Pekerjakan 8,7 Juta Orang, Sektor Konstruksi Serap 5,9% Tenaga Kerja di Indonesia

Sektor konstruksi jadi salah satu sektor terbesar penyumbang kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) di semester I 2025.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 19 Agustus 2025, 14:15 WIB
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan pekerjaan preservasi jalan nasional pada ruas Sumberjati–Batas Kabupaten Banyuwangi. (Foto: Kementerian PU)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan, sektor konstruksi masih jadi salah satu sektor yang berperan besar terhadap pertumbuhan ekonomi hingga penyerapan tenaga kerja.

Mengutip survei angkatan kerja nasional (Satkernas) di Februari 2025, ia menyebut sektor konstruksi telah menyerap lebih dari 8,7 juta orang tenaga kerja di Indonesia.

"Sektor konstruksi ini menyerap lebih dari 8,7 juta orang, atau sekitar 5,97 persen dari total penduduk bekerja di Indonesia," jelas Amalia di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta, Selasa (19/8/2025).

Menurut dia, angka ini menunjukan bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya menyokong pertumbuhan ekonomi, tapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Apalagi sektor konstruksi itu dipercayai sektor yang relatif padat karya dibandingkan dengan sektor-sektor lain, setelah sektor pertanian tentunya," imbuh dia.

Tak hanya dari sisi tenaga kerja, sektor konstruksi jadi salah satu sektor terbesar penyumbang kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) di semester I 2025.

"Pada triwulan II 2025, BPS mencatat sektor konstruksi memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB Indonesia. Yaitu share dari sektor konstruksi adalah 9,48 persen, terbesar keempat setempat sektor industri, pertanian, dan perdagangan," bebernya.

 

BPS dan Kementerian PU Jalin Kerja Sama

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo dalam sesi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Selasa (19/8/2025). (Liputan6.com/Maulandy)

Memanfaatkan catatan itu, BPS bersama Kementerian PU menandatangani kesepakatan bersama tentang penyediaan, pemanfaatan, dan pengembangan data serta informasi statistik bidang pekerjaan umum. Guna menambah analisis Incremental Capital Output Ratio (ICOR) hingga tingkat sektoral maupun regional.

Amalia mengutarakan, ICOR jadi salah satu indikator menilai efisiensi suatu investasi dalam perekonomian, termasuk untuk pembangunan infrastruktur.

"ICOR ini menggambarkan, seberapa besar investasi yang diperlukan untuk menghasilkan tambahan satu unit output dalam perekonomian. Semakin rendah angka ICOR, semakin efisien investasi yang dilakukan," ungkapnya.

 

Tak Hanya Soal Besaran Investasi

Dipaparkan Amalia, tinggi rendahnya ICOR tidak hanya dipengaruhi oleh besaran investasi, namun juga oleh berbagai faktor semisal kualitas tenaga kerja, teknologi, dan produktivitas sektor-sektor ekonomi.

"Dengan nanti adanya integrasi data spasial, data stok dan kualitas infrastruktur serta data investasi sektoral di bidang infrastruktur perhitungan ICOR bisa lebih presisi dalam mengukur efisiensi pembangunan infrastruktur," pungkas Amalia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya