7 Fakta Terkait Demo DPR Berakhir Ricuh, Polisi Sempat Amankan Total 351 Orang

Demo DPR yang berlangsung pada Senin 25 Agustus 2025 berakhir ricuh. Polisi pun sempat menembakkan meriam air (water cannon) untuk menghalau massa aksi yang mulai anarki dengan melempari petugas.

oleh Devira PrastiwiFatimah AzzahraDiterbitkan 27 Agustus 2025, 08:00 WIB
Pengamanan Demo DPR 25 Agustus 2025

Liputan6.com, Jakarta - Demo DPR yang berlangsung pada Senin 25 Agustus 2025 berakhir ricuh. Polisi pun sempat menembakkan meriam air (water cannon) untuk menghalau massa aksi yang mulai anarki dengan melempari petugas.

Pantauan di lokasi sekitar jam 12.50 WIB, Senin 25 Agustus 2025, polisi memukul mundur massa aksi dengan menyisir Jalan Gatot Subroto.

Petugas juga terus mengimbau kepada massa aksi untuk mundur dan meninggalkan lokasi aksi karena situasi sudah tidak kondusif.

Demo pun kembali ricuh dimalam hari. Bentrokan antara massa dengan aparat kepolisian pecah di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan. Sebuah Pos Polisi (Pospol) dekat pintu 11 GBK porak-poranda dirusak pengunjuk rasa.

"Woi jangan mundur, jangan lari," teriak salah satu demonstran, sembari melempari kaca Pospol dengan batu.

Kepolisian yang berjaga langsung maju dari arah Kemenpora, menembakkan gas air mata berkali-kali. Massa yang kebanyakan pelajar panik, berhamburan ke arah Jalan Asia Afrika.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary angkat bicara. Ia menyayangkan sejumlah pihak yang melakukan aksi perusakan fasilitas publik, saat aksi massa di Gedung DPR/MPR Jakarta. Menurut dia, hal itu dilakukan oleh pihak tidsk bertanggungjawab.

"Ada hal yang disayangkan, ada pihak-pihak lain yang mencoba memanfaatkan situasi dan melakukan hal-hal yang mengganggu keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas) rekan-rekan tadi sudah tau juga di lapangan ada kendaraan roda dua yang dibakar kemudian pagar kawat di depan DPR dirusak kemudian ada separator busway dirobohkan yang diduga dilakukan oleh pihak lain yang ingin memanfaatkan situasi," kata Ade Ary.

Imbas demo, PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta sempat melakukan pengalihan rute imbas adanya penutupan jalan di sekitar Gedung DPR.

"Koridor 9, Rute 1W, 3F, 9A, 10H, T31 dan S61 mengalami pengalihan rute dikarenakan adanya penutupan jalan di sekitar Gedung MPR/DPR. Sementara arah Pluit tidak melayani Halte Gerbang pemuda dan Halte Petamburan," demikian informasi dikutip dari akun X @pt_transjakarta.

Selain itu, KAI Commuter Line mengimbau kepada pengguna jasa Commuter Line untuk memakai stasiun lain yang terdekat seperti Kebayoran dan Tanah Abang. Hal ini seiring adanya aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR/MPR.

Sementara itu, total ada 351 orang diamankan polisi. Sebagian di antaranya merupakan anak-anak sekolah. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary menyampaikan, kepolisian awalnya memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi.

Berikut sederet fakta terkait aksi demo DPR yang berakhir ricuh pada Senin 25 Agustus 2025 dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Demo Ricuh, Polisi Sempat Halau Pakai Water Cannon

Massa demo di kawasan Gedung DPR/MPR RI berpindah ke Gerbang Pancasila. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Demo di DPR berakhir ricuh. Polisi menembakkan meriam air (water cannon) untuk menghalau massa aksi yang mulai anarki dengan melempari petugas.

Pantauan di lokasi sekitar jam 12.50 WIB, Senin 25 Agustus 2025 polisi memukul mundur massa aksi dengan menyisir Jalan Gatot Subroto.

Petugas juga terus mengimbau kepada massa aksi untuk mundur dan meninggalkan lokasi aksi karena situasi sudah tidak kondusif.

Massa yang terdesak terus mundur perlahan dan meninggalkan lokasi demo dengan mencoba melemparkan barang yang ada kepada petugas.

Selain menembakkan meriam air, petugas juga menembakkan gas air mata untuk menghalau para pengunjuk rasa. Saat ini para pengunjuk rasa telah dipukul mundur mengarah ke Jalan Gerbang Pemuda.

 

2. Massa Bentrok dengan Aparat, Pos Polisi Dirusak

Massa rusak kantor penukaran identitas saat demo di depan Gedung DPR/RI. (Liputan6.com/Radityo)

Unjuk rasa di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat kembali ricuh pada Senin malam 25 Agustus 2025.

Bentrokan antara massa dengan aparat kepolisian pecah di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan. Sebuah Pos Polisi (Pospol) dekat pintu 11 GBK porak-poranda dirusak pengunjuk rasa.

"Woi jangan mundur, jangan lari," teriak salah satu demonstran, sembari melempari kaca Pospol dengan batu.

Kepolisian yang berjaga langsung maju dari arah Kemenpora, menembakkan gas air mata berkali-kali. Massa yang kebanyakan pelajar panik, berhamburan ke arah Jalan Asia Afrika.

Kericuhan ini menjadi bentrokan ketiga dalam aksi bertajuk 'Revolusi Rakyat Indonesia'. Sejak siang, kerusuhan sudah pecah di depan DPR, lalu merembet ke Gerbang Pancasila, dan berlanjut ke Gerbang Pemuda dan Kolong Tol Slipi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary menyayangkan sejumlah pihak yang melakukan aksi perusakan fasilitas publik, saat aksi massa di Gedung DPR/MPR RI Jakarta. Menurut dia, hal itu dilakukan oleh pihak tidak bertanggungjawab.

"Ada hal yang disayangkan, ada pihak-pihak lain yang mencoba memanfaatkan situasi dan melakukan hal-hal yang mengganggu keamanan ketertiban masyarakat (kamtibmas) rekan-rekan tadi sudah tau juga di lapangan ada kendaraan roda dua yang dibakar kemudian pagar kawat di depan DPR dirusak kemudian ada separator busway dirobohkan yang diduga dilakukan oleh pihak lain yang ingin memanfaatkan situasi," kata Ade di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin 25 Agustus 2025.

Demi membuat situasi kondusif, Ade memastikan ribuan personel sudah diterjunkan. Total, ada 1.250 anggota gabungan yang terdiri dari Polri, TNI dan Satpol PP.

"Kami secara bertahap telah melalukan upaya dengan menurunkan 1.250 personel. Terhadap para pihak yang ingin memanfaatkan situasi melakukan tindakan menyebabkan terganggunya ketertiban umum terganggunya situasi Kamtibmas tentunya telah dilakukan tindakan penertiban," tegas Ade.

Ade berharap, selanjutnya aksi dapat berjalan dengan sesuai aturan dalam menyampaikan pendapat.

"Jadi mohon dengan hormat kita sama-sama saling jaga situasi Kamtibmas, prioritas kami Polda Metro Jaya untuk menjaga situasi Kamtibmas," dia menandasi.

 

3. Pemicu Ricuh Demo Tunjangan DPR

Pantauan kondisi demo 25 Agustus di DPR. (Liputan6.com/Radityo)

Aksi demonstrasi yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR pada Senin 25 Agustus 2025, diwarnai kericuhan.

Demo yang digelar oleh sejumlah elemen masyarakat tersebut menyoroti isu sensitif, seperti tingginya tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat luas.

Para pendemo mempertanyakan gaji dan tunjangan anggota DPR yang melebihi Rp100 juta. Kericuhan pecah mulai siang ketika massa mencoba mendekati pagar utama Gedung DPR.

Polisi menembakkan meriam air (water cannon) untuk menghalau massa aksi yang mulai anarki dengan melempari petugas. Pantauan di lokasi sekitar jam 12.50 WIB, polisi memukul mundur massa aksi dengan menyisir Jalan Gatot Subroto.

Petugas juga terus mengimbau kepada massa aksi untuk mundur dan meninggalkan lokasi aksi karena situasi sudah tidak kondusif.

Setelah dipukul mundur di depan Gerbang Utama, massa berpindah ke Gerbang Pancasila dan menutup Jalan Gelora.

Situasi sempat mencekam saat petasan diledakkan. Ledakan bikin membuat massa kaget, bahkan seorang peserta aksi terluka di tangan dan buru-buru dibawa kabur dengan sepeda motor.

Massa kemudian berhasil mendobrak pintu kecil Gedung DPR, lalu menyeret satu unit motor ke dalam dan langsung membakarnya.

Api membumbung tinggi, asap hitam mengepul. Tak puas, massa juga merusak pos satpam DPR. Polisi bergerak menembakkan gas air mata ke arah kerumunan.

Bentrokan kemudian berlanjut pada Senin Malam di Jalan Gerbang Pemuda, Senayan. Sebuah Pos Polisi (Pospol) dekat pintu 11 GBK porak-poranda dirusak pengunjuk rasa.

"Woi jangan mundur, jangan lari," teriak salah satu demonstran, sembari melempari kaca Pospol dengan batu.

Kepolisian yang berjaga langsung maju dari arah Kemenpora, menembakkan gas air mata berkali-kali. Massa yang kebanyakan pelajar panik, berhamburan ke arah Jalan Asia Afrika.

 

4. Sejumlah Rute Transjakarta Sempat Dialihkan, Rekayasa Lalin Juga Diberlakukan

Massa bakar motor saat demo di depan Gedung DPR/RI. (Liputan6.com/Radityo)

PT Transportasi Jakarta atau Transjakarta melakukan pengalihan rute imbas adanya penutupan jalan di sekitar Gedung DPR RI. Adapun di sekitar DPR RI tengah berlangsung aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak Senin pagi 25 Agustus 2025.

"Koridor 9, Rute 1W, 3F, 9A, 10H, T31 dan S61 mengalami pengalihan rute dikarenakan adanya penutupan jalan di sekitar Gedung MPR/DPR. Sementara arah Pluit tidak melayani Halte Gerbang pemuda dan Halte Petamburan," demikian informasi dikutip dari akun X @pt_transjakarta, Senin 25 Agustus 2025.

Transjakarta meminta maaf kepada masyarakat yang perjalanannya terganggu karena adanya pengalihan rute layanan di koridor 9 tersebut.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," ucapnya.

Sementara itu, aparat Kepolisian dan Jasa Marga melakukan pengamanan lalu lintas imbas gelaran aksi unjuk rasa oleh masyarakat di sekitar Gedung DPR/MPR, Senin 25 Agustus 2025.

Aksi yang dimulai pukul 10.00 WIB ini, menyebabkan kepadatan di sekitar Jalan Tol Dalam Kota, khususnya akses keluar tol Senayan atau DPR/MPR.

"Sore ini, tepat pukul 17.00 WIB, massa aksi unjuk rasa kembali memasuki Jalan Tol Dalam Kota tepatnya di KM 07+400. Sebagai bentuk pengamanan, atas diskresi Kepolisian, mulai pukul 17.15 WIB, dilakukan rekayasa pengalihan lalu lintas, pengguna jalan menuju arah Slipi dialihkan keluar melalui off ramp KM 05+000 dan pengguna jalan menuju arah Cawang dialihkan keluar melalui off ramp KM 12+500," ucap Senior ManagerRepresentative Office 2 Jasamarga Metropolitan Tollroad, Ginanjar Rakhmanto, Senin 25 Agustus 2025.

Terkait hal ini, Jasa Marga memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Untuk sementara waktu, pengguna jalan diimbau untuk menghindari Ruas Tol Dalam Kota, khususnya sekitar kawasan Semanggi dan Senayan sampai dengan berakhirnya aksi masa.

"Antisipasi jadwal dan arah perjalanan, serta terus perbaharui informasi terkini melalui media sosial resmi Jasa Marga, live cctv melalui aplikasi TRAVOY dan call center 24 jam Jasa Marga Group di 14080, serta mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan," tambahnya.

 

5. Perjalanan KRL Tanah Abang-Rangkasbitung Sempat Terganggu

Pantauan kondisi demo 25 Agustus di DPR. (Liputan6.com/Radityo)

KAI Commuter Line mengimbau kepada pengguna jasa Commuter Line untuk memakai stasiun lain yang terdekat seperti Kebayoran dan Tanah Abang. Hal ini seiring adanya aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR/MPR pada Senin 25 Agustus 2025.

Demikian disampaikan KAI Commuter melalui platform X @CommuterLine.KAI Commuter menyatakan, hal itu untuk mengantisipasi kepadatan di sektor jalan akses menuju Stasiun Palmerah.

"Sehubungan dengan adanya aksi penyampaian pendapat di Gedung DPR/MPR 25 Agustus 2025 bagi penumpang yang akan bertujuan ke Stasiun Serpong/Parung Panjang/Rangkasbitung untuk mengantisipasi kepadatan di sektor jalan akses menuju Stasiun Palmerah, sebagai alternatif pengguna jasa Commuter Line kami imbau agar dapat menggunakan stasiun lain yang terdekat seperti Kebayoran atau Tanah Abang," tulis KAI Commuter.

KAI Commuter pun meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya," demikian seperti dikutip.

Selain itu, KAI Commuter juga menyebutkan saat ini perjalanan Commuter Line Lintas Tanah Abang-Rangkasbitung PP masih menunggu aman untuk diberangkatkan imbas terdapat kerumunan masa yang berkumpul di perlintasan kereta api saat aksi penyampaikan pendapat di Gedung DPR/MPR. “Kami imbau tetap ikuti arahan dari petugas. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” demikian seperti dikutip.

 

6. Demo Ricuh di DPR: Total 351 Orang Diamankan, 196 Anak di Bawah Umur

Massa demo di kawasan Gedung DPR/MPR RI berpindah ke Gerbang Pancasila. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Demonstrasi di kawasan Gedung DPR/MPR RI pada Senin 25 Agustus 2025 berakhir ricuh. Total ada 351 orang. Sebagian di antaranya merupakan anak-anak sekolah.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Ade Ary Syam Indradi, menyampaikan, kepolisian awalnya memberi ruang bagi mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi. Namun, ada kelompok lain yang justru memanfaatkan situasi untuk bikin ricuh.

"Massa yang tidak menyampaikan pendapat ini, melakukan kegiatan secara masif, yang melakukan pengerusakan terhadap fasilitas umum, antara lain separator Transjakarta dirusak, kemudian gerbang depan gedung DPR, kemudian melempari pengendara mobil yang ada di tol, sehingga membahayakan pengendara yang ada di tol kemudian melawan petugas, melempari petugas," kata dia di Polda Metro Jaya, Selasa 26 Agustus 2025.

Dia mengatakan, pihak kepolisian sudah memberikan peringatan. Tapi massa yang mayoritas bukan peserta demo sejati tak mengindahkan.

"Akhirnya dilakukan tindakan penertiban," ujar dia.

Dia menyebut, polisi mengamankan 351 orang. Dari jumlah itu, 155 orang dewasa dan 196 anak-anak di bawah umur. Anak-anak itu berasal dari Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor hingga Sukabumi.

"Setelah dilakukan pendalaman di lapangan kemarin oleh rekan-rekan kami, mereka datang karena ajakan dari medsos ya. Jadi mohon, ini menjadi perhatian kita bersama, kami imbau, sama-sama kita awasi anak-anak kita untuk bijak dan kita juga sebaiknya bijak bermedsos," ucap Ade Ary.

Dia mengatakan, saat dites urine, 7 orang dewasa positif narkoba. Adapun, enam positif sabu, satu benzoat. Mereka akan diserahkan ke Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya untuk diproses lebih lanjut.

"7 orang ini semuanya dewasa dewasa ya, saat ini masih di Direktorat Reserse Kriminal Umum, nanti selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh rekan-rekan kami dari Direktorat Reserse Narkoba untuk dilakukan tindakan lanjutan sesuai SOP yang berlaku berdasarkan fakta yang ditemukan," tandas Ade Ary.

 

7. Polisi Pulangkan 196 Pelajar yang Diamankan Saat Demo DPR

Mobil Palisade Hitam Diamuk Massa saat Demo Ricuh di DPR, Sempat Dikira Anggota Dewan

Polisi menangkap 351 orang terkait unjuk rasa yang berujung ricuh di kawasan DPR/MPR Jakarta Pusat. Dari jumlah itu, 196 anak-anak sekolah sudah dipulangkan ke orang tua, sementara 155 orang dewasa masih diperiksa intensif.

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Putu Kholis Aryana, mengatakan pihaknya kini mendalami peran masing-masing orang dewasa yang ditangkap.

"Iya (seluruh pelajar sudah dipulangkan) Untuk pemeriksaan terhadap 155 orang dewasa saat ini masih berjalan proses pendalaman. Untuk mengetahui peran mereka masing masing," kata dia kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Selasa 26 Agustus 2025.

Dia menerangkan, sejak Senin hingga Selasa, polisi sudah menerima empat laporan resmi. Tiga di antaranya terkait kekerasan bersama terhadap orang, sementara satu kasus perusakan kendaraan dan barang.

"Perkara ini juga kami lakukan pendalaman secara simultan bersamaan pemeriksaan 155 orang diamankan. Kemudian kami juga berfokus kumpulkan bukti-bukti yang ada di tkp maypun rekaman video yang kami dapat dari korban maupun saksi," ujar dia.

Infografis Mencari Dalang Demo Rusuh Tolak UU Cipta Kerja. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya