Kemlu RI: Prabowo Dapat Urutan Pidato Ketiga di Sidang Umum PBB

Hadirnya Presiden Prabowo bertepatan dengan peringatan 80 tahun berdirinya PBB.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiperbarui 11 September 2025, 18:44 WIB
Prabowo Subianto tanggapi kematian Affan Kurniawan (Liputan6.com/istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Luar Negeri RI memastikan Presiden Prabowo Subianto akan hadir langsung memimpin delegasi Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-79 di New York.

Sidang tahun ini dianggap istimewa karena bertepatan dengan peringatan 80 tahun berdirinya PBB di tengah dinamika global yang penuh tantangan dan menurunnya kepercayaan dunia terhadap multilateralisme.

Direktur Jenderal Multilateral Kemlu RI Tri Tharyat mengungkapkan bahwa Prabowo mendapat kesempatan untuk berpidato di sesi debat umum dengan urutan ketiga.

"Urutan pertama secara tradisi adalah Brasil, kedua Amerika Serikat, dan Indonesia tahun ini mendapat giliran ketiga berdasarkan hasil undian," kata Tri Tharyat dalam press briefing Kemlu RI di Jakarta, pada Kamis (11//9/2025).

Pidato kepala negara dibatasi 15 menit, sesuai prosedur PBB. Lampu tanda akan berkedip pada menit ke-12, dan berubah merah pada menit ke-15 untuk menandakan batas waktu.

Menurut Kemlu, kehadiran Prabowo akan menegaskan kembali komitmen Indonesia terhadap multilateralisme, reformasi PBB, dan peran Global South.

"Isu Palestina, serangan terhadap negara berdaulat, serta berbagai topik tematik seperti iklim, kesehatan mental, hingga penghapusan senjata nuklir akan menjadi sorotan," ujar Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kemlu RI Umar Hadi.

Selain itu, Sidang Majelis Umum tahun ini juga menjadi momentum strategis dengan adanya pertemuan tingkat tinggi soal solusi dua negara pada 22 September, peringatan 80 tahun PBB, serta 176 pertemuan resmi dan side events.

Indonesia tercatat mendapat undangan lengkap, mulai dari level kepala negara hingga pakar.

Umar Hadi menegaskan, meski detail isi pidato Presiden Prabowo belum dapat dibagikan, arah besar yang akan diangkat adalah dinamika global, dorongan reformasi multilateralisme, dan konsistensi Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya