Investor Paus Borong Bitcoin Rp 11 Triliun sesaat Sebelum The Fed Pangkas Bunga

Akuisisi atau pembelian ini menjadi salah satu pembelian Bitcoin terbesar dalam satu hari sepanjang tahun ini. Pembelian ini dilakukan sebelum the Fed mengumumkan penurunan suku bunga acuan.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 18 September 2025, 10:00 WIB
Harga Bitcoin berada di level USD 116.418 per koin atau setara Rp 1,91 miliar (asumsi kurs Rp 16.451 per dolar AS). Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Seorang investor raksasa Bitcoin, yang sering disebut investor paus, baru saja membuat gebrakan. Hanya satu hari sebelum pengumuman suku bunga Federal Reserve (The Fed), investor paus tersebut mengakuisisi Bitcoin senilai lebih dari USD 680 juta, atau sekitar Rp 11,2 triliun (estimasi kurs Rp 16.478 per USD). The Fed saat ini telah mengumumkan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps) atau 0,25%.

Dikutip dari coinmarketcap, Kamis (18/9/2025), sebelumnya memang semua orang percaya bahwa The Fed memangkas suku bunga. Pembelian yang sangat besar ini ini menunjukkan optimisme yang sangat kuat terhadap Bitcoin.

Data dari Arkham, platform analisis blockchain, mengonfirmasi bahwa pembelian ini terjadi pada 16 September. Akuisisi ini menjadi salah satu pembelian Bitcoin terbesar dalam satu hari sepanjang tahun ini. Pergerakan besar ini terjadi setelah Bitcoin (BTC) berada dalam fase konsolidasi, diperdagangkan di sekitar level USD 115.000, saat para investor menunggu sinyal yang lebih jelas dari bank sentral AS.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Kamis, (18/9/2025) pukul 7:00 WIB, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) melemah. Bitcoin turun tipis 0,35 persen dalam 24 jam, tetapi masih mengaut 2,12 persen sepekan. 

Harga Bitcoin berada di level USD 116.418 per koin atau setara Rp 1,91 miliar (asumsi kurs Rp 16.451 per dolar AS). 

 

Mengapa Pemangkasan Suku Bunga Penting untuk Bitcoin?

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Waktu pembelian Bitcoin oleh paus ini sangat strategis. Suku bunga yang lebih rendah—seperti yang diperkirakan akan dipotong 25 basis poin oleh The Fed—berfungsi sebagai katalis utama bagi aset berisiko. Di pasar keuangan, suku bunga yang rendah membuat instrumen investasi tradisional seperti obligasi kurang menarik.

Akibatnya, investor cenderung mengalihkan dana mereka ke aset yang berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi, termasuk mata uang kripto.

Selain itu, pemangkasan suku bunga sering kali menjadi sinyal bahwa bank sentral mengadopsi kebijakan moneter yang lebih longgar, yang dapat melemahkan nilai dolar AS.

Bagi banyak investor, Bitcoin dianggap sebagai aset lindung nilai (hedge) terhadap devaluasi mata uang. Dengan melemahnya dolar, harga Bitcoin berpotensi mengalami kenaikan.

 

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Banyak analis memperkirakan bahwa Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akan mengumumkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin—ini akan menjadi yang pertama kalinya di tahun ini. Bahkan, platform prediksi terkemuka, Polymarket, menunjukkan adanya kemungkinan 90% bahwa keputusan tersebut akan diambil.

Meskipun ada kekhawatiran tentang efek "beli rumor, jual berita" (di mana harga aset turun setelah berita positif terkonfirmasi), banyak pihak tetap yakin bahwa kondisi makroekonomi yang lebih luas akan terus menjadi pendorong positif bagi harga Bitcoin.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya