PB HMI Nilai Langkah Rahayu Saraswati Mundur dari DPR Jadi Teladan Akuntabilitas Bagi Pemimpin Muda

Rahayu mengumumkan pengunduran dirinya melalui video di akun Instagram pada Rabu, 10 September 2025.

oleh Ady AnugrahadiDiperbarui 19 September 2025, 05:57 WIB
Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menilai keputusan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo untuk mundur dari kursi DPR RI sebagai contoh akuntabilitas personal yang layak dijadikan rujukan bagi generasi pemimpin berikutnya.

Ketua Umum PB HMI, Bagas Kurniawan, menyatakan, “Akuntabilitas bukan slogan. Saat terjadi kekeliruan yang melukai publik, pemimpin muda wajib mengambil konsekuensi, memulihkan kepercayaan, dan memastikan lembaga tetap bekerja.”

Rahayu mengumumkan pengunduran dirinya melalui video di akun Instagram pada Rabu, 10 September 2025. “Saya menyatakan pengunduran diri sebagai Anggota DPR RI kepada Fraksi Partai Gerindra,” ujar Rahayu dalam unggahan video tersebut.

Menurut Bagas, pilihan mundur menunjukkan kesediaan mengambil tanggung jawab politik secara nyata. “Ini standar yang harus dinormalisasi—own the mistake, fix the trust. Contoh konkret seperti ini penting agar etika publik tidak berhenti pada retorika,” katanya.

Sejumlah pihak di parlemen menyebut pengunduran diri Rahayu akan diproses sesuai ketentuan.

Sekretaris Fraksi Gerindra Bambang Haryadi menyatakan fraksinya menghormati keputusan politik tersebut dan menyiapkan tindak lanjut administratif. Rahayu sendiri saat itu berposisi sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI.

PB HMI juga menyoroti beredarnya spekulasi bahwa pengunduran diri berkaitan dengan peluang kursi Menpora. Rahayu membantah anggapan itu dan menegaskan, bila tujuannya menjadi menteri, ia tidak perlu mundur dari DPR. Gerindra melalui pimpinan fraksi turut menepis isu serupa.

 

Taat Etika

Rahayu Saraswati (Istimewa)

Bagas menambahkan, sikap Rahayu mengirim sinyal penting bagi ekosistem politik: mengakui salah, mengambil konsekuensi, lalu memulihkan kepercayaan publik.

“Itu inti kepemimpinan: menempatkan kepentingan publik di atas kenyamanan jabatan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bagas berharap kedepan Rahayu tetap terus berkiprah dalam kepemimpinan sosial.

“Beliau tetap aset yang berharga bagi Indonesia, politisi muda yang taat etika dan berprestasi. Harus didukung untuk tetap berkiprah dan terus berkontribusi menciptakan pencerdasan dalam kepemimpinan bagi generasi muda.”

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya