Warga RI Melancong ke Luar Negeri Turun 21,27 Persen di Agustus 2025

BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2025 tercatat sebanyak 93,56 juta.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 01 Oktober 2025, 18:00 WIB
Pelancong menunggu di aula keberangkatan di Bandara Internasional Hong Kong di Hong Kong, Minggu, 8 Oktober 2023. Sejumlah penerbangan di Hong Kong dibatalkan pada hari Minggu ketika Badai Tropis Koinu mendekati kota Cina selatan setelah menyebabkan setidaknya satu orang tewas dan lebih dari 300 terluka di Taiwan (AP Photo / Emily Wang)

Liputan6.com, Jakarta Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan data pergerakan wisatawan nasional (wisnas), yakni masyarakat Indonesia yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Pada Agustus 2025, tercatat ada 684.934 perjalanan wisnas.

Deputi Bidang Statistik BPS, M. Habibullah, mengatakan jumlah ini turun 21,27% dibanding bulan sebelumnya. Namun, bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, justru ada kenaikan 5,61%.

“Pada Agustus 2025 terdapat sebanyak 684.934 perjalanan wisnas. Angka tersebut mengalami penurunan sebesar 21,27% secara bulanan sedangkan secara tahunan mengalami peningkatan sebesar 5,61%,” kata Habibullah dalam konferensi pers BPS, Rabu (1/10/2025).

Secara kumulatif, dari Januari hingga Agustus 2025, jumlah perjalanan wisnas menembus 6,13 juta perjalanan. Angka tersebut meningkat 2,21% dibandingkan periode Januari-Agustus 2024.

Adapun BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara pada Agustus 2025 tercatat sebanyak 93,56 juta.

Angka ini menurun 6,62 persen dibandingkan Juli 2025. Meski demikian, jika melihat data tahunan, jumlah tersebut melonjak 23,31 persen dibandingkan Agustus 2024.

“Pada Agustus 2025 jumlah perjalanan yang dilakukan wisatawan nusantara mencapai 93,56 juta perjalanan atau turun sebesar 6,62 persen secara month to month. Jika dibandingkan Agustus 2024 perjalanan wisnus mengalami peningkatan sebesar 23,31 persen secara year on year,” ujarnya.

 

Wisman

Wisatawan mancanegara (wisman) asal China tiba di bandara internasional Ngurah Rai di Bali, Minggu (22/1/2023). Penerbangan langsung turis China mendarat di pulau Bali untuk pertama kalinya pada hari Minggu dalam hampir tiga tahun setelah ditutupnya rute penerbangan lantaran kebijakan nol Covid-19. (AP Photo/Firdia Lisnawati)

Lebih lanjut, Habibullah turut menyampaikan data perjalanan wisatawan mancanegara (Wisman) mencapai 1,50 juta kunjungan pada September 2025.

“Pada Agustus 2025 kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) melalui pintu masuk utama sebanyak 1.335.096 kunjungan,” ujarnya.

Sementara wisman yang masuk pintu masuk perbatasan sebanyak 170.124 kunjungan. Secara total, jumlah kunjungan wisman sebanyak 1.505.220 kunjungan atau naik sebesar 1,61 persen secara bulanan dan naik 12,33 persen secara tahunan.

“Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2025 total kunjungan wisman tercatat 10,04 juta kunjungan atau meningkat sebesar 10,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” ujarnya.

Adapun kunjungan wisman menurut kebangsaan, yang paling banyak dilakukan wisman berkebangsaan Malaysia sebanyak 15,3 persen, lalu wisman asal Australia sebanyak 10,3 persen, wisman Tiongkok 9,3 persen, Singapura 8,6 persen, dan Wisman Timur Leste 5,9 persen.

 

Neraca Perdagangan

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (17/2/2022). Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2022 menurun dibandingkan surplus pada Desember 2021 sebesar USD 1,02 miliar. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2025 tercatat USD 5,49 miliar. Artinya, Indonesia telah surplus selama 64 bulan secara berturut-turut sejak Mei 2020.

"Pada Agustus 2025 neraca persagangan barang mencatat surplus sebesar USD 5,49 miliar. Neraca perdagangan Indonesia sudah mencatatkan surplus selama 64 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," katanya.

Surplus pada Agustus 2025 lebih ditopang surplus pada komoditas nonmigas sebesar USD 7,15 miliar, dengan komoditas penyumbang surplus lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

"Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas miga tercatat defisit USD 1,66 miliar dengan komoditas penyumbang defisit minyak mentah dan hasil minyak," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya