Museum Van Gogh Terancam Tutup jika Pemerintah Belanda Tak Tambah Dana Bantuan

Seberapa parah kondisi bangunan Museum Van Gogh hingga butuh tambahan dana pemerintah?

oleh Indra Cahya VanleonDiperbarui 04 September 2025, 21:32 WIB
Van Gogh Museum, Amsterdam. (Photo: Frans Ruiter/Unsplash)

Liputan6.com, Amsterdam - Museum Van Gogh di Amsterdam, Belanda, rumah bagi ratusan karya salah satu pelukis paling terkenal abad ke-19, menyatakan bisa terpaksa tutup bila pemerintah Belanda tidak menambah dana renovasi yang sangat dibutuhkan.

Peringatan itu diumumkan lewat siaran pers pada Rabu, langkah yang dianggap tidak biasa oleh pihak museum. Menurut mereka, pemerintah Belanda telah "tidak menepati janji" yang dibuat dengan Yayasan Vincent van Gogh sejak 1962.

Yayasan tersebut memiliki sebagian besar karya seni yang dipamerkan, termasuk lukisan ikonik The Potato Eaters (1885), dilansir dari Art News, Kamis (4/9/2025).

Janji 1962 Dipertanyakan

Ilustrasi - perjanjian bisnis (cloudpro)

Kesepakatan yang ditandatangani setelah keturunan Van Gogh menyerahkan ratusan karyanya kepada yayasan menyebutkan bahwa negara Belanda wajib membiayai pembangunan dan pemeliharaan Museum Van Gogh.

Namun, pihak museum menilai dukungan dana pemerintah tidak lagi memadai dan telah melayangkan gugatan hukum, menurut laporan The New York Times.

Saat ini, museum menerima sekitar USD 10 juta (Rp163 miliar) per tahun dari pemerintah. Namun, mereka membutuhkan tambahan sekitar USD 2,9 juta (Rp47 miliar) setiap tahun untuk mendukung biaya pengendalian iklim, perbaikan lift, hingga infrastruktur bangunan.

Dalam pernyataannya, pihak museum menggambarkan kondisi gedung sudah dalam keadaan "buruk".

"Sebagian besar instalasi teknis sudah melewati masa operasional, ketinggalan zaman secara konsep, dan semakin sulit dirawat karena kekurangan suku cadang. Perawatan lanjutan tidak lagi memungkinkan, dan sistem harus diganti," tulis pihak museum.

Untuk mengatasi masalah itu, museum sedang menyiapkan Masterplan 2028, proyek senilai USD 120,6 juta (Rp1,9 triliun) yang mencakup penutupan sebagian gedung untuk renovasi. Penambahan dana pemerintah juga dibutuhkan untuk mengantisipasi penurunan jumlah tiket yang terjual selama periode tersebut.

 

Keamanan Karya dan Pengunjung

Pengunjung mengabadikan display multimedia saat pameran Van Gogh Alive di Mal Taman Anggrek, Senin (07/08/2023). (merdeka.com/Arie Basuki)

Direktur Museum Van Gogh, Emilie Gordenker, memperingatkan risiko serius jika kondisi ini dibiarkan.

"Jika situasi ini terus berlanjut, akan berbahaya bagi karya seni dan berbahaya bagi pengunjung kami," ujarnya kepada The New York Times.

Menanggapi permintaan tambahan dana, Kementerian Kebudayaan Belanda menyatakan bahwa subsidi untuk Museum Van Gogh sudah ditetapkan dalam jumlah tertentu dan disesuaikan dengan inflasi setiap tahun.

Subsidi itu juga dihitung dengan metodologi yang berlaku bagi seluruh museum nasional.

"Van Gogh Museum menerima salah satu subsidi tertinggi per meter persegi dibandingkan semua museum nasional," kata pihak kementerian.

Situasi ini juga membuat Yayasan Van Gogh angkat suara.

"Yayasan Vincent van Gogh sangat prihatin dengan aksesibilitas koleksi Van Gogh mengingat masalah pendanaan yang berkaitan dengan investasi penting untuk fasilitas dan bangunan Museum Van Gogh," tulis yayasan dalam pernyataannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya