Liputan6.com, Jakarta - Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) berhasil menyelesaikan program Satria Hutan Indonesia (SHI) 2025 dengan menempuh pendakian selama 13 hari di Hutan Lindung Raja Mendara, Gunung Patah.
Ekspedisi tidak hanya menaklukkan puncak gunung setinggi 2.853 meter di atas permukaan laut (mdpl), tetapi juga menyajikan cerita-cerita unik tentang alam, budaya, dan semangat perjuangan.
Advertisement
Gunung Patah, yang berada di perbatasan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan, terkenal dengan kekayaan ekologisnya. Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), gunung berapi nonaktif ini menyimpan lebih dari 100 jenis tumbuhan. Hal ini menjadikan Gunung Patah sebagai pilihan utama eksplorasi dalam program SHI 2025.
"Perjalanan ini diikuti oleh 24 calon anggota dan 18 anggota Mapala UI," ujar Ketua Mapala UI, Aldes Alfarizi, dalam keterangannya, Selasa (23/9/2025).
Tim memulai perjalanan dari Desa Manau Sembilan II di Bengkulu, lalu melintasi jalur panjang hingga akhirnya tiba di Pagar Alam, Sumatera Selatan. Dengan tema “Kenali Hutan, Jaga Kehidupan”, perjalanan ini bukan hanya sekadar pendakian fisik, melainkan juga interaksi mendalam dengan alam dan kearifan lokal.
Sebelum memulai pendakian, tim SHI berziarah ke makam "puyang" atau tokoh penyebar agama Islam yang dihormati masyarakat setempat.
Ini adalah ritual yang diwariskan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan dan permohonan restu.
Menurut Pak Haji Dul Samat, tetua adat Desa Manau Sembilan, prosesi ini penting agar perjalanan pendaki "selamat sampai pulang." Upacara adat sederhana ini, lengkap dengan kopi, teh, dan nasi, menjadi pengingat bagi tim bahwa hutan bukan hanya bentangan alam, tetapi juga ruang yang dijaga dengan keyakinan dan nilai-nilai luhur.
"Biasanya kalau ada yang mau melakukan pendakian dari Desa Manau Sembilan, kami selalu minta restu dari puyang dahulu sebelum berangkat," kata Pak Haji.
Tantangan Medan Berat dan Penemuan Tak Terduga
Medan jalur pendakian sepanjang 45 kilometer di Gunung Patah dikenal sebagai salah satu yang terpanjang di Sumatra. Tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tanah basah, akar menjalar, pohon tumbang, hingga hujan deras yang turun hampir setiap hari.
Di tengah kesulitan, tim SHI juga mendapat kejutan berharga. Mereka beruntung bisa menyaksikan keindahan Burung Rangkong, spesies langka yang populasinya terus menurun. Pemandangan langka ini menjadi bukti bahwa Hutan Lindung Raja Mendara adalah habitat yang masih terjaga.
Penemuan lain yang mengejutkan adalah tulang belulang hewan berukuran besar di ketinggian sekitar 2.000 mdpl. Berdasarkan observasi awal, tulang tersebut diduga milik gajah. Namun, karena gajah biasanya hidup di dataran rendah, penemuan ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut dari para ahli.
Puncak Gunung Patah dan Upacara Kemerdekaan RI
Setelah 12 hari perjalanan, tim tiba di puncak sejati Gunung Patah pada 16 Agustus 2025. Keesokan harinya, bertepatan dengan HUT ke-80 Republik Indonesia, tim menggelar upacara bendera sederhana. Bendera Merah Putih dikibarkan di antara pepohonan tinggi, dan alunan lagu Indonesia Raya menggema, meski hanya dengan paduan suara seadanya.
"Karena kesederhanaannya ini, menurut saya, upacara ini lebih sakral daripada upacara biasanya. Itu jadi bukti kalau kita memang benar-benar bangga sama Indonesia," jelas Willy, salah satu anggota tim.
Dalam perjalanan pulang, tim memutuskan untuk menempuh jalur alternatif, yaitu Jalur Kance Diwe di Pagar Alam, Sumatera Selatan, karena logistik yang menipis. Keputusan ini terbukti tepat dan tim berhasil keluar dari hutan pada 17 Agustus 2025. Fakta bahwa mereka tidak berpapasan dengan pendaki lain di jalur yang lebih "ramah" ini menunjukkan bahwa Gunung Patah masih jarang terjamah publik.