru Wisaksono Sudoyo.

Aru mengatakan kondisi trombositemia bisa dipicu oleh infeksi, anemia defisiensi besi, penyakit radang, kanker, atau bahkan mutasi genetik seperti JAK2, CALR, dan MPL.

Maka dari itu, trombosit bukan sekadar angka di hasil lab. Ia bisa menjadi sinyal penting dari tubuh, dan harus dipahami sejak dini.

"Trombosit sering kali dianggap remeh, padahal jumlahnya yang berlebihan bisa menjadi indikator awal dari kondisi serius, termasuk kanker darah. Masyarakat perlu memahami bahwa edukasi dini bukan hanya mencegah, tapi juga memberi harapan untuk deteksi dan penanganan yang lebih baik," kata Aru yang juga Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia.Aru mengatakan pada beberapa orang trombosit berlebih bisa tanpa gejala.

Namun, pada sebagian orang bisa bergejala. “Tapi bisa juga menimbulkan sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri di tangan atau kaki, bahkan pembesaran limpa,” ujar Aru dalam webinar awam yang diselenggarakan oleh YKI dan Combiphar pada 9 Oktober 2025.

 

Kendalikan Trombosit, Jika Tidak Awas Stroke dan Serangan Jantung

Aru menjelaskan bahwa pengendalian trombosit berlebih dapat dilakukan dengan obat-obatan seperti Hidroksiurea (HU) dan Anagrelide (ANA). HU bekerja dengan menghambat pembentukan sel darah secara umum, sehingga bisa menimbulkan efek samping berupa anemia dan leukopenia. Sementara ANA lebih spesifik menghambat pembentukan trombosit saja.

“Kelebihan trombosit wajib dikendalikan. Jika tidak, risiko stroke, serangan jantung, dan keguguran bisa meningkat tajam,” tegas Aru.

Apa Itu Trombosit?

Trombosit atau keping darah berperan penting dalam membantu proses pembekuan. Saat tubuh terluka, trombosit akan berkumpul di area luka dan membentuk sumbatan agar perdarahan berhenti.

Namun, perlu diketahu juga bahwa ada juga kondisi ketika trombosit terlalu rendah. Hal itu bisa menjadi tanda penyakit serius seperti demam berdarah (DBD), ITP (autoimun), efek kemoterapi, anemia aplastik, keracunan obat, infeksi berat, bahkan kanker.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya