Saat Orang Terdekat Berisiko Bunuh Diri, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Bisa Dilakukan

Isu kesehatan mental tidak bisa dianggap sepele, ketahui hal yang bisa dilakukan untuk mencegah seseorang yang berisiko bunuh diri.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 07 September 2025, 17:00 WIB
Ilustrasi mencegah seseorang bunuh diri menurut psikolog copyright/freepik

Liputan6.com, Jakarta Dunia hiburan dikejutkan dengan kabar Nandi Juliawan yang juga pemeran Encuy dalam sinetron Preman Pensiun meninggal dunia pada Sabtu, 6 September 2025. Berdasarkan olah tempat kejadian perkara (TKP), pihak kepolisian menemukan tanda-tanda Encuy Preman Pensiun bunuh diri.

Kabar duka ini bukan hanya menyisakan kehilangan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa isu kesehatan mental tidak bisa dianggap sepele.

Psikolog Gadjah Mada Medical Center, Nopi Rosyida, mengungkapkan bahwa depresi merupakan salah satu penyebab bunuh diri. Mengenali gejala depresi dan mengetahui cara memberi pertolongan pertama bisa menjadi langkah sederhana yang sangat berarti.

Nopi menuturkan bahwa bila seseorang menunjukkan tanda-tanda depresi, ada langkah awal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya melakukan bunuh diri. Setiap orang, kata Nopi, bisa menjadi penolong pertama. Jangan remehkan kemampuan Anda untuk menolong OKBD (Orang dengan Kecenderungan Bunuh Diri) dan mencegahnya bunuh diri.

Nopi menjelaskan bahwa ada tiga hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk pertolongan pertama dalam hal psikologis.

“Prinsip dasar dalam Psychological First Aid (PFA) adalah look (amati yang dibutuhkan, kemudian berikan bantuan secukupnya, tidak terlalu banyak, juga tidak terlalu sedikit). Lalu, listen (tidak perlu memaksa mereka untuk bercerita, jangan memaksakan bantuan karena mengambil jarak juga merupakan PFA), dan link (apabila situasinya memungkinkan ajak ia untuk menemui professional)," kata Nopi mengutip laman resmi UGM.

 

Bisa Memberikan Penghiburan

Ditambahkan psikolog Nurul Kusuma, seseorang juga bisa memberikan penghiburan serta mendorong untuk melakukan self-help dan melakukan strategi dukungan lain.

 

Apa Simtom Seseorang Diduga Mengalami Depresi?

Dalam depresi, ada yang disebut Major Depressive Disorder yang terdiri dari sembilan gejala. Dalam hal ini setidaknya ada lima simtom yang dialami dalam dua minggu yang sama.

Berikut simtom yang mungkin dialami:

  • Perasaan tertekan pada sebagian besar waktu, hampir setiap hari, ditunjukkan oleh laporan pribadi misalnya merasa sedih, kosong, dan putus asa. 
  • Berkurangnya minat atau kesenangan secara nyata pada semua atau sejumlah besar aktivitas. 
  • Penurunan/peningkatan berat badan yang signifikan ketika tidak melakukan diet/program penambahan berat badan.
  • Insomnia atau hypersomnia hampir setiap hari. 
  • Agitasi atau retardasi psikomotor hampir setiap hari. 

Simtom Lain dari Depresi

Simtom lain dari depresi yakni:

  • Merasa tidak berharga atau memiliki rasa bersalah berlebihan, berkurangnya kemampuan berpikir/berkonsentrasi.
  • Lalu muncul pikiran tentang kematian yang berulang (bukan ketakutan akan kematian), ide bunuh diri yang berulang baik tanpa rencana atau dengan rencana yang jelas dalam bunuh diri.

“Ini disampaikan bukan untuk self-diagnose tetapi memberikan gambaran secara umum seperti apa depresi itu," kata Nopi. Jika memang merasa gejala di atas harus dikonfirmasi. Bisa dengan mendatangi psikolog atau ke psikiater langsung."Bisa jadi ada beberapa simtom yang mirip tetapi bisa jadi bukan depresi namun gangguan lain. Lalu, depresi merupakan salah satu penyebab bunuh diri. Penyebabnya banyak, namun salah satunya depresi.” papar Nopi.

INFORMASI KONTAK BANTUAN

Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, atau keluarga yang Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi dokter kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan (Puskesmas atau Rumah Sakit) terdekat.

Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.tldigital.sahabatku

Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 yang melayani berbagai pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.

Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya