BUMN Pangan Serap Ratusan Ribu Gula Petani Lokal Senilai Rp 1,75 Triliun

Holding BUMN Pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food telah menyerap puluhan ribu ton gula hasil produksi lokal.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 29 September 2025, 14:44 WIB
Petani tebu melakukan aksi menebar gula rafinasi saat unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Senin (28/8). Aksi itu bentuk ungkapan kekecewaan terhadap sikap pemerintah yang masih membiarkan gula impor merembes di pasaran (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Holding BUMN Pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food telah menyerap puluhan ribu ton gula hasil produksi lokal. Tujuannya untuk memjaga harga acuan pembelian (HAP) di tingkat petani tebu.

Langkah ini dilakukan bersama dengan PT Sinergi Nula Nusantara (SGN) atau SugarCo dan pedagang. Total penyerapan dari tiga pihak ini mencapai 121.312 ton atau setara nilai Rp 1,75 triliun.

“Kami memahami keresahan petani saat musim giling tebu, terutama terkait harga yang berpotensi turun. Karena itu, ID FOOD bersama SGN serta pedagang terus menggenjot penyerapan gula secara bertahap. Dengan mekanisme ini, harga petani tetap terjaga dan distribusi gula ke pasar berjalan stabil,” ujar SVP Sekretaris Perusahaan ID FOOD Yosdian Adi Pramono dalam keterangan resmi, Senin (29/9/2025).

Rinciannya, ID FOOD menyerap sebanyak 92.830 ton, SGN sebanyak 6.896 ton, dan pedagang sebanyak 21.586 ton. Penyerapan gula dilakukan di 24 pabrik gula, yang terdiri dari 18 pabrik gula SGN dam 6 pabrik gula ID FOOD.

Total serapan gula petani sebesar 121.312 ton tersebut dilakukan dengan menggunakan mekanisme pendanaan pinjaman Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), komersil, internal, dan pedagang.

“Keterlibatan BUMN pangan melalui skema penyerapan dan distribusi diharapkan mampu menjaga stabilisasi stok dan harga, sehingga mempersempit kesenjangan antara produksi dan kebutuhan masyarakat,” ungkap Yosdian.

 

Target Konsumsi Gula

Perwakilan petani tebu menuliskan kata kata saat berunjuk rasa di sekitar depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/10). Puluhan perwakilan petani tebu berunjuk rasa menuntut pemerintah menyetop impor gula. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Tahun ini, berdasarkan data neraca komoditas Badan Pangan Nasional (Bapanas), konsumsi gula nasional diperkirakan mencapai 2.841.928 ton, sementara produksi gula kristal putih (GKP) dalam negeri baru sekitar 2.589.073 ton.

ID FOOD menegaskan akan terus memperkuat peranannya sebagai offtaker gula petani serta memperluas jaringan distribusi hingga ke ritel modern dan pasar tradisional.

“Dengan langkah ini, ID FOOD tidak hanya hadir sebagai penyerap hasil panen, tetapi juga sebagai motor penggerak industri gula nasional melalui dukungan hulu hingga hilir. Sinergi BUMN pangan bersama petani, SGN, pedagang, dan stakeholder lainnya diharapkan semakin memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” tuturnya.

 

Serapan Gula

Musim giling tebu yang dimulai sejak Mei 2025 secara nasional hingga kini masih berlangsung. Hasil produksi berupa gula kristal putih (GKP) dan tetes tebu tahun ini milik petani masih menumpuk. (Istimewa)

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi mengungkap penyerapan gula petani dalam negeri melalui anggaran Danantara Rp 1,5 triliun telah mencapai sekitar 60 ribu ton dari target 81 ribu ton. Saat ini, tersisa 21 ribu ton gula yang masih menunggu untuk diserap.

Arief menjelaskan, gula yang diserap akan disimpan terlebih dahulu di gudang BUMN pangan selama dua hingga tiga bulan, sebelum nantinya digelontorkan ke pasar setelah musim panen rampung.

“(Penyerapan gula) tinggal tersisa sekitar kemarin terakhir 21 ribu ton dari 81 ribu ton,” terangnya di Kantor Bapanas, Kementerian Pertanian Jakarta, pada Rabu (24/9/2025).

 

Stabilkan Harga

Musim giling tebu yang dimulai sejak Mei 2025 secara nasional hingga kini masih berlangsung. Hasil produksi berupa gula kristal putih (GKP) dan tetes tebu tahun ini milik petani masih menumpuk. (Istimewa)

Menurutnya, mekanisme tersebut sudah sesuai dengan tugas BUMN pangan dalam menjaga ketersediaan stok sekaligus menstabilkan harga.

“Gula ini kan harus keluar masuk. Biasanya dalam 2-3 bulan stok di BUMN dikeluarkan lagi sebagai refreshment stok,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Arief menuturkan gula akan dilepas ke pasar pada Desember-Januari, bersamaan dengan selesainya musim panen tebu. “Begitu panen selesai, masuk musim tanam berikutnya, itu waktunya melepas gula,” jelasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya