Liputan6.com, Beijing - Seorang remaja desa di China yang belajar membuat roket secara otodidak mencuri perhatian publik. Dengan bahan sederhana dan modal terbatas, ia berhasil meluncurkan roket hingga setinggi 400 meter, bahkan kini diterima di universitas bergengsi jurusan teknik dirgantara.
Zhang Shijie, 18 tahun, berasal dari sebuah desa di Provinsi Hunan, China tengah. Minatnya pada roket muncul sejak usia 14 tahun setelah ia menonton siaran langsung peluncuran roket bersama ayahnya, dilansir dari SCMP, Selasa (23/9/2025).
Advertisement
Baru-baru ini, Zhang dengan bangga mengumumkan bahwa dirinya diterima di jurusan teknik dirgantara Universitas Dirgantara Shenyang, salah satu kampus terkemuka di bidang kedirgantaraan di China.
Awalnya Zhang tidak tahu apa-apa soal pembuatan roket. Ia belajar dari video pendek di internet, menyerap ilmu dari konten DIY roket yang dibagikan orang lain.
Pada November 2023, platform Douyin sudah memuat 4,7 juta video eksperimen sains, termasuk video roket bertenaga air yang jumlahnya meningkat delapan kali lipat tahun itu.
Pada ulang tahunnya Juni 2023, Zhang mengundang ayah dan teman-teman sekolah untuk menyaksikan uji coba pertamanya. Meski gagal karena hujan, keesokan harinya ia berhasil meluncurkan roket pertamanya.
Setelah lebih dari 100 percobaan, Zhang berhasil mengembangkan empat jenis mesin, sejumlah roket satu tahap, dan bahkan roket dua tahap yang mampu mencapai ketinggian 400 meter.
Bahan dan Alat Sederhana
Sekolah tempat Zhang belajar ikut mendukung semangatnya. Mereka memberinya dana 3.500 yuan (Rp8 juta), membantu merekrut siswa lain, serta menyediakan ruang kerja yang awalnya dipakai untuk kaligrafi.
Long Yanjiao, guru Zhang, mengatakan bahwa internet sangat membantu mengembangkan minat siswanya.
"Minat adalah guru terbaik bagi seseorang," ujarnya.
Zhang sendiri berusaha keras dengan memanfaatkan apa pun yang ia punya. Ia memakai laptop bekas milik kakaknya untuk mencari informasi di forum sains.
Ia juga pernah mengikis nitrat dari kandang babi keluarganya untuk membuat bahan bakar, lalu memasaknya dengan gula dan air.
Saat sadar bahan bakarnya tidak murni, ia menggunakan pengetahuan dari sekolah untuk menyaring pupuk agar menghasilkan bahan bakar lebih baik.
Ia juga mencoba membuat mesin roket dengan pipa PVC dan semen meski gagal. Tak berhenti di situ, Zhang mengajarkan dirinya sendiri 3D modelling, lalu membeli printer 3D bekas dengan uang angpao Tahun Baru Imlek dan pinjaman dari teman-temannya untuk mencetak komponen roket.
Zhang menyebut ruang kerjanya sebagai "rumah spiritual". Untuk menutup biaya, ia sempat menjual beberapa hasil karyanya ke institusi dan menggunakan uangnya untuk membayar utang pada teman-teman.
Dukungan Keluarga
Long yang sudah 30 tahun mengajar mengaku baru kali ini melihat murid dengan minat sains sedalam Zhang.
Keluarga Zhang juga terus mendukung mimpinya. Ayahnya bekerja sebagai sopir transportasi online di Changsha, ibu sebagai pengasuh di kota lain. Ayahnya menyebut Zhang memang berbeda dari anak-anak lain.
"Alih-alih bermain game, ia lebih suka membongkar mainan untuk tahu cara kerjanya," ujarnya.
Kisah Zhang ramai diperbincangkan di media sosial.
"Anak desa sering menghadapi tantangan besar kalau ingin mendalami sains, karena keterbatasan sekolah dan kekhawatiran orang tua soal biaya, " tulis seorang warganet.
“Benih yang ditanam sejak kecil bisa tumbuh menjadi pohon besar jika dirawat dengan baik, " tambah warganet lainnya.