Gaya Wanda Hamidah Pakai Keffiyeh, Satu-satunya Wakil Indonesia di Kapal Bantuan Gaza

Gaya Wanda Hamidah dengan keffiyeh bukan cuma soal fesyen, tapi juga bentuk solidaritas nyata bagi Gaza.

oleh Naura RizkiawanDiterbitkan 20 September 2025, 19:00 WIB
Wanda Hamidah memakai keffiyeh saat membela Palestina. (dok. Instagram @wandahamidahbsa/https://www.instagram.com/p/DOv4C37DaXF/?igsh=Z3JleG9wcGNuN2th/Naura Rizkiawan)

Liputan6.com, Jakarta - Keffiyeh adalah penutup kepala tradisional dari Timur Tengah, khususnya Palestina, berbentuk syal persegi dari kain katun bermotif jaring khas yang berfungsi melindungi pemakainya dari sinar matahari, debu, dan pasir. Aksesori ini menemani Wanda Hamidah yang tengah berada di kapal misi bantuan Gaza, merujuk unggahan Instagram-nya, Kamis, 18 Sepotember 2025.

Scarf yang awalnya jadi penutup kepala pria Arab itu telah jadi simbol perlawanan dan solidaritas untuk warga Palestina yang tengah jadi korban genosida Israel. Dililitkan di leher atau diselendangkan di bahu, kain ini bisa langsung mengubah outfit sederhana jadi simbol penuh makna.

Wanda memadukan keffiyehnya dengan jaket merah tebal. Ia juga memakai coat dan atasan hitam yang serasi dengan scarf-nya. Sebagai satu-satunya wakil Indonesia di kapal misi bantuan Gaza, setiap detail tampilan mencerminkan keberanian, komitmen, dan kepedulian yang tulus.

Tantangan di Laut

Wanda Hamidah memakai keffiyeh saat membela Palestina. (dok. Instagram @wandahamidahbsa/https://www.instagram.com/reel/DOpHmcaCJsM/?igsh=MWl6NWRyZWJwcHJqYw==/Naura Rizkiawan)

Dilihat dari unggahan lainnya, perjalanan Wanda dan tim menuju Gaza tidaklah mudah. Pada hari ketiga, angin kencang dan ombak tinggi membuat kapal basah kuyup, sehingga tim sempat harus berhenti sebentar di Italia untuk pengisian bahan bakar.

Kapal Kaiser yang ditumpangi Wanda awalnya belum terpasang tracker, sehingga koordinasi dengan kapal lain sempat sedikit rumit. Namun, semua rintangan itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap melanjutkan misi kemanusiaan. Gerakan ini bersifat sipil, non-violent, dan bertujuan membawa bantuan, serta membuka koridor dari blokade di Gaza.

Keffiyeh yang dikenakan Wanda dalam kondisi ini jadi simbol keyakinan hati, sebuah aksesori kecil yang membawa pesan besar tentang solidaritas, keberanian, dan komitmen untuk tetap maju meski menghadapi gelombang, angin, dan ombak yang tidak bersahabat.

Dari Hati untuk Gaza

Wanda Hamidah memakai keffiyeh saat membela Palestina. (dok. Instagram @wandahamidahbsa/https://www.instagram.com/reel/DOcYXuLCJJj/?igsh=MTY2dHl3aW80cXYzdQ==/Naura Rizkiawan)

Wanda sempat menyampaikan motivasinya pergi ke Gaza sangat personal dan mendalam. Ia tidak bisa hanya menonton rakyat Palestina terus jadi korban kekerasan dan genosida tanpa bertindak. Sebagai ibu dari empat anak, seorang saudara, teman, dan manusia yang peduli, ia merasakan keterikatan kemanusiaan yang kuat dengan warga Gaza.

Di unggahannya, ia menekankan, menonton genosida sambil menjalani hidup normal membuat seseorang merasa tidak berdaya, bahkan kehilangan makna hidup. Karena itu, keputusannya berangkat adalah bentuk perlawanan terhadap rasa tidak berdaya tersebut, sekaligus wujud nyata bahwa setiap aksi sekecil apapun berarti.

Perjalanan ini bukan hanya fisik, tapi juga moral dan spiritual, menunjukkan keberanian, komitmen, dan rasa kemanusiaan yang nyata. Ia ingin menginspirasi banyak orang untuk peduli, berbuat, dan tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama.

Solidaritas dan Dukungan Publik

Wanda Hamidah memakai keffiyeh saat membela Palestina. (dok. Instagram @wandahamidahbsa/https://www.instagram.com/p/DOX40oJDXbl/?igsh=ODAxNHJmbGs1ZDZm/Naura Rizkiawan)

Ketika kapal sempat kehabisan bahan bakar dan harus berlabuh di Kiblia, semangat tim tidak padam, menunjukkan dedikasi dan tekad yang luar biasa.

Dukungan publik pun mengalir deras, misalnya melalui rumahzakat.org/menembusblokadegaza, untuk memastikan bantuan bisa sampai ke tangan yang membutuhkan. Informasi tambahan dari akun Instagram @m_shebrawy juga menyoroti kondisi Gaza yang masih darurat, serta pentingnya kesadaran publik terhadap situasi genosida yang terus berlangsung.

Solidaritas ini bukan hanya tentang mereka yang berada di kapal, tapi juga tentang semua pihak yang ikut menyuarakan, mendukung, dan membantu dari jauh. Dari Indonesia, doa, perhatian, serta bantuan menunjukkan bahwa semangat kemanusiaan bisa melintasi batas negara, menyatukan banyak orang untuk tujuan yang sama, yaitu membela kehidupan dan harapan rakyat Gaza.

Infografis Aksi Pro-Palestina Marak di Kampus-Kampus AS dan Prancis. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya