Liputan6.com, Jakarta - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berencana melepas 38 aset berupa tanah dan bangunan dengan nilai buku mencapai Rp 2,152 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari program restrukturisasi perusahaan demi memperkuat likuiditas dan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah tantangan industri farmasi pascapandemi.
Direksi Kimia Farma menyampaikan, pengalihan aset dilakukan untuk memperoleh dana segar yang dapat menunjang operasional serta pengembangan usaha.
Advertisement
“Rencana pengalihan aset ini menjadi strategi penting bagi perusahaan dalam menyeimbangkan profitabilitas dan likuiditas, khususnya di tengah kenaikan suku bunga pinjaman,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Dikutip Minggu (28/9/2025).
Aset yang akan dilepas tersebar di berbagai kota besar, antara lain Jakarta, Bandung, Medan, Semarang, Manado, hingga kawasan industri di Cikarang. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2025, nilai pengalihan aset tersebut setara dengan 65,35% dari total ekuitas Kimia Farma yang tercatat sebesar Rp 3,29 triliun.
Sebagai transaksi material yang nilainya melebihi 50% ekuitas, rencana ini membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Perseroan telah menjadwalkan RUPSLB pada 3 November 2025. Jika tidak disetujui, pengajuan kembali baru dapat dilakukan paling cepat 12 bulan setelah rapat tersebut.
Kimia Farma menegaskan, proses pengalihan aset akan dilakukan sesuai ketentuan perundangan, baik melalui lelang, penawaran terbatas, maupun penunjukan langsung.
Kimia Farma Pangkas Rugi 58,10% hingga Juni 2025
PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membukukan kinerja keuangan beragam sepanjang semester I 2025. Perseroan mencatat penjualan turun tipis, dan berhasil menekan kerugian.
Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Kamis (11/9/2025), PT Kimia Farma Tbk meraup penjualan bersih Rp 4,36 triliun hingga Juni 2025. Penjualan turun 16,19% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 5,21 triliun.
Beban pokok penjualan terpangkas 22,72% hingga Juni 2025 menjadi Rp 2,80 triliun. Pada periode sama tahun sebelumnya tercatat Rp 2,80 triliun. Perseroan meraup laba bruto dari Rp 1,57 triliun turun tipis 1,16% menjadi Rp 1,49 triliun hingga Juni 2025.
Perseroan memangkas beban usaha 14,31% menjadi Rp 1,49 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,74 triliun. Pendapatan lain-lain susut menjadi Rp 7,02 miliar dari semester pertama 2024 sebesar Rp 105,21 miliar. Perseroan juga menekan rugi kurs menjadi Rp 475,28 juta dari periode sama tahun sebelumnya Rp 841,07 juta.
Liabilitas
Seiring kinerja itu, Kimia Farma memangkas rugi yang diatribusikan ke pemilik entitas induk 58,10 % menjadi Rp 95,01 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 226,78 miliar.
Perseroan mencatat ekuitas turun tipis menjadi Rp 3,29 triliun hingga semester I 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 3,42 triliun.
Liabilitas Perseroan naik menjadi Rp 11,6 triliun dari Desember 2024 sebesar Rp 11,53 triliun. Kimia Farma mencatat aset Rp 14,97 triliun hingga 30 Juni 2025 dari Desember 2024 sebesar Rp 14,96 triliun.
Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 232,66 miliar hingga Juni 2025.