Wujudkan 3 Juta Rumah, Prabowo Siap Guyur APBN untuk 770 Ribu Unit di 2026

Presiden Prabowo Subianto mengatakan memastikan program 3 juta rumah masih akan terus dijalankan pada 2026.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 15 Agustus 2025, 17:45 WIB
Pekerja menyelesaikan pembangunan rumah bersubsidi di Ciseeng, Bogor, Jawa Barat, Rabu (16/2/2021). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. meyakini tahun ini menjadi tahun pemulihan bagi sektor properti khususnya rumah tapak. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan digelontorkan untuk 770 ribu rumah pada 2026. Ini menjadi bagian dari program 3 juta rumah.

"Total jumlah rumah yang akan mendapat dukungan APBN 2026 adalah 770 ribu rumah," kata Prabowo dalam Penyampaian RUU APBN 2026 dan Nota Keuangan pada Sidang Paripurna DPR RI, di Jakarta, Jumat (15/8/2025).

Dia memastikan program 3 juta rumah masih akan terus dijalankan pada 2026. Ada beberapa skema yang akan dilakukan untuk mengejar target tersebut, di antaranya Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Pada 2025, kuota FLPP adalah sekitar 350 ribu rumah.

Kemudian, ada Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di wilayah desa, kota, dan kawasan pesisir.

"Serta dukungan PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) untuk rumah komersil dalam mendukung pembangunan rumah yang layak huni dan terjangkau," tuturnya.

 

Rumah Subsidi untuk Buruh

Sejak diumumkan pada awal September lalu, penambahan 34 ribu unit rumah subsidi belum juga terealisasikan. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, atau yang akrab disapa Ara, memaparkan kenaikan kuota rumah subsidi bagi buruh atau tenaga kerja dari 20 ribu menjadi 50 ribu unit. Keputusan ini dipaparkan usai menerima permintaan tambahan dari Kementerian Ketenagakerjaan.

"Dan tadi Komisioner Tapera Pak Heru meminta tambahan kuota ya, dan saya tanya sama Bapak Menteri, Bapak Menteri mengajukan tambahan dari 20 ribu menjadi berapa? 50 ribu, dan saya langsung setuju," ujar Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, dalam konferensi pers di Kantor Kemnaker Jakarta Selatan, pada Kamis (14/8/2025).

Dirinya menjelaskan, tiga bulan lalu ia bersama Menaker menandatangani kesepakatan kuota rumah subsidi untuk buruh sebanyak 20 ribu unit. Namun, karena menilai kebijakan rumah murah ini sangat diminati oleh buruh, Menteri PKP menyepakati penambahan kuota rumah subsidi tersebut menjadi 50 ribu unit. Hingga saat ini, BP Tapera mencatat sudah 36.629 unit terealisasi.

 

Penyerahan Kunci Rumah Subsidi

Suasana Perumahan Griya Samaji, Cieseng, Bogor, Rabu (19/2/2020). Bank Tabungan Negara (BTN) pada 2019 telah merealisasikan 735.000 rumah dalam Program pemerintah satu juta rumah dengan kredit kepemilikan rumah bersubsidi sekitar Rp 111 trilyun. (merdeka.com/Arie Basuki)

Hari ini, berdasarkan data yang dirilis oleh BP Tapera, tercatat sudah ada 36.629 unit rumah subsidi yang kuncinya telah diserahkan kepada penerima. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 183 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Sebelumnya, pada 10 April 2025, Menteri PKP, Menaker, dan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menandatangani Nota Kesepahaman tentang Dukungan Perumahan Subsidi untuk Pekerja/Buruh. Saat itu, kuota awal ditetapkan 20 ribu unit untuk buruh atau pekerja di berbagai wilayah Indonesia.

Menaker menambahkan, program rumah subsidi ini merupakan bentuk perhatian Presiden RI kepada buruh dan tenaga kerja. Program ini juga berjalan karena kerja sama lintas kementerian.

"Artinya, kebijakan Presiden Prabowo menaikkan kuota rumah subsidi dari 220 ribu menjadi 350 ribu unit adalah langkah tepat," ujarnya.

Infografis Serba-serbi Rumah Ramah Lingkungan. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya