Kepala BGN Minta SPPG Masak Menu MBG Pakai Air Galon Cegah Keracunan Berulang

Instruksi tersebut dikeluarkan karena masih banyak dapur MBG atau SPPG yang belum memiliki sanitasi baik.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 01 Oktober 2025, 13:35 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memantau langsung pelaksanaan MBG. Foto: BGN

Liputan6.com, Jakarta- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengunakan air mineral galon saat memasak menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Instruksi tersebut dikeluarkan karena masih banyak dapur MBG atau SPPG yang belum memiliki sanitasi baik di tengah meningkatkan kasus keracunan.

“Kita juga menyarankan untuk lebih meningkatkan sanitasi. Terutama untuk memasak, kita sudah instruksikan agar mereka menggunakan air galon," kata Dadan saat Rapat Komisi IX DPR, Rabu (1/10/2025).

Tak hanya itu, Dadan juga menekankan pentingnya peningkatan sanitasi secara keseluruhan, termasuk alat makan yang digunakan. Dia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar semua dapur MBG dilengkapi alat sterilisasi.

"Beberapa SPPG sudah memiliki alat sterilisasi dengan pemanas gas yang bisa memanaskan 120 derajat dalam satu menit, sudah bisa sterilisasi terkait dengan alat makan," sambungnya.

Dadan mengungkap bahwa pihaknya telah menyiapkan langkah konkret untuk memastikan standar kebersihan dan keamanan dapur-dapur MBG. Salah satunya adalah dengan mendorong sertifikasi laik higiene dan sanitasi (SLHS), serta sertifikasi keamanan pangan.

“Kami sebenarnya sudah membuat Peraturan Keputusan Kepala Badan terkait dengan persiapan sertifikasi, yaitu sertifikasi laik higiene dan sanitasi, yang nanti mungkin Pak Menteri Kesehatan akan lebih rinci menjelaskan itu,” ujar Dadan.

Tak hanya fokus pada aspek kebersihan, BGN juga tengah menyiapkan penerapan sertifikasi keamanan pangan berbasis sistem internasional, yakni HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points).

“Kami juga tidak hanya berkaitan dengan sanitasi, kami juga ingin menerapkan sertifikasi keamanan pangan berupa HACCP," kata Dadan.

Penyebab Keracunan MBG

Dadan Hindayana menduga banyaknya kasus keracunan massal siswa usai menyantap makanan MBG berasal dari SPPG. SPPG diduga tidak menerapkan standar operasional prosedur (SOP).

“Kita bisa lihat bahwa kasus kejadian banyak terjadi di 2 bulan terakhir. Dan ini berkaitan dengan berbagai hal. Dan kita bisa identifikasi bahwa kejadian itu rata-rata karena SOP yang kita tetapkan tidak dipatuhi dengan seksama,” kata Dadan.

Dadan mencontohkan, pembelian bahan baku yang seharusnya H-2, kemudian SPPG membeli H-4. Kemudian, proses masak sampai pengirim ada yang tidak lebih dari 6 jam padahal seharusnya hanya 4 jam.

“Kita memberikan tindakan bagi SPPG yang tidak melalui SOP dan juga menimbulkan kegaduhan. Kita tutup sementara sampai semua proses perbaikan dilakukan,” kata Dadan.

Dadan mengaku telah memerintahkan SPPG untuk mengevaluasi total penyebab keracunan siswa. Ia menyebut lama penutupan SPPG bergantung pada hasil investigasi.

“Penutupan bersifat sementara tersebut waktunya tidak terbatas tergantung dari kecepatan SPPG dapat mampu melakukan penyesuaian diri dan juga menunggu hasil investigasi,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya