Rupiah Tertekan ke 16.726 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Sejumlah sentimen dari eksternal telah mendorong dolar Amerika Serikat perkasa terhadap rupiah pada Kamis, (25/9/2025).

oleh Agustina MelaniDiperbarui 25 September 2025, 11:11 WIB
Teller menunjukkan mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) lesu pada Kamis, (25/9/2025). Pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah turun 42 poin atau 0,25% menjadi 16.726 per dolar AS dari sebelumnya 16.684 per dolar.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menuturkan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS didorong data ekonomi Amerika Serikat (AS) lebih kuat dari perkiraan.

"Indikator sektor perumahan AS melampaui ekspektasi pada Agustus 2025, dengan Penjualan Rumah Baru naik menjadi 800 ribu dari 664 ribu dan Izin Mendirikan Bangunan meningkat menjadi 1,33 juta dari 1,31 juta, menunjukkan permintaan konsumen yang kuat,” ujar dia seperti dikutip dari Antara di Jakarta, Kamis.

Ia menilai, hal ini semakin mengurangi kemungkinan pemotongan suku bunga The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS yang agresif pada masa mendatang.

Pasar juga tak terlalu merespons rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) AS yang lebih lemah dari perkiraan. Para investor menganggap data tersebut kurang mengkhawatirkan, mengingat indeks masih berada di wilayah ekspansif, yakni di atas 50.

 

 

 

Sinyal the Fed

Teller tengah menghitung mata uang dolar di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, sentimen juga berasal dari pernyataan kurang dovish dari Presiden Fed San Francisco Mary Daly yang mengatakan, pemotongan suku bunga kebijakan lebih lanjut mungkin masih diperlukan yang harus dibarengi dengan sikap kehati-hatian.

Adapun Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee mengisyaratkan keraguan untuk pemotongan suku bunga tambahan dengan alasan ketidakpastian terkait apakah tren inflasi baru-baru ini bersifat sementara atau berlangsung lama.

“Komentar-komentar ini mengindikasikan bahwa beberapa anggota FOMC (Federal Open Market Committee) masih ragu-ragu untuk pelonggaran lebih lanjut,” kata Josua.

 

Rupiah Menguat Tipis, Ketegangan Geopolitik Jadi Pendorong

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat pada perdagangan sore ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis 3 poin sebelumnya sempat menguat 30 point di level 16.684 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 16.687 per dolar AS.

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.680 - Rp 16.730," kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (24/9/2025).

Adapun faktor yang mempengaruhi penguatan rupiah, yakni ketegangan geopolitik semakin mendukung sentimen seputar risiko pasokan yang lebih ketat.

 

 

Perubahan Retorika

Teller menunjukkan mata uang dolar di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (10/1). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah berada di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa kalau negara-negara NATO harus menembak jatuh pesawat Rusia jika mereka melanggar wilayah udara aliansi dan mengatakan Ukraina dapat merebut kembali seluruh wilayahnya dari Rusia.

"Pernyataan tersebut menandai perubahan retorika yang tajam dalam sikap Washington dan dianggap meningkatkan risiko sanksi lebih lanjut terhadap ekspor energi Rusia, yang dapat menekan pasokan global," ujarnya.

Sementara itu, sebuah laporan Bloomberg menyatakan bahwa otoritas Rusia sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor diesel oleh beberapa perusahaan menyusul serangkaian serangan pesawat nirawak Ukraina terhadap fasilitas energi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya