Kasus Keracunan MBG Meningkat, Puan Sepakat Harus Ada Evaluasi Total

Puan menambahkan, tidak mudah melakukan evaluasi terkait banyaknya kasus keracunan MBG. Namun ia berharap tetap ada evaluasi total.

oleh Delvira HutabaratDiperbarui 22 September 2025, 15:08 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani menghadiri pertemuan tokoh bangsa yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (1/9/2025) (Istimewa)  

Liputan6.com, Jakarta Kasus pelajar keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) kian banyak. Pemerintah diusulkan menghentikan sementara program makan bergizi gratis (MBG) menyusul kasus keracunan terus muncul, sembari melakukan evaluasi. Ketua DPR Puan Maharani juga sepakat akan hal itu.

"Ya harus selalu dilakukan evaluasi untuk bisa ditindaklanjuti, untuk bisa pelaksanaannya di lapangan bisa menjadi lebih baik dan jangan sampai kemudian anak-anak yang kemudian dirugikan," kata Puan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (22/9/2025).

Puan menambahkan, tidak mudah melakukan evaluasi terkait banyaknya kasus keracunan MBG. Namun ia berharap tetap ada evaluasi total.

"Memang tidak mudah untuk melaksanakan hal tersebut karenanya memang pihak-pihak yang terkait harus bisa melakukan evaluasi total," pungkasnya.

 

KPAI Minta MBG Disetop Sementara

SPPG bertugas mengawasi standar kebersihan, pengelolaan gizi, dan pengolahan limbah di setiap Dapur MBG. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan pemerintah untuk menghentikan sementara program makan bergizi gratis (MBG), menyusul kasus keracunan yang dialami anak-anak meningkat. KPAI meminta agar Badan Gizi Nasional (BGN) selaku penyelenggara program mengevaluasi MBG untuk mencegah kasus keracunan terulang kembali.

 

"KPAI menyoroti berbagai peristiwa keracunan makanan yang terus meningkat, kejadiannya bukan menurun ya. Satu kasus anak yang mengalami keracunan bagi KPAI sudah cukup banyak," kata Wakil Ketua KPAI Jasra Pustra dikutip dari siaran persnya, Minggu (21/9/2025).

 

Pemerintah dinilai perlu melakukan evaluasi menyeluruh program MBG. Penghentian sementara diperlukan sampai instrumen panduan dan pengawasan yang sudah dibuat BGN benar-benar di laksanakan dengan baik.

 

 

Kasus Keracunan Sudah Tak Bisa Ditolerir

Menurut dia, kasus keracunan makanan yang dialami anak Indonesia dalam program MBG, sudah tidak bisa ditolerir lagi. Bahkan, kata Jasra, kasus keracunan juga dialami anak-anak usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

"Keracunan makanan yang dialami anak Indonesia dalam program MBG, seperti sudah tidak bisa ditolerir. Saya kira pertahanan anak sekecil itu, sangat berbeda dengan orang dewasa. Apalagi kita tahu, kebijakan negara yang mengetahui kondisi dari dalam keluarga (masih sulit di tembus)," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya