BI Bantu Biayai Program Asta Cita Pakai Burden Sharing, Begini Pelaksanaannya

Bank Indonesia (BI) memastikan tetap berhati-hati menerapkan burden sharing dengan membeli SBN di pasar sekunder untuk membiayai program Astra Cita Prabowo Subianto.

oleh Agustina MelaniDiperbarui 04 September 2025, 10:40 WIB
Gedung BI raih penghargaan dari Ikatan Arsitek Indonesia. Dok: Bank Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan sepakat untuk membagi beban bunga atau burden sharing seperti yang dilakukan saat pandemi COVID-19.

Langkah ini dilakukan untuk mendukung program pemerintah Presiden Prabowo Subianto dalam program Asta Cita. Program itu terkait perumahan rakyat, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih/KDMP).

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso menuturkan, Bank Indonesia sepakat melakukan burden sharing dengan pemerintah untuk mengurangi beban biaya terkait program ekonomi kerakyatan dalam Asta Cita.

Ia menuturkan, pembagian beban bunga dilakukan dengan membagi rata biaya bunga atas penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk program pemerintah terkait perumahan rakyat dan KDMP setelah dikurangi penerimaan atas penempatan dana pemerintah untuk kedua program tersebut di lembaga keuangan domestik.

Ramdan mengatakan, dalam pelaksanaannya, pembagian beban dilakukan dalam bentuk pemberian tambahan bunga terhadap rekening Pemerintah yang ada di Bank Indonesia sejalan dengan peran Bank Indonesia sebagai pemegang kas Pemerintah sebagaimana Pasal 52 Undang Undang Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999 sebagaimana terakhir diubah dengan UU No. 4 Tahun 2023 tentang P2SK juncto Pasal 22 serta selaras dengan Pasal 23 UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

"Selain itu, besaran tambahan beban bunga oleh Bank Indonesia kepada Pemerintah tetap konsisten  dengan program moneter untuk menjaga stabilitas perekonomian dan bersinergi untuk memberikan ruang fiskal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan meringankan beban rakyat,” ujar dia seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (4/9/2025).

 

Sinergi Kebijakan

Bank Indonesia akan terus melakukan sinergi dengan Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sejalan dengan program Asta Cita Pemerintah, dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian.

Ramdan mengatakan, dalam kaitan ini, bauran kebijakan Bank Indonesia akan disinergikan dengan kebijakan fiskal, termasuk melalui pembelian SBN di pasar sekunder dan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang telah mencapai Rp 384 triliun hingga akhir Agustus 2025.

“Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran terus diakselerasi guna mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata dia.

Ia menuturkan, sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap mengacu pada prinsip-prinsip kebijakan fiskal dan moneter yang prudent serta tetap menjaga disiplin dan integritas pasar (market discipline and integrity).

 

BI Tetap Hati-Hati

Pemerintah mengarahkan pencapaian Asta Cita pada program-program ekonomi kerakyatan, termasuk program Perumahan Rakyat dan KDMP.

"Sementara itu, dukungan Bank Indonesia dilakukan melalui pembelian SBN di pasar sekunder dan berbagi beban bunga dengan pemerintah untuk program-program yang ditetapkan oleh Pemerintah tersebut,” kata Ramdan.

Ia mengatakan, dukungan Bank Indonesia ditempuh tetap sesuai dengan kaidah kebijakan moneter yang berhati-hati (prudent monetary policy).

Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan secara terukur, transparan, dan konsisten dengan upaya menjaga stabilitas perekonomian sehingga terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya