BSKDN: Tarif Bea Masuk AS 19 Persen Jadi Momentum Kembangkan Energi Terbarukan dari Sampah

Noudy mengatakan, Isu lingkungan juga dapat menjadi faktor penentu daya saing global.

oleh Tim NewsDiperbarui 13 Agustus 2025, 08:35 WIB
Sekretaris BSKDN, Noudy R.P. Tendean, saat membuka Forum Diskusi Aktual (FDA) bertajuk Peluang Investasi Asing di Indonesia sebagai Dampak Positif Kebijakan Tarif AS 19% Terhadap Sektor Waste-to-Energy. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kemendagri, Noudy R.P. Tendean, menilai kebijakan tarif bea masuk 19% yang diterapkan Amerika Serikat terhadap produk Indonesia dapat menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan energi terbarukan, khususnya Waste-to-Energy (WtE).

"Isu lingkungan juga dapat menjadi faktor penentu daya saing global. Oleh karena itu, kami memandang penting untuk membangun kolaborasi internasional yang proaktif," ujarnya saat membuka Forum Diskusi Aktual (FDA) bertajuk Peluang Investasi Asing di Indonesia sebagai Dampak Positif Kebijakan Tarif AS 19% Terhadap Sektor Waste-to-Energy, Selasa (12/8/2025).

Forum tersebut membahas tantangan pengelolaan sampah di berbagai daerah, seperti Kabupaten Aceh Selatan, Situbondo, Konawe Kepulauan, Wajo, dan Kota Pekalongan. Beberapa langkah strategis dirumuskan, antara lain percepatan kebijakan turunan yang memberi kepastian hukum, kemudahan perizinan, insentif bagi sektor swasta, serta jaminan pembelian energi hasil olahan sampah untuk menarik investasi.

Sejumlah model teknologi WtE turut dipaparkan, mulai dari waste-to-steam berbasis Life Cycle Carbon Neutral (LCCN) untuk kawasan industri dengan volume sampah besar, Refuse-Derived Fuel (RDF) untuk volume menengah, hingga digestasi anaerobik bagi daerah dengan timbulan sampah kecil hingga menengah. "Setiap teknologi memiliki karakteristik teknis, kebutuhan volume, dan syarat pendukung berbeda, sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi daerah," jelas Noudy.

 

Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor

Perwakilan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal, Ahmad Safrudin, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, kerja sama internasional, pendanaan inovatif, dan transfer teknologi rendah karbon.

Ia juga menyoroti perlunya pendidikan publik dan penerapan pemilahan sampah terintegrasi dalam kurikulum sekolah.

"Dari tahun ke tahun kita memiliki problem seperti ini (penumpukan sampah), kita perlu pendidikan publik ke masyarakat dan sekolah-sekolah, karena ini pondasi keberhasilan pengelolaan sampah," pungkasnya.

Infografis Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi Tembus 8 Persen. (Liputan6.com/Abdillah)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya