Kredit Nganggur Jadi Biang Kerok Suku Bunga Bank Lambat Turun

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, alasan mengapa penurunan suku bunga acuan BI Rate belum diikuti oleh turunnya suku bunga perbankan secara signifikan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 17 September 2025, 17:15 WIB
Ilustrasi Bank

Liputan6.com, Jakarta Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan, alasan mengapa penurunan suku bunga acuan BI Rate belum diikuti oleh turunnya suku bunga perbankan secara signifikan. Padahal, sejak tahun lalu, BI sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak enam kali.

Menurut Perry, penurunan suku bunga BI  (BI Rate) sebenarnya sudah berdampak pada pasar uang. Suku bunga Surat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tercatat menurun, begitu pula dengan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Namun, transmisi ke suku bunga deposito dan kredit perbankan masih berlangsung lambat.

Perry mencatat dana deposan besar tersebut mencapai Rp 2.380,4 triliun. Kondisi ini membuat bank masih harus menjaga tingkat bunga deposito untuk mempertahankan likuiditas.

"Mengapa suku bunga deposito belum turun karena salah satu faktornya adanya special rate pada deposan besar yang 25 persen dari total DPK perbankan yang jumlahnya sekitar Rp 2.380,4 triliun," kata Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG September 2025, Rabu (17/9/2025).

Perry menuturkan, keberadaan special rate untuk deposan besar menjadi faktor utama mengapa suku bunga deposito sulit turun signifikan. Data BI menunjukkan, sepanjang 2025, suku bunga deposito satu bulan baru turun sekitar 16 basis poin.

Lambatnya penurunan bunga deposito turut berdampak pada suku bunga kredit perbankan. Hingga kini, suku bunga kredit baru mengalami penurunan sekitar 7 basis poin.

"Sehingga kenapa suku bunga deposito satu bulan itu baru turun 16 basis poin selama tahun 2025 dan juga tentu saja membuat suku bunga perbankan berjalan lebih lambat. Suku bunga kredit perbankan baru turun sebesar 7 basis poin," ujarnya.

Menurutnya, dengan kondisi tersebut, kecepatan penurunan suku bunga kredit masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dikejar agar manfaat kebijakan moneter bisa lebih optimal dirasakan masyarakat dan dunia usaha.

 

 

Faktor Kredit Nganggur

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam pembukaan Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan Festival Ekonomi dan Keuangan Digital (FEKDI) 2024, di Jakarta, Kamis (1/8/2024). (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Selain faktor deposito, Perry juga mengungkap sisi lain yang memperlambat penurunan bunga kredit, yakni tingginya porsi undisbursed loan atau kredit yang belum digunakan debitur.

Bank Indonesia mencatat hingga Agustus 2025, jumlah kredit nganggur tercatat sebesar Rp 2.372,1 triliun atau 22,71 persen dari plafon kredit perbankan.

"Jadi kredit yang diberikan bank itu memang juga belum semuanya digunakan oleh perbankan dan karena itu tercermin pada adalah dalam adisment loan yang jumlahnya Rp 2.372,1 triliun atau sebesar 22,71 persen dari plafon yang tersedia," ujarnya.

 

Waktu Penurunan BI Rate

Gubernur BI Perry Warjiyo (kanan) didampingi DGS Destry Damayanti memberi keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Kantor BI, Jakarta, Kamis (19/9/2019). Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sejak September 2024, bank sentral Indonesia mulai menurunkan BI-Rate setelah periode pengetatan moneter. Pada bulan tersebut, BI-Rate dipangkas sebesar 25 bps menjadi di level 6 persen.

Kemudian, pada Januari Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen, setelah melaksanakan pertemuan pada 14-15 Januari 2025. BI memangkas BI-Rate sebesar 25 basis poin.

Selanjutnya, pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) 20-21 Mei 2025 memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

Penurunan BI rate ke keempat dilakukan Bank Indonesia Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Juli 2025, memuruskan menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen.

Lalu, penurunan suku bunga kelima, dilakukan Bank Indonesia pada 19-20 Agustus 2025. Pihaknya memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,00 persen.

Terbaru, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2025, bank sentral kembali memangkas BI-Rate sebesar 25 bps sehingga kini berada pada level 4,75 persen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya