Israel Klaim Tewaskan Juru Bicara Hamas Abu Obeida di Gaza

Abu Obeida merilis pernyataan terakhirnya pada Jumat lalu. Apa isinya?

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 01 September 2025, 07:42 WIB
Juru Bicara Brigade Al Qassam, Abu Obeida, mengatakan setelah operasi pencarian, "masih ada 23 jenazah (para sandera) yang hilang di bawah reruntuhan." (AHMAD GHARABLI/AFP)

Liputan6.com, Gaza - Militer Israel mengumumkan pada hari Minggu (31/8/2025) bahwa mereka telah membunuh juru bicara senior sayap bersenjata Hamas, saat kabinet keamanan negara itu bertemu untuk membahas perluasan serangan di sejumlah kawasan terpadat di Gaza.

Tidak ada agenda pembahasan negosiasi gencatan senjata dalam pertemuan tersebut, menurut seorang pejabat yang berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang berbicara kepada media.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengidentifikasi juru bicara Hamas itu sebagai Abu Obeida, nama samaran bagi sosok yang mewakili Brigade Izz ad-Din al-Qassam. Dia tewas pada akhir pekan. Hamas belum mengomentari klaim tersebut.

Pernyataan terakhir Abu Obeida disampaikan pada hari Jumat (29/8), bertepatan dengan dimulainya tahap awal serangan baru Israel dan penetapan Kota Gaza sebagai zona tempur. Dalam pernyataannya, dia mengatakan para militan akan berusaha sekuat tenaga melindungi para sandera yang masih hidup, tetapi memperingatkan bahwa mereka akan berada di wilayah pertempuran. Dia menegaskan pula bahwa jenazah para sandera yang tewas tidak akan pernah dikembalikan dan akan lenyap tanpa jejak.

Menurut militer Israel, juru bicara yang disebut sebagai Hudahaifa Kahlout itu berada di balik penyebaran video para sandera dan rekaman serangan yang dipimpin oleh Hamas yang memicu perang.Militer juga kembali menegaskan ancaman terhadap para pemimpin Hamas yang tersisa di luar negeri.

Israel telah membunuh banyak pemimpin militer dan politik Hamas dalam upaya memusnahkan kelompok tersebut dan mencegah serangan seperti yang terjadi pada 7 Oktober 2023, di mana para militan diklaim Israel menculik 251 orang dan membunuh sekitar 1.200 orang—sebagian besar warga sipil—di Israel selatan.

Kurang dari 50 sandera masih berada di Gaza dan Israel meyakini sekitar 20 di antaranya masih hidup.

Keluarga para sandera berunjuk rasa di luar pertemuan kabinet keamanan pada Minggu, marah karena pertemuan itu tidak membahas gencatan senjata.

"Pihak kitalah yang tidak mau menandatangani kesepakatan komprehensif dan tidak mau mengakhiri perang, serta memutuskan untuk mengorbankan anak saya sementara dia masih hidup," kata Einav Zangauker, ibu dari sandera Matan Zangauker seperti dilansir AP.

Perangkap Maut

Di sisi lain, dalam kurun waktu 24 jam terakhir, otoritas kesehatan di Jalur Gaza pada Senin 18 Agustus 2025 mencatat ada tujuh kematian akibat kelaparan. Dua orang korban di antaranya adalah anak-anak. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Sedikitnya 43 warga Palestina tewas sejak Sabtu lalu, sebagian besar di Kota Gaza. Rumah Sakit Shifa, rumah sakit terbesar di wilayah tersebut, melaporkan bahwa 29 jenazah dibawa ke kamar mayatnya, termasuk 10 orang yang tewas ketika berusaha mendapatkan bantuan.

Pejabat medis menyebutkan, 11 korban lain meninggal akibat serangan dan tembakan. Menurut Rumah Sakit Al-Awda, tujuh di antaranya adalah warga sipil yang sedang mencoba mencapai lokasi distribusi bantuan.

Sejumlah saksi mata menuturkan pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah kerumunan di Koridor Netzarim, sebuah zona militer yang membelah Gaza.

"Kami mencoba mendapatkan makanan, namun yang kami hadapi justru peluru Israel," ujar Ragheb Abu Lebda, yang melihat sedikitnya tiga orang tergeletak bersimbah darah akibat luka tembak. "Ini adalah perangkap maut."

Dalam beberapa kasus, warga sipil juga menjadi korban ketika konvoi kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa kewalahan menghadapi penjarah dan kerumunan yang putus asa atau tertembak saat menuju lokasi distribusi yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF), kontraktor Amerika Serikat (AS) yang mendapat dukungan Israel.

Kepada Associated Press, GHF menegaskan bahwa tidak ada insiden di atau dekat lokasi mereka pada hari itu. Militer Israel belum memberikan tanggapan atas pertanyaan mengenai korban jiwa hingga Minggu waktu setempat.

Kematian Akibat Kelaparan Meningkat

Sebelumnya, Badan-badan kemanusiaan PBB dan kelompok bantuan telah memperingatkan ancaman kelaparan di Gaza, yang selama hampir dua tahun terakhir mengalami pembatasan ketat bantuan oleh Israel. (Omar AL-QATTAA/AFP)

Selama berminggu-minggu, Israel telah beroperasi di pinggiran Kota Gaza untuk mempersiapkan serangan darat. Militer juga meningkatkan serangan udara di wilayah pesisir kota itu, termasuk di Distrik Rimal. Asap tebal terlihat membubung di atas kota pada Minggu waktu setempat.

Militer Israel mendesak ratusan ribu warga Palestina di Kota Gaza untuk mengungsi ke selatan. Namun, banyak dari mereka mengaku sudah terlalu lelah setelah berulang kali berpindah tempat atau tidak percaya masih ada lokasi yang benar-benar aman di Gaza.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lebih dari 90 persen dari sekitar dua juta penduduk Gaza telah mengungsi setidaknya sekali selama perang dan sebagian besar di antaranya berkali-kali.

Israel sendiri memberi sinyal bahwa pasokan bantuan ke Kota Gaza akan dikurangi. Selain itu, mereka juga mengumumkan proyek infrastruktur baru di Gaza Selatan—langkah yang oleh banyak warga Palestina dipandang sebagai bentuk pengusiran paksa.

Otoritas kesehatan Gaza melaporkan tujuh warga Palestina dewasa meninggal akibat malnutrisi dalam 24 jam terakhir. Dengan tambahan itu, jumlah kematian orang dewasa karena malnutrisi sejak Juni—ketika pencatatan dimulai—mencapai 215 orang. Sejak perang pecah, tercatat pula 124 anak meninggal karena penyebab serupa.

Dalam upaya terbesar sejauh ini untuk menembus blokade Israel lewat jalur laut, sebuah armada kapal berangkat dari Barcelona pada Minggu, membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis. Namun, upaya serupa di masa lalu selalu berakhir gagal.

Secara keseluruhan, menurut data otoritas kesehatan Gaza, sedikitnya 63.371 warga Palestina tewas selama perang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya