Titik Banjir di Kota dan Kabupaten Tangerang, Ketinggian Air 30 sampai 80 Cm

BMKG mengatakan, hujan lebat di wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir merupakan hasil interaksi kompleks sejumlah fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan.

oleh Pramita TristiawatiDiperbarui 12 Agustus 2025, 22:17 WIB
Banjir di Tangerang (Foto: Pramitha Tristiawati/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Hujan deras yang mengguyur Kota Tangerang dan sekitarnya sejak dua hari terakhir membuat beberapa kawasan permukiman dan akses jalan, terendam banjir. Sampai Selasa (12/8/2025) malam, ketinggian air bervariasi 30 hingga 80 cm.

"Sementara yang terlaporkan di Perumahan Magnolia Jatiuwung, Jembatan Alamanda Periuk, Perumahan Cipulir Estate di Larangan, dan di bawah atau kolong fly over Taman Cibodas dampak dari luapan Kali Sabi," kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar, kepada wartawan.

Saat ini, katanya, petugas BPBD masih siaga di lokasi bencana banjir, lengkap dengan alat penunjang, seperti perahu karet untuk evakuasi warga.

Banjir di Kelurahan Bencongan Kabupaten Tangerang

Kondisi banjir juga terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang. Salah satu wilayah terdampak yakni Kelurahan Bencongan, Kelapa Dua. Lebih dari 500 kepala keluarga di sana terdampak banjir. Beruntung malam ini kondisi air mulai surut.

"Seperti di RW 25 ini, ada 900 jiwa yang terdampak. Awalnya kami terima laporan ketinggian banjir hingga 60 cm, tapi sampai malam ini berangsur surut," ujar Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik.

Meski wilayahnya terendam banjir, sejumlah warga enggan dievakuasi lantaran sudah melakukan langkah antisipasi sebelumnya. Mereka yang memiliki rumah dua lantai memilih mengungsi ke atas.

"Tapi tetap ada petugas yang siaga, lengkap dengan perahu karet. Sebab kesulitan kami, akses gang yang sempit," ujarnya

BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut

Warga menggunakan payung saat hujan mengguyur kawasan Monas, Jakarta Pusat, Kamis (5/1/2023). Warga diharapkan waspada serta mempersiapkan diri dengan perubahan cuaca yang akan terjadi selama satu pekan ke depan. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, hujan lebat yang melanda wilayah Jabodetabek dalam beberapa hari terakhir merupakan hasil dari interaksi kompleks sejumlah fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan.

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan hasil analisis terkini menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari Indeks Dipole Mode (DMI) negatif, aktivitas gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO), beberapa sirkulasi siklonik, serta anomali suhu muka laut yang hangat di sekitar wilayah Indonesia.

"Kombinasi faktor-faktor ini secara kolektif meningkatkan pembentukan awan hujan masif dan memicu curah hujan yang sangat tinggi di berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek," kata Andri kepada Liputan6.com, Selasa (12/8/2025).

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer tersebut, BMKG pun telah mengeluarkan peringatan dini sejak 11 Agustus 2025. Peringatan ini menyoroti mengenai potensi meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air akibat cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan di berbagai wilayah Indonesia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya