Liputan6.com, Jakarta Marc Guehi mungkin kini sedang jadi sorotan karena dikabarkan merapat ke Liverpool. Namun, di balik ketenangannya di lapangan, ada perjalanan panjang yang ditempa sejak kecil, dengan fondasi kuat dari keluarga dan lingkungan akademi Chelsea.
Sejak usia lima tahun, Guehi jatuh cinta pada sepak bola setelah rutin menonton Match of the Day. Meski menikmati highlight dan komentar Gary Lineker, kala itu ia tak pernah membayangkan hidupnya akan benar-benar berkutat di sepak bola.
Advertisement
Fokus utamanya tetap pada pendidikan, sesuai didikan orang tua yang selalu menekankan pentingnya karakter dan sikap rendah hati.
Kenangan Masa Kecil Guehi
Sang ayah, yang akrab disapa Papa Guehi, mengenang bagaimana putranya tumbuh dengan idolanya, Didier Drogba dan Thiago Silva. Bahkan, saat masih di akademi Chelsea, Marc sempat membuat presentasi khusus tentang Thiago. Dari sanalah, kecintaan pada peran bek semakin kuat mengakar.
Guehi bergabung ke akademi Chelsea pada 2009 setelah melalui proses seleksi ketat di pusat pengembangan klub. Dari ribuan anak yang dipantau, ia berhasil lolos bersama nama-nama yang kini juga dikenal, seperti Reece James dan Rhian Brewster.
Karakter kepemimpinan sudah terlihat sejak dini. Sang ayah menuturkan, kebiasaan menjaga adiknya menjadikannya sosok yang selalu peduli pada orang lain, sikap yang kini terbawa ke lapangan.
Kerikil di Karier Guehi
Namun, jalan menuju level profesional tidaklah mulus. Setelah debut bersama Chelsea di bawah Frank Lampard, ia dipinjamkan ke Swansea City.
Awalnya, periode tersebut penuh rintangan: dicadangkan tanpa alasan jelas, ditambah gangguan pandemi. Meski begitu, masa pinjaman itu justru membentuk mental Guehi agar lebih kuat dan siap menghadapi kerasnya sepak bola senior.
Keputusan besar datang ketika ia kembali ke Chelsea. Alih-alih menerima pinjaman lagi, Guehi memilih hengkang demi menit bermain reguler. Patrick Vieira, manajer Crystal Palace saat itu, melihatnya sebagai fondasi pertahanan tim.
Kepercayaan tersebut langsung terbayar, karena sejak laga kedua, Guehi sudah mengunci hati staf pelatih. Konsistensinya membuatnya jadi sosok tak tergantikan di lini belakang.
Sikap Guehi
Performa solid di Palace membuat namanya dilirik banyak klub besar. Gareth Southgate pun memberi dorongan agar ia terus fokus, hingga akhirnya mendapat panggilan Timnas Inggris.
Bahkan, Newcastle sempat melayangkan tawaran lebih dari £60 juta pada musim panas lalu. Namun, Guehi tetap profesional. Ia menolak memaksakan transfer, menghargai Palace sebagai klub yang telah memberinya kesempatan.
Karakter itu pula yang membuatnya semakin berharga: disiplin, rendah hati, dan punya jiwa kepemimpinan alami. Rekan setimnya, Jordan Ayew, pernah menyebut Guehi sebagai contoh profesionalisme sejati: selalu tepat waktu, menjaga pola makan, dan punya sikap tenang.
Sumber: The Sun