Indonesia Masuk BRICS, Pengamat HI UIN Jakarta: Strategi Menjaga Keseimbangan Dunia

Benarkah bergabung dengan BRICS bisa jadi peluang bagi Indonesia?

oleh Indra Cahya VanleonDiterbitkan 30 September 2025, 19:30 WIB
Para panelis berbincang dalam sesi panel #AussieBanget University Roadshow yang membahas isu geopolitik dan kerja sama kawasan. Acara ini berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (30/9/2025) (Dok. Liputan6.com/Indra C. Vanleon).

Liputan6.com, Jakarta - Isu geopolitik mewarnai dibahas dalam diskusi panel dalam rangkaian #AussieBanget University Roadshow di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (30/9/2025).

Tiga mahasiswa UIN mengajukan pertanyaan terkait konsep Indo-Pasifik, dinamika kekuatan AS–China, hingga posisi Indonesia dalam kelompok Brazil, Russia, India, China, and South Africa (BRICS)

Menanggapi pertanyaan tentang definisi Indo-Pasifik, Susannah Patton, Wakil Direktur Riset dan Program Asia Tenggara di Lowy Institute, menjelaskan bahwa setiap istilah kawasan selalu mengandung kepentingan politik

"Saya rasa penting untuk mengatakan bahwa setiap label geografis regional, entah itu Asia Tenggara, Asia-Pasifik, atau Indo-Pasifik, semuanya lahir dari konteks sejarah tertentu dan diadvokasi oleh negara-negara tertentu. Tidak ada kerangka yang benar-benar objektif atau netral," jelasnya.

Sementara itu, Dr. Ahmad Khoirul Umam, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Kebijakan Publik Paramadina, menilai bahwa hingga saat ini pendekatan realis masih lebih dominan terlihat dibanding argumen liberal dalam membaca relasi global.

"Sejauh yang kita lihat hingga hari ini, hal itu masih mencerminkan perspektif realis. Jadi ketika kita bicara soal relasi kekuasaan, mereka berusaha menempatkannya di depan. Pada saat yang sama, mereka juga sangat sensitif terhadap kepentingan ekonomi-politik, bukan hanya di negara mereka, tetapi juga di berbagai kawasan,” katanya.

Indonesia dan BRICS

Isu Indonesia yang baru bergabung dengan BRICS juga menjadi sorotan. Dr. Badrus Sholeh, S.Ag., M.A., Ph.D., Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menilai langkah ini bisa menjadi strategi menyeimbangkan kepentingan global.

"Bergabung dengan BRICS berarti kita menyeimbangkan antara Amerika Serikat, China, dan juga para anggota BRICS di dalamnya. Saat ini BRICS masih fokus pada kerja sama ekonomi, tapi saya pikir ke depan BRICS mungkin akan memperluas kerja sama, mungkin dalam bidang sains, termasuk keamanan,” ungkapnya.

 

Dinamika BRICS

Presiden RI Prabowo Subianto bersama sejumlah para pemimpin negara saat mengikuti rangkaian hari kedua Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025 di Museum of Modern Art (MAM), Rio de Janeiro, Brasil, Senin (7/7/2025). (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Namun, Dr. Ahmad Khoirul Umam mengingatkan bahwa Indonesia harus tetap berhati-hati agar tidak terjebak dalam dinamika politik BRICS.

"Sampai batas tertentu, kita harus mempertimbangkan bahwa keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS awalnya demi kepentingan ekonomi. Tapi hari ini kita sama-sama menyaksikan bahwa BRICS cenderung lebih politis ketimbang blok ekonomi. Jadi Indonesia harus sangat berhati-hati jika masuk terlalu dalam dalam hubungan politik dengan, katakanlah, China atau Rusia atau negara lain dengan agenda politik yang kontroversial," tegasnya.

Di akhir sesi, Susannah Patton memberikan catatan optimistis mengenai hubungan kawasan, khususnya Indonesia dan Australia.

"Hubungan Australia dengan negara-negara di kawasan, termasuk dengan Indonesia, di level pemerintah-ke-pemerintah saya berani bilang ada di titik terbaik sepanjang sejarah. Dan hal itu menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan punya kepedulian bersama dan memang ingin bekerja sama. Itu yang memberi saya banyak optimisme tentang masa depan kawasan yang kita miliki bersama,” katanya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya