SKK Migas Mulai Salurkan Swap Gas Multi-Pihak untuk Jaga Pasokan

SKK Migas resmi mengalirkan swap gas multi-pihak mulai 22 Agustus 2025 untuk menjaga pasokan gas domestik, khususnya industri.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Agustus 2025, 12:51 WIB
SKK Migas pastikan pasokan gas bumi terjaga lewat mekanisme SWAP Gas Multi Pihak. (Dok SKK Migas)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan mekanisme swap gas multi-pihak resmi mulai dialirkan pada 22 Agustus 2025. Skema ini diharapkan mampu menjaga kestabilan pasokan gas dalam negeri, termasuk untuk kebutuhan sektor industri melalui penyaluran PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan, pengaliran swap gas multi-pihak ini memastikan tambahan pasokan untuk kebutuhan industri dalam negeri dapat terjaga dengan baik.

""Skema ini hanya mungkin terlaksana melalui kerja sama erat antara kontraktor hulu, pembeli gas, dan pemerintah. Dengan langkah ini, stabilitas pasokan domestik tetap terjamin, sementara kontrak lain yang sudah berjalan tetap terlaksana,"jelas dia dalam keterangan tertulis, Jumat (22/8/2025).

Perjanjian swap gas multi-pihak ini melibatkan sejumlah kontraktor hulu dan pembeli gas, antara lain West Natuna Supply Group (Medco E&P Natuna Ltd., Premier Oil Natuna Sea B.V., Star Energy (Kakap) Ltd.), South Sumatra Sellers (Medco E&P Grissik Ltd., PetroChina International Jabung Ltd.), PT Pertamina (Persero), PGN, Sembcorp Gas Pte Ltd., serta Gas Supply Pte Ltd.

Dari kesepakatan tersebut, volume gas sebesar 27 BBTUD dari West Natuna Supply Group akan dialirkan ke PGN melalui Medco E&P Grissik Ltd. dan PetroChina International Jabung Ltd. Skema swap ini dinilai strategis karena mampu menyeimbangkan kebutuhan domestik tanpa mengganggu kontrak lain yang sudah berjalan.

Prioritaskan Industri Eksisting

SKK Migas pastikan pasokan gas bumi terjaga lewat mekanisme SWAP Gas Multi Pihak. (Dok SKK Migas)

SKK Migas menegaskan bahwa mekanisme swap gas multi-pihak merupakan langkah strategis untuk menjaga pasokan energi nasional tetap stabil. Tambahan suplai ini diprioritaskan bagi industri eksisting agar operasional mereka tidak terganggu akibat keterbatasan gas.

Meski demikian, SKK Migas mengingatkan bahwa skema ini bukan berarti seluruh industri atau pemain baru akan langsung mendapatkan alokasi gas tambahan. Fokus utama tetap memastikan kebutuhan sektor yang sudah berjalan bisa terpenuhi.

Lebih jauh, SKK Migas menyoroti bahwa minyak dan gas bumi merupakan sumber daya tak terbarukan yang suatu saat akan habis jika tidak ditemukan cadangan baru. Karena itu, keberadaan skema swap ini hanya menjadi solusi jangka pendek, sementara eksplorasi dan penemuan lapangan baru tetap menjadi tantangan utama bagi ketahanan energi Indonesia.

Eksplorasi Penuh Tantangan

Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi yaitu Satuan Kerja Khuhsus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Migas dan Gas Bumi (SKK Migas) (Dok. SKK Migas Sumbagsel / Nefri Inge)

SKK Migas juga memaparkan kondisi eksplorasi migas di Indonesia yang masih penuh tantangan. Meskipun tingkat keberhasilan eksplorasi telah meningkat dari 10:1 menjadi 10:3, risiko kegagalan tetap tinggi, yakni sekitar 70 persen. Sebagian besar potensi gas juga berada di daerah terpencil, khususnya offshore, yang membuat biaya eksplorasi semakin mahal.

Dukungan terhadap inisiatif swap gas ini datang dari MedcoEnergi. Direktur & Chief Operating Officer MedcoEnergi, Ronald Gunawan, menyampaikan, “MedcoEnergi menyampaikan apresiasi atas koordinasi yang dipimpin SKK Migas dan kerja sama seluruh pihak dalam inisiatif ini. Disamping itu MedcoEnergi juga berpartisipasi untuk menambah pasokan gas dari wilayah Blok South Sumatra untuk terus berperan aktif menjaga ketahanan energi nasional.”

Kolaborasi multi-pihak ini dinilai menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung ketahanan energi Indonesia sekaligus memastikan industri dalam negeri tetap berjalan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya