3 Strategi Tembus Wawancara Kerja

Kaleah Mcilwain berhasil tembus wawancara kerja dengan strategi unik, simak caranya di sini!

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 30 Agustus 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi interviu, wawancara kerja. (Image by pressfoto on Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Setelah delapan bulan mencari pekerjaan, seorang editor digital asal Philadelphia, Kaleah Mcilwain, menyadari beberapa kenyataan pahit dalam proses melamar kerja.Salah satu hal penting yang ia pelajari yakni peran surat lamaran dalam menarik perhatian perekrut.

Dia menilai, cara paling efektif membuat surat lamaran kerja adalah dengan menekankan bagaimana kemampuan Anda dapat memenuhi kebutuhan yang tercantum dalam deskripsi pekerjaan, sebab perusahaan memiliki tujuan tertentu saat merekrut dan dan hanya menginginkan kandidat terbaik yang mampu menyelesaikan masalah tersebut.

"Identifikasi satu atau dua masalah dalam deskripsi pekerjaan dan gunakan surat lamaran Anda untuk menjelaskan kepada manajer perekrutan mengapa Anda adalah orang yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut”, ujar dia seperti dikutip dari CNBC, Jumat (29/8/2025).

Berikan pula contoh keahlian atau pengalaman yang relevan yang menunjukkan kemampuan Anda dalam mengatasi masalah tersebut, disertai alasan mengapa Anda ingin melakukannya untuk perusahaan.

 

  

 

 

Menjawab Kebutuhan Bisnis

Ilustrasi sidang skripsi, wawancara kerja. (Image by macrovector on Freepik)

Misalnya, ketika Mcilwain melamar di perusahaan yang ingin meningkatkan strategi media sosial, ia dapat menampilkan pengalamannya dalam mengelola Instagram, TikTok, YouTube, dan platform lain di tempat kerja sebelumnya, lengkap dengan data pertumbuhan dan tingkat keterlibatan yang berhasil ia capai.

Kuncinya, menurut Mcilwain, adalah tetap menekankan bagaimana Anda dapat menjawab kebutuhan bisnis mereka.

"Meskipun orang-orang senang menceritakan riwayat karier mereka secara lengkap (dalam surat lamaran), jangan bicarakan hal lain selain satu hal yang mereka sebutkan bahwa mereka membutuhkan seseorang untuk melakukannya,” ujarnya.

Peran AI dalam Strategi Lamaran McIlwain

Mcilwain menekankan usaha yang dicurahkan untuk menulis surat lamaran sangatlah berharga. Ia melihat banyak pencari kerja justru sepenuhnya bergantung pada AI untuk menyusunnya, kurang memberi perhatian, atau bahkan melewatkan surat lamaran sama sekali. Menurut survei Jobscan 2024, sekitar dua dari tiga pencari kerja mengaku tidak secara konsisten menyertakan surat lamaran saat melamar pekerjaan.

 

Tak Bergantung AI saat Buat Lamaran Kerja

Ilustrasi surat lamaran kerja. (Photo Copyright by Freepik)

Meski dirinya penggemar alat berbasis AI, Mcilwain berpendapat teknologi tersebut lebih baik digunakan untuk meninjau dan menyempurnakan konten lamaran, bukan untuk membuatnya dari awal.

"Saya menulis semua hal saya sendiri, lalu saya akan memberi tahu AI, bisakah Anda menganalisis ini dengan deskripsi pekerjaan untuk memberi tahu saya kemungkinan kecocokannya dengan deskripsi pekerjaan tersebut?” kata Mcilwain.

Analisis semacam ini membantunya memastikan ia sudah menyoroti seluruh poin penting dalam deskripsi pekerjaan sekaligus menggunakan kata kunci secara tepat dan bermakna.

Namun, ia juga mengingatkan agar tidak sepenuhnya mengandalkan AI untuk menyusun isi resume maupun surat lamaran, karena hasilnya berisiko tampak generik dan terlalu mirip dengan aplikasi lain yang juga dibuat oleh AI.

 

Bukan Langkah Bijak Andalkan AI

Ilustrasi surat lamaran kerja. (Photo created by Drazen Zigic on www.freepik.com)

"Alat AI generatif tidak akan menulis dengan sentuhan pribadi seperti yang bisa Anda lakukan sendiri,” ujar Mcilwain.

Ia mengaku pernah mencoba menggunakannya untuk membuat beberapa draf dan menyadari hasilnya tampak seragam: dimulai dengan pembukaan yang mirip satu sama lain, diikuti rangkaian kronologis riwayat pekerjaan, lalu ditutup dengan pola penutup yang sama.

Para pakar perekrutan pun sependapat, membiarkan AI sepenuhnya menulis resume atau surat lamaran bukanlah langkah bijak. Selain rawan menimbulkan kesalahan, hasilnya sering kali dipenuhi frasa klise dan pernyataan yang berulang-ulang, sehingga terkesan membosankan.

 

Usaha Tambahan untuk Panggilan Wawancara

Ilustrasi Melamar atau Wawancara Kerja. Foto: Unsplash/Gabrielle Henderson

Mcilwain mengaku tengah serius mencari pekerjaan, dengan total sekitar tiga hingga empat lusin lamaran yang sudah ia kirimkan. Ini merupakan kali ketiga ia berburu pekerjaan sejak lulus kuliah, namun kali ini persaingannya terasa jauh lebih ketat dibanding sebelumnya.

Salah satu strategi baru yang ia lakukan dan membuatnya dipanggil wawancara adalah mengirimkan cold email langsung kepada CEO.

Ia menyusun pesannya dengan ringkas: dimulai dengan pendahuluan singkat, pernyataan bahwa ia melamar posisi tersebut, lalu tiga poin utama yang menjelaskan mengapa dirinya layak untuk peran itu.

Di akhir, ia menutup dengan permintaan sopan agar lamarannya diteruskan kepada pihak yang tepat. Setelah mengirim email, ia biasanya juga mengajukan permintaan koneksi di LinkedIn, meski menilai mengirim pesan lanjutan di platform itu bisa dianggap “berlebihan.”

 

 

Kunci Jangkau Manajer HRD

"Saya tidak pernah meminta orang-orang ini untuk melihat resume saya atau semacamnya, hanya sekadar (memberitahu) bahwa saya sudah melamar,” ujarnya dengan harapan pesan tersebut akan tersampaikan kepada manajer perekrutan. “Saya melakukan ini, dan benar-benar, saya langsung mendapatkan wawancara keesokan harinya.”

Hingga kini, cara tersebut berhasil membawanya pada setidaknya tiga wawancara kerja. Kuncinya terletak pada upaya menjangkau manajer perekrutan secara langsung, karena hal itu dapat meningkatkan peluang untuk mendapat respons yang lebih personal.

"Kita tidak pernah tahu bagaimana orang-orang meninjau aplikasi mereka. Bisa jadi manusia, bisa jadi sistem komputer, bisa jadi AI,” kata Mcilwain.

"Jadi, alih-alih mencoba memastikan aplikasi Anda dapat mengatasi semua hal itu, saya langsung saja menghubungi orang-orang.”

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya