Tanah Longsor di Sudan Disebut Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang

Bencana tanah longsor terjadi di tengah perang saudara Sudan yang sudah memasuki tahun ketiga.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 02 September 2025, 17:59 WIB
Peta lokasi Sudan dengan ibu kotanya, Khartoum. (Dok. AP)

Liputan6.com, Khartoum - Lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas akibat tanah longsor di Sudan barat pada Minggu (31/8/2025). Informasi ini disampaikan oleh Gerakan/Pasukan Pembebasan Sudan (Sudan Liberation Movement/Army atau SLM), kelompok pemberontak yang menguasai wilayah tersebut.

Menurut SLM, tanah longsor terjadi setelah hujan deras melanda kawasan Pegunungan Marra, Sudan barat, dan menghancurkan total sebuah desa.

"Informasi awal menunjukkan seluruh penduduk desa, yang diperkirakan berjumlah lebih dari 1.000 orang, telah meninggal, dengan hanya satu orang selamat," bunyi pernyataan kelompok itu seperti dikutip The Guardian.

SLM menyerukan kepada PBB serta badan-badan bantuan internasional untuk membantu mengevakuasi jenazah para korban. Mereka menegaskan bahwa desa tersebut kini benar-benar rata dengan tanah.

Konflik berkepanjangan antara tentara Sudan dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menjerumuskan negara itu ke dalam salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan kelaparan yang kini dinyatakan melanda sebagian wilayah Darfur.

Pertempuran antara tentara dan RSF semakin sengit di Darfur, khususnya di El Fasher, sejak tentara merebut kendali atas ibu kota, Khartoum, pada Maret lalu.

Kawasan Pegunungan Marra sendiri telah menjadi tempat perlindungan bagi keluarga-keluarga pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di El Fasher dan sekitarnya. Meski sebagian besar menjauh dari konflik utama, SLM tetap menguasai sebagian wilayah di pegunungan tertinggi Sudan tersebut.

Minta Bantuan Internasional

Gubernur Darfur yang berpihak pada Angkatan Bersenjata Sudan, Minni Minnawi, menyebut tanah longsor itu sebagai sebuah tragedi kemanusiaan yang melampaui batas-batas wilayah.

"Kami menyerukan kepada organisasi-organisasi kemanusiaan internasional untuk segera turun tangan dan memberikan dukungan serta bantuan pada saat kritis ini, sebab tragedi ini lebih besar daripada yang bisa ditanggung rakyat kami sendirian," katanya dalam sebuah pernyataan.

Sebagian besar wilayah Darfur – termasuk lokasi terjadinya tanah longsor – tetap sulit dijangkau oleh organisasi bantuan internasional karena pertempuran yang terus berlangsung, sehingga sangat membatasi penyaluran bantuan kemanusiaan yang mendesak.

Pertempuran telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan orang mengungsi, termasuk sekitar 4 juta dari ibu kota saja.

Ratusan orang dilaporkan tewas dalam beberapa bulan terakhir dan warga sipil di El Fasher mengatakan pasukan paramiliter saat ini melancarkan serangan paling sengit yang pernah mereka alami di ibu kota negara bagian Darfur Utara tersebut.

Menurut PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia, perang ini ditandai dengan berbagai kekejaman, termasuk pembunuhan dan pemerkosaan bermotif etnis. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyatakan sedang menyelidiki dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya