Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat pada penutupan perdagangan Senin (15/9/2025) setelah serangan pesawat nirawak Ukraina kembali menghantam fasilitas energi Rusia. Kondisi ini semakin diperkuat dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan kesiapan menjatuhkan sanksi baru kepada Rusia, asalkan seluruh negara NATO ikut menghentikan pembelian minyak dari Moskow.
Mengutip CNBC, Selasa (16/9/2025), harga minyak mentah Brent berjangka naik 45 sen atau 0,67% menjadi USD 67,44 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 61 sen atau 0,97% di level USD 63,30 per barel.
Advertisement
Menurut pejabat Rusia, Ukraina melancarkan serangan besar-besaran menggunakan sedikitnya 361 drone yang menargetkan kilang minyak Kirishi di barat laut Rusia. Serangan ini memicu kebakaran singkat, meski berhasil dipadamkan.
Pekan lalu, harga minyak juga sempat terkerek lebih dari 1% setelah Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, termasuk terminal ekspor minyak terbesar negara itu, Primorsk, yang memiliki kapasitas hingga 1 juta barel per hari. Sementara kilang Kirishi sendiri memproses sekitar 355.000 barel per hari atau 6,4% dari total pasokan Rusia.
Pasokan OPEC+
“Jika kita melihat pergeseran strategis Ukraina menuju infrastruktur ekspor minyak Rusia, hal itu membawa risiko positif pada prakiraan harga,” jelas analis pasar IG, Tony Sycamore.
Namun, ia juga mengingatkan adanya kekhawatiran soal kelebihan pasokan seiring rencana OPEC+ meningkatkan produksi.
Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa sanksi energi baru terhadap Rusia hanya akan diberlakukan bila semua sekutu NATO sepakat menghentikan impor minyak dari negara tersebut.
Situasi ini semakin kompleks karena bertepatan dengan dimulainya perundingan dagang AS–Tiongkok di Madrid, yang juga menyinggung soal pembelian minyak Rusia.
Data Ekonomi AS
Sementara itu, data ekonomi terbaru dari AS menunjukkan pelemahan penciptaan lapangan kerja dan inflasi yang lebih tinggi, sehingga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di konsumen minyak terbesar dunia tersebut.
Departemen Tenaga Kerja AS sebelumnya menyatakan bahwa ekonomi AS kemungkinan menciptakan 911.000 pekerjaan lebih sedikit dalam 12 bulan hingga Maret dibanding perkiraan sebelumnya.
Departemen tersebut juga melaporkan pada Kamis bahwa indeks harga konsumen naik 0,4% pada Agustus, kenaikan terbesar sejak Januari, setelah meningkat 0,2% pada Juli.