Hoaks Beredar di Tengah Demo, Ini Pesan Menteri Dikdasmen untuk Pelajar

Siswa di seluruh Indonesia diminta untuk tidak terprovokasi oleh berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

oleh Pebrianto Eko WicaksonoDiterbitkan 28 Agustus 2025, 11:00 WIB
Massa berkumpul saat terjadi ricuh akibat unjuk rasa di sekitar jalan Pejompongan, Jakarta, Rabu (25/9/2019). Polisi menembakan gas air mata di kerumunan massa setelah unjuk rasa pelajar STM bentrok dengan aparat kepolisian dibelakang Gedung DPR/MPR. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta- Pelajar di seluruh Indonesia diingatkan untuk mewaspadai hoaks terkait demonstrasi dan terlibat menyebarkannya, sehingga tidak terprovokasi informasi yang tidak benar.

Menteri Pendidikan Dasa dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengatakan, provokasi dari berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, atau berita hoaks yang turut menjadi pemicu keterlibatan pelajar dalam demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR pada Senin (25/8/2025).

Dia pun meminta agar para pelajar di seluruh Indonesia tidak terprovokasi hoaks, hingga turut terlibat dalam unjuk rasa atau demonstrasi, bahkan kekerasan.

"Kami mengimbau kepada para siswa di seluruh Indonesia untuk tidak terprovokasi oleh berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Mu'ti, dikutip dari Antara, Kamis (28/8/2025).

Mu'ti pun mengimbau para guru dan kepala sekolah untuk memberikan perhatian dan pengawasan kepada siswa agar tidak terlibat dalam kegiatan di luar peran dan tugasnya sebagai pelajar.

Meski unjuk rasa bertujuan menyampaikan aspirasi, Mu'ti menilai para siswa tetap belajar di sekolah sebagai salah satu cara menyampaikan aspirasi.

"Aspirasi kan ada berbagai macam cara kan, jadi sebaiknya para murid itu belajar di sekolah," kata Mu'ti.

 

 

Anak di Bawah Umur Diamankan Polisi

Sebelumnya diberitakan, Polda Metro Jaya akhirnya memulangkan sebanyak 196 anak di bawah umur yang ditangkap saat aksi di depan Gedung DPR/MPR RI pada Senin (25/8), kepada orang tuanya.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary, para siswa di bawah umur itu terlibat perusakan fasilitas umum serta tidak termasuk klaster massa yang menyampaikan pendapat di depan DPR.

"Mereka datang karena ajakan dari media sosial. Kemarin, di jam pelajaran kejadiannya, anak-anak pelajar ini berasal dari Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, ada juga dari Sukabumi," katanya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya