Liputan6.com, Jakarta - Autisme sebagai ragam disabilitas bukanlah hambatan, melainkan keberagaman yang harus dihargai.
Hal ini disampaikan Project Director Walk For Autism (WFA) 2025, Ryan Santoso. WFA adalah acara tahunan yang dilakukan dengan berjalan kaki bersama sekaligus menyuarakan dukungan terhadap individu dengan spektrum autisme.
Advertisement
"Melihat ribuan orang berkumpul di sini dengan satu tujuan yang sama, hati saya sangat terharu. Acara ini bukan hanya tentang berjalan, tapi tentang menyatukan langkah kita untuk menciptakan kesadaran bahwa autisme bukanlah hambatan, melainkan bagian dari keberagaman yang harus kita hargai," ujar Ryan dalam WFA 2025 di Jakarta, Minggu, 10 Agustus.
WFA kali ini diikuti ribuan peserta dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, keluarga, hingga tokoh masyarakat. Mereka memadati area Plaza Senayan (Fountain Area) pada minggu pagi kemudian berjalan bersama menempuh rute yang telah ditentukan, sembari mengibarkan spanduk dan mengenakan atribut berwarna-warni sebagai simbol dukungan.
“Kegiatan jalan pagi ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan sebuah pernyataan kuat untuk merangkul dan mendukung individu dalam spektrum autisme di seluruh Indonesia,” mengutip keterangan resmi.
Ryan menambahkan, setiap langkah yang diambil oleh para peserta memiliki makna mendalam.
"Satu langkah kecil yang kita ambil hari ini membawa dampak besar bagi kehidupan banyak individu autis dan keluarga mereka. Ini adalah bukti bahwa kita peduli dan siap menjadi komunitas yang lebih inklusif," tegasnya.
Dukungan untuk Individu Autisme adalah Tanggung Jawab Bersama
Dalam kesempatan yang sama, Local President JCI Nusantara 2025, Dr. Chandra Lohisto, menyoroti pentingnya kolaborasi antar-organisasi dalam mewujudkan misi sosial.
"Kami dari JCI Nusantara sangat bangga bisa menjadi bagian dari gerakan positif ini. Misi kami untuk memberdayakan kaum muda sejalan dengan visi WFA untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan lebih inklusif," jelas Chandra.
Menurutnya, partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya generasi muda, adalah kunci untuk menciptakan perubahan.
"Kami percaya, dengan semangat kolaborasi dan kepemimpinan yang kuat, kita bisa menciptakan dunia di mana setiap orang, termasuk individu autis, mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang. Acara hari ini adalah manifestasi nyata dari komitmen tersebut," tambahnya.
Kegiatan WFA 2025 diakhiri dengan berbagai pertunjukan dan sesi edukasi, menggarisbawahi pesan bahwa dukungan terhadap autisme adalah tanggung jawab bersama.
Acara ini menjadi pengingat bahwa kekuatan komunitas dapat mengubah pandangan, menumbuhkan empati, dan membangun masa depan yang lebih cerah bagi semua.