Liputan6.com, Jakarta Much Billal Tajudin Sopian (11), bocah asal Kampung Kutamaneuh, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi berjuang melawan tuberkulosis (TBC) dan gizi buruk yang menggerogoti tubuhnya.
Bobot tubuhnya menyusut hanya 17 kilogram akibat penyakit tersebut. Kini, bocah itu menjalani perawatan intensif di ruang isolasi RSUD R Syamsudin SH.
Advertisement
Kondisi Billal yang memprihatinkan mendapat perhatian langsung dari Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. Raden Vini Adiani Dewi. Dia turun ke lapangan untuk memastikan penanganan medis dan dukungan gizi berjalan optimal.
"Begitu mendapat laporan, kami langsung bergerak. Pemeriksaan terhadap seluruh anggota keluarga telah kami instruksikan untuk mencegah penularan," ujar Vini, Rabu (10/9/2025).
Dinas Kesehatan Jawa Barat juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi agar kebutuhan gizi Billal dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Keanggotaan BPJS Kesehatan keluarga Billal pun telah diaktifkan untuk menjamin pembiayaan pengobatan.
"Ini bukti bahwa semua pihak peduli. Pengobatan TBC di puskesmas gratis, dan kami imbau masyarakat tidak takut memeriksakan diri," ungkapnya.
Penjelasan Medis dari Dokter Anak
Dokter Spesialis Anak RSUD R Syamsudin SH, dr. Anggun Puspita Dewi, menjelaskan bahwa kondisi Billal cukup kompleks. Selain TBC, ia menunjukkan indikasi TBC Meningitis dan anemia yang masih dalam evaluasi.
"Gizi buruknya parah, kemungkinan penyakit ini sudah lama diderita tapi baru terdeteksi. Proses penyembuhan TBC bisa memakan waktu hingga satu tahun, sementara pemulihan gizi bisa butuh 1-2 tahun," jelasnya.
Untuk sementara, Billal akan dirawat di rumah sakit hingga kondisinya stabil, lalu menjalani rawat jalan dengan kontrol rutin. Puskesmas setempat akan mendampingi pemantauan berat badan dan pengobatan.
Potret Gizi Buruk
Kasus Billal kembali membuka potret persoalan gizi buruk dan TBC di daerah. Dua penyakit ini masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, di tengah keterbatasan ekonomi dan minimnya akses layanan kesehatan.
Perjuangan Billal adalah cerminan bahwa kesehatan bukan hanya soal medis, tetapi juga soal sosial dan ekonomi. Meski jalannya panjang, harapan tetap terbuka.
"Kalau pola makan membaik, obat diminum teratur, dan orang tua konsisten, Insya Allah Billal bisa sembuh," ungkapnya.