Liputan6.com, Jakarta - Menopause adalah fase alami dalam kehidupan wanita yang sering disertai gejala yang mengganggu. Salah satu yang paling umum adalah hot flashes, yaitu rasa panas mendadak yang dapat disertai keringat, rasa dingin, cemas, hingga jantung berdebar.
Mengutip Best Life, 15 Agustus 2025, American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa 8 dari 10 wanita menopause mengalaminya. Sekitar sepertiga wanita mengalami lebih dari 10 hot flashes per hari.
Advertisement
Kondisi ini dapat mengganggu tidur, memengaruhi suasana hati, dan berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada pola makan yang mampu mengurangi gejala ini secara signifikan.
Penelitian tersebut menemukan bahwa diet nabati rendah lemak yang disertai setengah cangkir kedelai matang setiap hari dapat menurunkan hot flashes hingga 92 persen. Hasil ini memberi harapan bagi wanita yang ingin melewati masa menopause dengan gejala yang lebih ringan tanpa harus mengandalkan obat-obatan atau perawatan medis lain.
Laporan yang diterbitkan di jurnal Menopause meneliti 84 wanita pascamenopause berusia 40 hingga 65 tahun yang mengalami setidaknya dua hot flashes dengan tingkat sedang hingga berat setiap hari.
Separuh peserta mengikuti diet vegan rendah lemak yang kaya buah, sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan, ditambah setengah cangkir kedelai matang setiap hari. Separuh lainnya menjadi kelompok kontrol tanpa perubahan pola makan.
Pola Makan Nabati dan Penurunan Hot Flashes
Kedua kelompok tetap mengonsumsi suplemen vitamin B-12, membatasi alkohol maksimal satu minuman per hari, serta mempertahankan rutinitas olahraga dan obat yang biasa dikonsumsi. Tidak ada larangan konsumsi makanan olahan pada kedua kelompok.
Hasilnya menunjukkan, penurunan 92 persen hot flashes berat pada kelompok vegan. Selain itu, hot flashes sedang hingga berat berkurang 88 persen, sedangkan kelompok kontrol hanya turun 34 persen.
Rata-rata penurunan berat badan pada kelompok vegan mencapai hampir empat kilogram, sedangkan kelompok kontrol hanya sekitar 0,2 kg. Menurut Susan Haas, "Studi ini menunjukkan bahwa pola makan nabati juga dapat membantu hot flashes, dan tidak masalah mendapatkan makanan nabati dari makanan olahan yang biasa ditemukan di toko.”
Peran Kedelai dalam Mengurangi Gejala Menopause
Kedelai menjadi bagian penting dalam pola makan yang diteliti. Setengah cangkir kedelai matang dikonsumsi setiap hari oleh peserta di kelompok vegan. Kandungan dalam kedelai terbukti berkontribusi pada penurunan intensitas dan frekuensi hot flashes.
Penelitian tahun 2023 di jurnal Complementary Therapies in Medicine juga menemukan bahwa diet vegan rendah lemak yang disertai kedelai dapat mengurangi hot flashes hingga 95 persen. Di penelitian tersebut, kelompok vegan mengalami penurunan hot flashes sedang hingga berat sebesar 95 persen, penurunan hot flashes siang hari sebesar 96 persen, dan penurunan hot flashes malam hari sebesar 94 persen.
“Diet vegan juga menghindari daging dan produk susu yang tinggi lemak jenuh, serta mengandung senyawa bernama advanced glycation end-products. Kedua hal ini dapat memicu peradangan yang ikut berperan dalam munculnya hot flashes,” jelas Hana Kahleova dari Physicians Committee for Responsible Medicine.
Manfaat Tambahan dari Diet Vegan
Penelitian dari jurnal Menopause menyatakan bahwa mengganti konsumsi makanan hewani, baik yang minim proses maupun olahan tinggi dengan makanan nabati, dalam konteks diet vegan yang disertai kedelai, berhubungan dengan penurunan berat badan dan berkurangnya hot flashes berat secara signifikan.
Menurut Katie Jo Light, MD, hasil penelitian ini menantang anggapan bahwa diet nabati harus bersih atau minim proses untuk efektif. Meski begitu, ia tetap merekomendasikan untuk meminimalkan makanan olahan jika memungkinkan.
Susan Haas menambahkan, “Kenaikan berat badan adalah masalah umum saat menopause, dan pola makan nabati terbukti dapat menurunkan berat badan serta memberikan manfaat metabolisme lainnya.”
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa manfaat pola makan nabati tidak hanya terbatas pada gejala menopause, tapi juga pada kesehatan secara keseluruhan. Bagi banyak wanita, penurunan berat badan, perbaikan metabolisme, dan pengurangan risiko penyakit jantung menjadi alasan tambahan untuk mempertimbangkan perubahan pola makan ini.