Peringatan Keras Moody's: Stablecoin Ancam Kekuatan Uang Negara-Negara Berkembang!

Alarm Stablecoin Berbunyi: Moody's Investors Service merilis peringatan keras tentang risiko stablecoin yang dapat memicu "kriptoisasi" dan melemahkan kedaulatan moneter di pasar negara berkembang.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 28 September 2025, 18:00 WIB
Ilustrasi Stablecoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Lembaga pemeringkat global, Moody's, mengeluarkan peringatan serius: adopsi stablecoin yang masif di pasar negara berkembang, khususnya di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Tenggara, bisa mengancam kendali bank sentral atas mata uang nasional.

Ini bukan hanya soal teknologi, tapi ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi.

Dikutip dari coinmarketcap, Minggu (28/9/2025), Moody's Investors Service baru saja merilis laporan yang menyebutkan bahwa pertumbuhan pesat stablecoin (koin kripto yang nilainya dipatok ke mata uang fiat seperti Dolar AS) dapat menciptakan masalah kriptoisasi—fenomena di mana mata uang kripto mulai mengambil peran mata uang resmi.

Ancaman ini sangat terasa di pasar negara berkembang yang sering mengalami inflasi tinggi dan ketergantungan pada pengiriman uang (remitansi).

Berikut analisisnya:

Hilangnya Kendali: Meningkatnya penggunaan stablecoin akan melemahkan kendali bank sentral atas kebijakan moneter, membuat intervensi pemerintah menjadi mahal dan tidak efektif.

Dampak Sistemik: Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerentanan sistem keuangan yang lebih luas, terutama karena masyarakat beralih dari mata uang lokal yang lemah ke stablecoin yang lebih stabil.

 

Bahaya Tersembunyi di Balik Keamanan Stablecoin

Ilustrasi kripto. (Foto by AI)

Meskipun stablecoin dianggap aman dan nyaman untuk transaksi, Moody's melihatnya sebagai pedang bermata dua yang memicu kerentanan sistemik:

"Pertumbuhan stablecoin yang pesat, meskipun dianggap aman, menimbulkan kerentanan sistemik: pengawasan yang tidak memadai dapat memicu penarikan besar-besaran cadangan devisa dan memaksa dana talangan pemerintah yang mahal jika patokan runtuh,"

Apa Implikasinya bagi Sektor Keuangan?

Erosi Simpanan Bank: Populeritas stablecoin dapat menyebabkan penarikan dana besar-besaran dari bank konvensional, mengikis simpanan dan likuiditas perbankan.

Intervensi Regulasi: Untuk menanggapi risiko ini, bank sentral mungkin akan dipaksa untuk memperketat regulasi terhadap aliran stablecoin, yang dapat memiliki implikasi keuangan yang signifikan bagi pengguna dan penyedia layanan kripto.

 

Belajar dari Argentina: Ketika Inflasi Memicu Kriptoisasi

Ilustrasi kripto. (Foto by AI)

Kekhawatiran Moody's ini bukan tanpa dasar. Sejarah telah menunjukkan preseden serupa. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat adanya fenomena kriptoisasi di negara-negara yang berjuang melawan lonjakan inflasi dan kontrol valuta asing yang ketat, seperti yang terjadi di Argentina.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa reaksi pemerintah terhadap kriptoisasi cenderung berupa:

  • Pengetatan regulasi KYC (Know Your Customer) dan AML (Anti-Money Laundering).
  • Peningkatan volatilitas di pasar kripto lokal karena adanya tindakan pengetatan mendadak.

Intinya, kenaikan stablecoin memang menawarkan kemudahan, tetapi di negara-negara dengan pondasi ekonomi yang rapuh, fenomena ini berpotensi menggerus pondasi moneter, memaksa pemerintah untuk bertindak keras demi menjaga stabilitas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya