Liputan6.com, Beijing - Transformasi besar tengah berlangsung di lanskap digital China. Apa yang dulu menjadi ruang ekspresi—meski harus dilalui dengan hati-hati—kini berubah menjadi keheningan hampir total. Internet di negara itu bukan lagi sekadar disensor, tetapi dibatasi secara sistematis.
Dalam beberapa pekan terakhir, pengguna di berbagai platform besar seperti WeChat, QQ, dan Douyin melaporkan lonjakan pengawasan yang mengkhawatirkan. Pesannya jelas: tak ada lagi yang berani bersuara, dikutip dari laman Maldivesinsight, Senin (11/8/2025).
Advertisement
Menurut sumber industri, Administrasi Dunia Maya Tiongkok (CAC) telah mengeluarkan perintah luas kepada seluruh platform besar untuk memasang sistem pencarian kata kunci tingkat lanjut dan analisis data sekunder. Tujuannya bukan hanya memantau percakapan terkini, tetapi juga menggali arsip digital pengguna—mulai dari riwayat obrolan, pesan suara, gambar, hingga jejak "like" bertahun-tahun lalu.
Teknologi kecerdasan buatan kini memindai data dalam jumlah masif secara real-time. Sistem tersebut mampu mengenali teks, suara, homofon, emoji, hingga teks tersembunyi dalam gambar. Jaringan pengawasan ini begitu rapat, sehingga metode "bahasa sandi" yang dulu ampuh untuk menghindari sensor kini tak lagi berguna.
Seorang warga Beijing mengaku dua kali dipanggil polisi siber hanya karena mengetik dua karakter Mandarin yang terlihat sepele di grup WeChat. Petugas yang menemuinya berkata, "Begitu Anda menyebut namanya, kami harus bertindak," merujuk pada sosok politik yang dianggap sensitif. Artinya, bahkan isyarat sekecil apa pun kini dapat memicu intervensi.
Skala operasi ini mencengangkan. Di Beijing saja, puluhan ribu polisi siber bekerja tanpa henti, memantau riwayat obrolan, unggahan ulang, hingga pola perilaku pengguna layaknya penyelidikan kriminal. Semua platform kini terhubung ke sistem pemantauan opini publik terpusat yang menandai konten mencurigakan 24 jam sehari. Konten yang ditandai akan diperiksa secara manual.
Pengawasan ini tak hanya menyasar apa yang diucapkan, tetapi juga bagaimana pengguna berinteraksi—mulai dari tombol "like" yang ditekan, unggahan yang dibagikan, hingga berapa lama sebuah video ditonton. Semua itu membentuk profil perilaku yang lengkap.
Seorang netizen dari Henan bercerita bahwa akunnya sudah diblokir belasan kali, bahkan saat ia tak memposting apa pun. Ada pula yang mengalami "shadow banning", di mana komentarnya hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri—sebuah bentuk sensor diam-diam yang memutus pengaruh pengguna tanpa mereka sadari.
Penggunaan Layanan Internet
Raksasa teknologi Tiongkok seperti Tencent, ByteDance, Baidu, dan Alibaba kini bukan sekadar penyedia layanan, tetapi dinilai banyak pihak sebagai perpanjangan tangan pengawasan negara. Mereka diwajibkan menanggapi perintah pemerintah secara cepat, menghapus unggahan, memblokir akun, dan menyerahkan data pengguna ketika ada potensi "masalah". Beberapa platform bahkan membentuk tim khusus yang berkoordinasi 24 jam dengan aparat, bukan sekadar bereaksi terhadap perbedaan pendapat, tetapi mencegahnya sejak dini.
Algoritma pun digunakan untuk mengidentifikasi risiko dari riwayat aktivitas. Satu "like" atau unggahan ulang yang dilakukan berbulan-bulan lalu bisa memicu konsekuensi serius. Metode lama untuk menghindari sensor—seperti penggunaan pinyin, homofon, atau emoji berkode—kini tak lagi manjur. Aparat mampu menafsirkan bahkan pesan paling terselubung sekalipun.
Akibatnya, banyak pengguna memilih diam. Mereka hanya berbagi tangkapan layar berita dari media luar negeri atau tautan terenkripsi menuju sumber independen. Risiko berbicara kini tak hanya berupa pemblokiran akun. Jika komentar dinilai terorganisir atau menyebar luas, konsekuensinya bisa berupa panggilan polisi, penahanan administratif, atau bahkan tuntutan pidana.
Masalah Kebebasan
Langkah ini dianggap sebagai eskalasi berbahaya: kebebasan berbicara bukan hanya ditekan, tetapi juga dikriminalisasi. Batasan hukuman semakin rendah, sehingga komentar yang dulu dianggap remeh bisa dipandang sebagai tindakan subversif.
Internet Tiongkok memang tak pernah sepenuhnya bebas. Namun, sebelumnya masih ada celah—dari satir, bahasa kode, hingga kritik tak langsung—yang memungkinkan warganya bermain di batas kebebasan berbicara. Kini, semua ruang itu telah tertutup rapat. Pengawasan negara begitu masif dan canggih hingga bahkan kesunyian pun terasa diawasi.
Apa yang terjadi bukan sekadar pengetatan, melainkan perombakan total kehidupan digital. Internet yang dulunya menjadi alat untuk terhubung dan berekspresi, kini berubah menjadi instrumen kendali. Dampaknya nyata: warga memilih menyensor diri, bukan karena hati-hati, tetapi karena takut. Biaya berbicara, bahkan secara tersirat, terlalu mahal untuk ditanggung.