Akbar Tak Lagi Tidur di Lantai Bengkel, Kini Jalani Hidup Baru di Sekolah Rakyat

Kehidupan keras tersebut Akbar jalani sampai akhirnya ayahnya dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang ke bengkel. Pendamping PKH tersebut menawarkan agar Akbar bersekolah di Sekolah Rakyat.

oleh Wuri AnggariniDiperbarui 16 September 2025, 17:55 WIB
Akbar Rusman, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar. Foto: Biro Humas Kemensos

Liputan6.com, Jakarta Tubuh mungil Akbar Rusman (15) dulu akrab dengan dinginnya lantai bengkel. Kini, nasib membawanya ke jalan yang lebih baik setelah ia terpilih sebagai salah satu siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar.

Saat ditemui di perpustakaan, Akbar mengenakan kaos merah khas seragam SRMA 26. Dengan senyum kecil, ia mengaku sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari program inisiasi Presiden RI Prabowo Subianto yang digerakkan oleh Kementerian Sosial RI.

“Kini saya dapat tidur berselimut hangat di atas kasur yang empuk,” ujar putra sulung dari empat bersaudara itu.

Akbar Rusman, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar. Foto: Biro Humas Kemensos

Sembari membawa buku pilihannya, Akbar duduk dan menceritakan kehidupannya sebelum tinggal di asrama Sekolah Rakyat. Ia mengaku adiknya yang pertama bersekolah SMP dan adiknya yang nomor dua berada di bangku kelas 3 SD. Tapi, keduanya sudah putus sekolah sejak 2024. Sedangkan adik bungsunya meninggal saat bayi.

Saat ditanya bagaimana pendapat orangtuanya soal anaknya yang putus sekolah, Akbar enggan menjawab pertanyaan tersebut. Ia hanya mengatakan orang tuanya telah bercerai pada 2024 lalu.

"Waktu itu aku masih SMP kelas 2, mamaku bilang, kalau Akbar sudah lulus, mama tinggalkan," katanya.

Sejak kepergian ibunya yang hanya membawa adik perempuannya, ia sempat tinggal di rumah bersama ayah dan adik pertamanya. Tapi, ia mengaku tak nyaman tinggal bersama ayahnya. Ia pun mulai sering berkunjung ke bengkel tempat sepupu dan pamannya bekerja sebagai montir.

"Waktu itu pertama saya tidak kerja di situ, sepupu saya panggil bilang mau kerja tidak di bengkel. Sampai adik saya ikut sama saya," katanya.

Akbar pun akhirnya tak melanjutkan pendidikannya ke jenjang SMA. Ia memilih menjadi montir bersama adiknya di bengkel tempat ia bermalam.

Penghasilan di bengkel tempatnya bekerja tak menentu, sehingga penghasilan Akbar tiap harinya juga tak menentu meskipun ia mendapat shift kerja mulai jam 12 malam sampai jam 6 pagi.

Akbar Rusman, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 26 Makassar. Foto: Biro Humas Kemensos

“(Penghasilan) kadang turun, kadang naik. Paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 300 ribu,” jelasnya.

Uang hasil kerjanya ia gunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sesekali, ia juga berbagi dengan adiknya.

“Kadang juga saya kasih uang adikku, kalau tidak makan dia,” tambahnya.

Tidur beralaskan lantai bengkel menjadi rutinitasnya kala itu. Akbar, adiknya, serta kerabatnya menempati ruang kecil tanpa kamar mandi, hingga harus menumpang mandi di pom bensin. 

Semua berubah ketika pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) datang bersama ayahnya menawarkan kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat. Tanpa ragu, Akbar menerima. “Senang, banyak teman,” katanya. 

Sejak tinggal di asrama SRMA, hidupnya terasa lebih layak. Ia kini memiliki kamar dengan kasur, lemari, meja belajar, rak sepatu, kipas angin, hingga perlengkapan pribadi. 

Pada malam pertamanya, Akbar merasakan tidur di kasur empuk dengan selimut hangat. “Enak tidurnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Bukan hanya tempat tinggal, rutinitasnya pun berubah. Kini, ia tidur lebih awal dan bangun sebelum Subuh.

“Kalau di sini tidurnya jam 9 malam. Bangun jam 4 sebelum salat Subuh,” jelasnya.

Selepas salat Subuh, kegiatan olahraga menjadi rutinitas wajib sebelum masuk kelas. Menurutnya, adaptasi belajar tidak terlalu sulit.

“Yang saya syukuri bisa belajar dengan baik,” kata Akbar. 

Matematika dan Pendidikan Kewarganegaraan menjadi pelajaran favoritnya. Ia pun menyimpan mimpi besar: mengabdi pada bangsa sebagai anggota TNI atau polisi.

“Lebih enak di sini. Bisa belajar dengan baik, harapannya sukses dan bisa membanggakan orang tua. Semoga orang tua saya sehat selalu,” tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya