Bodo/Glimt & Aspmyra Stadion: Benteng Arktik Dengan Rumput Sintetis yang Pernah Bikin Mourinho Hingga Mees Hilgers Tersandung

Aspmyra Stadion, markas Bodo/Glimt, dikenal dengan rumput sintetisnya yang bikin banyak klub Eropa kewalahan. Dari AS Roma asuhan Mourinho hingga Twente milik Mees Hilgers, semua pernah merasakan pahitnya bermain di stadion berjuluk Benteng Arktik tersebut.

oleh Dimas Ardi PrasetyaDiperbarui 27 Agustus 2025, 16:37 WIB
Skuad Bodo/Glimt saat mentas di Liga Europa 2024/2025. (Mats Torbergsen / NTB / AFP)

Liputan6.com, Jakarta Aspmyra Stadion menjadi ikon utama Bodo/Glimt. Berlokasi di kota Bodo, Norwegia, stadion ini identik dengan permukaan sintetisnya.

Kondisi iklim yang ekstrem di lingkar Arktik membuat penggunaan rumput buatan jadi solusi utama. Bukan sekadar gaya, melainkan keharusan untuk menjaga kelancaran pertandingan.

Hujan, salju, hingga hujan es kerap turun di wilayah ini. Namun pertandingan tetap berjalan berkat lapangan sintetis yang lebih stabil dan mudah dirawat. UEFA pun masih memberi izin pemakaian rumput buatan selama sesuai standar, sehingga Aspmyra tetap bisa digunakan dalam kompetisi Eropa.

Banyak tim tamu yang kesulitan beradaptasi dengan kondisi cuara plus lapangan tersebut. Tak jarang mereka harus pulang dengan hasil buruk meski datang sebagai favorit. Dari situ, reputasi Aspmyra sebagai “Benteng Arktik” mulai muncul.


Mengapa Aspmyra Memilih Rumput Sintetis?

Para pemain Bodo/Glimt merayakan gol ke gawang AS Roma pada leg pertama perempat final UEFA Europa Conference League di Aspmyra Stadion, Jumat (8/4/2022) dini hari WIB. Bodo/Glimt sukses mengalahkan AS Roma dengan skor 2-1. (Mats Torbergsen/NTB/AFP)

Letak Bodo di wilayah utara Norwegia membuat cuaca tak menentu, bahkan sering ekstrem. Dengan lapisan pemanas di bawah permukaan sintetis, lapangan tak membeku meski diselimuti salju. Pertandingan pun tetap bisa digelar meski suhu sangat rendah.

Aspmyra pertama kali beralih ke rumput sintetis pada 2006. Permukaan itu kemudian diperbarui pada 2014 dan terakhir diganti lagi pada 2022. Menurut data Asosiasi Sepak Bola Norwegia (NFF), ukuran lapangan 68x105 meter dan dilengkapi sistem pemanas, sehingga sesuai regulasi.

Selain karena faktor cuaca, rumput sintetis juga lebih efisien. Lapangan tahan dipakai berulang kali, bisa dipakai untuk latihan maupun pertandingan, serta biaya perawatannya lebih murah dibanding rumput alami di iklim dingin. Keputusan ini sesuai dengan aturan UEFA yang sejak awal 2000-an mengizinkan lapangan sintetis di turnamen resmi.


Stabil di Cuaca Ekstrem dan Sah untuk Kompetisi Eropa

AS Roma menelan kekalahan memalukan saat bertandang ke markas Bodo/Glimt pada laga UEFA Conference League. (Mats Torbergsen/NTB Scanpix via AP)

Permukaan buatan dengan sistem pemanas menjaga kualitas lapangan tetap elastis. Saat badai salju turun pagi hari, lapangan bisa dibersihkan dengan alat berat, lalu siap dimainkan malam harinya tanpa kendala. Salah satunya pernah terjadi saat melawan Lazio di Liga Europa.

UEFA secara resmi membolehkan stadion dengan rumput sintetis asalkan lulus uji sertifikasi. Karena itu, Aspmyra bisa menggelar laga fase grup hingga babak gugur di kompetisi Eropa. Media internasional beberapa kali menyoroti bahwa kondisi ini membuat permainan lebih seimbang, terutama bagi tim tamu yang jarang berkompetisi di lapangan buatan.

Lanjut Baca:

Konsistensi performa kandang Bodo/Glimt terlihat jelas sejak 2021. Catatan apik itu membuat Aspmyra mendapat label sebagai salah satu stadion paling sulit di kawasan Skandinavia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya