BMKG: Hoaks Gerhana Bulan Bisa Memicu Gempa

BMKG menyatakan, gerhana bulan tidak berkorelasi dengan aktivitas kegempaan di Indonesia

oleh Mevi LinawatiDiterbitkan 06 September 2025, 14:03 WIB
Pemandangan penumbra saat mulai menutupi permukaan bulan pada proses terjadinya gerhana bulan yang terlihat di atas langit Jakarta, Rabu (31/1). Gerhana Bulan Total ini disertai dengan Supermoon dan Blue Moon. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena langit gerhana bulan total akan terjadi pada Minggu 7 September 2025. Beredar informasi gerhana bulan bisa memicu gempa, benarkah?

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Setyoajie Prayoedhie menegaskan informasi gerhana bulan bisa memicu gempa adalah tidak benar.

"Ini hoax. Gerhana bulan tidak berkorelasi dengan aktivitas kegempaan di Indonesia," kata Setyoajie ketika dihubungi Liputan6.com, Sabtu (6/9/2025).

Dia menjelaskan, peristiwa gempa di Indonesia secara umum disebabkan oleh aktivitas tektonik di zona sesar aktif atau subduksi dan karena aktivitas vulkanik gunung berapi aktif.

Sementara itu, menurut BMKG, Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar (di satu garis lurus). Hal ini membuat Bulan masuk ke bayangan inti (umbra) Bumi.

Saat puncak gerhana terjadi, Bulan akan terlihat berwarna merah jika langit cerah. Warna merah pada Bulan disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.

Cahaya matahari yang melewati atmosfer Bumi akan terhambur, sehingga cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru akan tersebar lebih banyak, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah akan lolos dan mencapai permukaan Bulan, sehingga Bulan tampak merah.

4 Kali Gerhana pada 2025

Foto fenomena gerhana bulan total di kota Jakarta, Sabtu (28/7). Gerhana bulan total "Micro Blood Moon" tersebut merupakan yang terlama pada abad ini dengan total waktu termasuk fase penumbra dan parsial selama enam jam lebih. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Pada tahun 2025 terjadi 4 kali gerhana, yaitu 2 kali gerhana Bulan dan 2 kali gerhana Matahari. Rinciannya adalah sebagai berikut:

1. Gerhana Bulan Total (GBT) 14 Maret 2025 dengan fase akhir dapat diamati dari sedikit wilayah di Indonesia Timur.

2. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 29 Maret 2025 yang tidak dapat diamati dari Indonesia

3. Gerhana Bulan Total (GBT) 7 September 2025 yang dapat diamati dari Indonesia.

4. Gerhana Matahari Sebagian (GMS) 21 September 2025 yang tidak dapat diamati dari Indonesia

 

Waktu Kejadian Gerhana Bulan Total 7 September 2025

Foto fenomena gerhana bulan total di kota Jakarta, Sabtu (28/7). Gerhana bulan total "Micro Blood Moon" tersebut merupakan yang terlama pada abad ini dengan total waktu termasuk fase penumbra dan parsial selama enam jam lebih. (Liputan6.com/Johan Tallo)

 1. Gerhana Penumbra mulai

WIB: 22.26.56

WITA: 23.26.56

WIT:00.26.56

2. Gerhana Sebagian mulai

WIB: 23.26.44

WITA: 00.26.44

WIT: 01.26.44

3. Gerhana Total mulai

WIB: 00.30.17

WITA: 01.30.17

WIT: 02.30.17

4. Puncak Gerhana

WIB: 01.11.45

WITA: 02.11.45

WIT: 03.11.45

5. Gerhana Total berakhir

WIB: 01.53.13

WITA: 02.53.13

WIT: 03.53.13

6. Gerhana Sebagian berakhir

WIB: 02.56.46

WITA: 03.56.46

WIT: 04.56.46

7. Gerhana Penumbra berakhir

WIB: 03.56.34

WITA: 04.56.34

WIT: 05.56.34

Durasi gerhana dari fase Gerhana mulai hingga Gerhana berakhir adalah 5 jam 29 menit 48 detik. Adapun durasi parsialitas, yaitu lama waktu dari fase Gerhana Sebagian mulai hingga Gerhana Sebagian berakhir terjadi selama 3 jam 20 menit 2 detik.

Durasi Totalitas Gerhana Bulan Total 7 September 2025 ini akan berlangsung selama 1 jam 22 menit 56 detik.

Infografis Gerhana Bulan Sebagian. (Foto: Dok. BMKG Bandung)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya