Cuaca Ekstrem Masih Hantui Sejumlah Wilayah di Indonesia, Waspada Banjir hingga Longsor

Masyarakat di wilayah terkait juga diminta untuk menjauhi area terbuka, pohon, atau bangunan rapuh saat hujan deras berlangsung.

oleh Winda NelfiraDiperbarui 20 Agustus 2025, 11:54 WIB
Sejumlah kendaraan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/2/2022). BMKG mengungkapkan potensi curah hujan meningkat dan cuaca ekstrem sepanjang 17-23 Februari 2022. Sejumlah wilayah diminta waspada dampak yang terjadi dari cuaca buruk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 22–25 Agustus 2025.

Cuaca di Indonesia pada periode tersebut secara umum cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang tetap perlu diwaspadai, khususnya di wilayah yang telah masuk kategori peringatan dini.

 

Wilayah Berstatus Waspada hingga Siaga

Pedagang menjajakan jas hujan saat hujan deras di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (23/11/2022). Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Isnawa Adji mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah apabila Jakarta mengalami cuaca ekstrem. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Adapun wilayah dengan status waspada meliputi Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.

“Sementara itu, wilayah dengan status Siaga berpotensi hujan lebat terjadi di Sumatera Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan,” kata Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (20/8/2025).

Sementara itu, potensi angin kencang, diprediksi dapat terjadi di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.

“Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak berupa pohon tumbang, gangguan transportasi, hingga kerusakan infrastruktur ringan,” ucap Andri.

Waspada Pohon Tumbang

Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah terkait juga diminta untuk menjauhi area terbuka, pohon, atau bangunan rapuh saat hujan deras berlangsung.

Kemudian, masyarakat di sejumlah wilayah dari Jambi hingga Papua juga diimbau mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia

Andri mengungkapkan, kondisi atmosfer dalam sepekan ke depan masih cukup aktif dan kompleks. Hal ini karena adanya faktor pemicu berupa nilai Dipole Mode negatif (-0,84) yang meningkatkan pasokan uap air di Samudra Hindia bagian barat Sumatera.

Ada pula faktor lain, yakni fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) fase 3 menuju fase 4, serta aktivitas gelombang tropis seperti Kelvin, Mixed Rossby-Gravity, dan Low Frequency.

“Selain itu, sirkulasi siklonik yang teridentifikasi di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra turut memicu terbentuknya daerah konvergensi yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” jelas Andri.

Kombinasi faktor-faktor ini lah yang diperkirakan meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat, angin kencang, serta gelombang laut tinggi di beberapa wilayah Indonesia. Dengan kondisi atmosfer yang masih aktif ini, maka masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.

“Kewaspadaan dan kesiapsiagaan akan membantu mengurangi risiko kerugian maupun korban akibat bencana hidrometeorologi,” ucap Andri.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya